Banyumas Miliki Banyak Potensi Wisata Edukasi

image_1

Kabupaten Banyumas memiliki banyak potensi wisata edukasi, namun belum digarap secara serius. Diperlukan narasi yg informatif tentang nilai edukasi di setiap objek. Baca di:

https://jateng.antaranews.com/berita/197337/banyumas-miliki-banyak-potensi-wisata-edukasi

Iklan

Wisata Edukasi

image_1

Promosi wisata edukasi perlu ditingkatkan sebagai alternatif destinasi yang dapat menarik minat wisatawan khususnya generasi muda. Pemerintah pusat maupun daerah perlu melakukan promosi destinasi wisata edukasi ke sekolah-sekolah serta media sosial. Selengkapnya simak di:

https://jateng.antaranews.com/berita/196806/promosi-wisata-edukasi-perlu-ditingkatkan

Pentingnya Diversifikasi Produk Wisata

image_16

Lokawisata Baturraden, Kab Banyumas mengalami lonjakan pengunjung selama libur lebaran. Pemkab tak boleh berpuas diri dan terlena. Diperlukan diversifikasi produk wisata agar berkesinambungan. Simak di: https://www.suaramerdeka.com/smcetak/baca/98597/jangan-terlena

Memaknai Kembali Lebaran

16807363_750739158410529_3724429673708713941_n

Lebaran bagi masyarakat Indonesia sarat dengan  tradisi dan budaya. Seremoni dalam perayaan lebaran  terasa begitu kental. Meski ramadhan baru dimulai, namun nuansa lebaran sudah mulai tampak. Harga kebutuhan pokok melonjak. Tiket bus dan kereta api lebaran pun ludes terjual jauh sebelum hari H lebaran..

Lebaran dalam perspektif komunikasi selalu kontekstual dengan lingkup sosial budaya masyarakat Indonesia.  Teknologi komunikasi dan informasi telah menjadi bagian dari peradaban masyarakat. Telepon seluler, teknologi 3G, bbm, dan SMS ( short message service )  sudah akrab bagi masyarakat. SMS  telah menggeser peran kartu lebaran yang dahulu dikirim lewat jasa pos.

Meski demikian,  komunikasi sosial dan interpersonal dalam momentum lebaran ternyata tidak mudah tergantikan oleh komunikasi bermedia. Kehadiran personal secara fisik di tengah lingkungan keluarga dan masyarakat saat lebaran masih dianggap penting. Mudik, pulang kampung, dan tradisi bersalam – salaman tetap saja menjadi bagian dari ritual lebaran. Lebaran lebih  menjadi momentum komunikasi sosial dan interpersonal ketimbang mometum intrapersonal- transendental berupa kontemplasi dan introspeksi untuk kembali ke fitrah.

Konteks fisik dan sosial dalam lebaran tidak lepas dari karakteristik masyarakat Indonesia yang atributif. Masyarakat atributif sangat menghargai simbol, lambang, atau atribut  sebagai penanda status dan posisi sosial seseorang. Tidak heran, menjelang lebaran tiba segala hal yang berkaitan dengan atribut itu harus disiapkan. Pagar rumah dicat, baju baru disiapkan, jajanan, opor ayam, ketupat, dan segala atribut lebaran menandai “kesiapan” sosial seseorang  menyambut lebaran. Tanpa atribut tersebut orang akan merasa dianggap tidak siap berlebaran.

Visualisasi atribut dipandang penting dalam konteks komunikasi lebaran. Mudik dijadikan momentum kebanggaan bagi seseorang untuk menunjukkan perkembangan atribut yang telah berhasil dicapainya di tempat lain. Orang akan dianggap berhasil secara sosial, jika saat lebaran pulang kampung dengan  mobil baru atau bercerita tentang  jabatan baru. Puncak kenikmatan  berpuasa bukan pada perasaan haru saat sholat ied, tapi justru pada keriangan di tengah kemacetan arus mudik. Tanpa atribut seremoni lebaran dan atribut kebaruan, seseorang masih dipandang belum berhasil.

Memaknai Lebaran

Memang tidak serta merta salah dari tradisi dan seremoni lebaran yang sudah berlangsung sejak dahulu itu. Mudik lebaran bisa menjadi upaya continuum sosial kultural ketika seseorang merantau ke lain daerah. Sehingga orang tidak tercerabut dari akar budayanya. Tradisi mudik lebaran juga dapat berfungsi  membangun soliditas, kohesitas, dan solidaritas sosial seseorang dengan daerah asalnya.

Tradisi lebaran akan menjadi bermasalah ketika seremoni atributif lebih dihargai ketimbang substansi religiusitas iedul fitri. Lebaran akan hanya menjadi tradisi tanpa makna saat ekses yang ditimbulkan dari mudik dan atribut kebaruan itu tidak dibarengi dengan peningkatan kadar religiusitas seseorang.

Nilai sosial kultural lebaran dipandang lebih penting dibanding nilai-nilai moral yang terkandung di dalamnya.  Sungguh ironis, jika hanya demi lebaran, misalnya, seseorang harus melakukan tindak kriminal karena tidak punya “modal” untuk mudik. Alih-alih berkumpul bersama sanak saudara di kampung, malah mendekam di balik jeruji besi. Lebaran menjadi tidak afdol bagi seorang pegawai jika tanpa parcel atau bingkisan  untuk pejabat di atasnya. Meski untuk itu, dia harus melakukan korupsi kecil-kecilan.

Mengubah tradisi lebaran yang sudah mengakar di masyarakat tidaklah mudah. Bukan saja kita akan dianggap “tidak sosial”, tetapi juga dianggap tidak menghargai orang tua, keluarga, dan tidak paham makna lebaran. Pemaknaan lebaran lantas diukur dari kacamata sosial, bukan perspektif komunikasi intrapersonal –  transendental seseorang dengan Sang Khalik.

Diperlukan  pemaknaan kembali lebaran, baik dalam perspektif komunikasi maupun sosial budaya. Substansi iedul fitri mesti lebih menjadi acuan ketimbang seremoni tradisi lebaran. Peningkatan keimanan dan ketakwaan, keikhlasan bersedekah, dan solidaritas sosial mesti terbangun secara berkesinambungan setiap lebaran usai.

Kualitas komunikasi intrapersonal – transendental harus dijadikan indikator keberhasilan seseorang sejak ramadhan hingga lebaran. Bukan kebaruan yang atributif semata.

Artikel ini pernah dimuat dengan judul: Cara Memaknai Kembali Lebaran, Suara Merdeka, 21 Juli 2014.

Memaknai Kembali Lebaran

 

16807363_750739158410529_3724429673708713941_n

Lebaran bagi masyarakat Indonesia sarat dengan  tradisi dan budaya. Seremoni dalam perayaan lebaran  terasa begitu kental. Meski ramadhan baru dimulai, namun nuansa lebaran sudah mulai tampak. Harga kebutuhan pokok melonjak. Tiket bus dan kereta api lebaran pun ludes terjual jauh sebelum hari H lebaran..

Lebaran dalam perspektif komunikasi selalu kontekstual dengan lingkup sosial budaya masyarakat Indonesia.  Teknologi komunikasi dan informasi telah menjadi bagian dari peradaban masyarakat. Telepon seluler, teknologi 3G, bbm, dan SMS ( short message service )  sudah akrab bagi masyarakat. SMS  telah menggeser peran kartu lebaran yang dahulu dikirim lewat jasa pos.

Meski demikian,  komunikasi sosial dan interpersonal dalam momentum lebaran ternyata tidak mudah tergantikan oleh komunikasi bermedia. Kehadiran personal secara fisik di tengah lingkungan keluarga dan masyarakat saat lebaran masih dianggap penting. Mudik, pulang kampung, dan tradisi bersalam – salaman tetap saja menjadi bagian dari ritual lebaran. Lebaran lebih  menjadi momentum komunikasi sosial dan interpersonal ketimbang mometum intrapersonal- transendental berupa kontemplasi dan introspeksi untuk kembali ke fitrah.

Konteks fisik dan sosial dalam lebaran tidak lepas dari karakteristik masyarakat Indonesia yang atributif. Masyarakat atributif sangat menghargai simbol, lambang, atau atribut  sebagai penanda status dan posisi sosial seseorang. Tidak heran, menjelang lebaran tiba segala hal yang berkaitan dengan atribut itu harus disiapkan. Pagar rumah dicat, baju baru disiapkan, jajanan, opor ayam, ketupat, dan segala atribut lebaran menandai “kesiapan” sosial seseorang  menyambut lebaran. Tanpa atribut tersebut orang akan merasa dianggap tidak siap berlebaran.

Visualisasi atribut dipandang penting dalam konteks komunikasi lebaran. Mudik dijadikan momentum kebanggaan bagi seseorang untuk menunjukkan perkembangan atribut yang telah berhasil dicapainya di tempat lain. Orang akan dianggap berhasil secara sosial, jika saat lebaran pulang kampung dengan  mobil baru atau bercerita tentang  jabatan baru. Puncak kenikmatan  berpuasa bukan pada perasaan haru saat sholat ied, tapi justru pada keriangan di tengah kemacetan arus mudik. Tanpa atribut seremoni lebaran dan atribut kebaruan, seseorang masih dipandang belum berhasil.

Memaknai Lebaran

Memang tidak serta merta salah dari tradisi dan seremoni lebaran yang sudah berlangsung sejak dahulu itu. Mudik lebaran bisa menjadi upaya continuum sosial kultural ketika seseorang merantau ke lain daerah. Sehingga orang tidak tercerabut dari akar budayanya. Tradisi mudik lebaran juga dapat berfungsi  membangun soliditas, kohesitas, dan solidaritas sosial seseorang dengan daerah asalnya.

Tradisi lebaran akan menjadi bermasalah ketika seremoni atributif lebih dihargai ketimbang substansi religiusitas iedul fitri. Lebaran akan hanya menjadi tradisi tanpa makna saat ekses yang ditimbulkan dari mudik dan atribut kebaruan itu tidak dibarengi dengan peningkatan kadar religiusitas seseorang.

Nilai sosial kultural lebaran dipandang lebih penting dibanding nilai-nilai moral yang terkandung di dalamnya.  Sungguh ironis, jika hanya demi lebaran, misalnya, seseorang harus melakukan tindak kriminal karena tidak punya “modal” untuk mudik. Alih-alih berkumpul bersama sanak saudara di kampung, malah mendekam di balik jeruji besi. Lebaran menjadi tidak afdol bagi seorang pegawai jika tanpa parcel atau bingkisan  untuk pejabat di atasnya. Meski untuk itu, dia harus melakukan korupsi kecil-kecilan.

Mengubah tradisi lebaran yang sudah mengakar di masyarakat tidaklah mudah. Bukan saja kita akan dianggap “tidak sosial”, tetapi juga dianggap tidak menghargai orang tua, keluarga, dan tidak paham makna lebaran. Pemaknaan lebaran lantas diukur dari kacamata sosial, bukan perspektif komunikasi intrapersonal –  transendental seseorang dengan Sang Khalik.

Diperlukan  pemaknaan kembali lebaran, baik dalam perspektif komunikasi maupun sosial budaya. Substansi iedul fitri mesti lebih menjadi acuan ketimbang seremoni tradisi lebaran. Peningkatan keimanan dan ketakwaan, keikhlasan bersedekah, dan solidaritas sosial mesti terbangun secara berkesinambungan setiap lebaran usai.

Kualitas komunikasi intrapersonal – transendental harus dijadikan indikator keberhasilan seseorang sejak ramadhan hingga lebaran. Bukan kebaruan yang atributif semata.

Artikel ini pernah dimuat dengan judul: Cara Memaknai Kembali Lebaran, Suara Merdeka, 21 Juli 2014.

Tak Hanya Alam yang Indah, Wisatawan Juga Butuh Jaminan Keamanan

baju orange3

Setiap wisatawan tentu berharap mendapat pengalaman menyenangkan dalam perjalanan wisatanya. Sekecil apa pun gangguan keamanan akan menimbulkan ketakutan dalam berwisata. Simak di: https://lifestyle.okezone.com/read/2018/05/23/406/1901826/tak-hanya-alam-yang-indah-wisatawan-juga-butuh-jaminan-keamanan#lastread

Ramadhan Nan Komunikatif

 

KYAI CHUS2

Ramadhan hanya akan menjadi rutinitas setiap tahun, jika ritual puasa yang dilakukan senantiasa sama dari tahun ke tahun.

Menahan lapar dan haus, menunggu bedug maghrib, tarawih, dan sahur. Karenanya, ramadhan mesti dijadikan momentum untuk menemukan kembali spirit baru ( reinvention moment ).

Menemukan spirit baru ramadhan bisa dilakukan dengan cara sederhana. Sebagai insan komunikasi ( baca: mahasiswa ilmu komunikasi ), reinvention moment bisa dengan menemukan pola dan jaringan komunikasi baru, yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Dengan demikian ramadhan bisa dimaknai sebagai peristiwa komunikatif yang dinamik, kontekstual, dan kontinyu.

Rutinitas ramadhan acapkali menjadikan puasa sebagai momentum ibadah yang normatif dan konvensional. Padahal, sebagai peristiwa komunikatif, ramadhan haruslah meningkat kualitas komunikasinya, baik yang transenden vertikal maupun imanen horisontal. Secara vertikal, ramadhan dapat dimaknai sebagai memahami eksistensi Alloh SWT, lewat kajian firman – firmanNya, serta memaknainya secara kontekstual.

Secara horisontal dilakukan dengan  merekonstruksi pola dan jaringan komunikasi baru yang tidak hanya berlaku sesaat, namun berkelanjutan paska ramadhan. Misalnya, dengan menemukan  teman-teman baru di setiap ramadhan. Jika pada hari-hari biasa mahasiswa selalu berkutat pada teman satu angkatan, jurusan, fakultas, universitas, atau satu daerah; maka ramadhan bisa dijadikan momen  menemukan teman baru dalam membangun pola dan jaringan komunikasi.

Dalam pesrpektif komunikasi, teman bisa dijalin atas dasar kesamaan habit maupun interest. Salah satunya adalah pertemanan untuk menumbuhkan kebiasaan membaca ( reading habit ) selama dan sesudah ramadhan. Jaringan antarteman yang berbeda angkatan, jurusan, fakultas, universitas, atau daerah asal akan membentuk komunitas baca ( reading community ). Lingkup komunitas bisa beragam, mulai dari atas dasar kajian keilmuan, riset, pengabdian masyarakat, hingga hobi.

Pada saat yang sama, komunitas ini  berbagi cerita tentang sumber bacaan, sehingga terbentuk komunitas cerita ( telling community ). Sungguh indah ramadhan bila hari-hari dilalui dengan membaca dan saling bercerita. Oleh karenanya, komunitas tersebut harus terbangun dengan spirit dakwah. Kajian referensi Ilaihiah dijadikan dasar meningkatkan religiusitas (vertikal ),komunitas baca dan cerita dijadikan pola dan jaringan komunikasi dakwah (horisontal).

Alloh SWT lewat Surat Al-Kahfi (28) menegaskan tentang arti penting teman dalam berdakwah. ”Dan sabarkanlah dirimu bersama orang yang menyeru tuhan mereka di waktu pagi dan petang, mereka menghendaki keridhaanNya, Dan janganlah engkau palingkan kedua matamu dari mereka karena menghendaki perhiasan hidup di dunia. Dan janganlah engkau mengikuti orang yang telah Kami lalaikan hatinya dari mengingat Kami dan mengikuti hawa nafsunya dan adalah pekerjaannya berlebih-lebihan”

Semoga ramadhan tahun ini dan selanjutnya menjadi lebih komunikatif.

Tulisan ini pernah dimuat di Tabloid POLOS, 2016.