Kalender Wisata: Konsep Tradisional dan Konteporer

lab2

Penyusunan kalender Wisata Kabupaten Banyumas sebaiknya disusun dengan konsep atau tematik tradisional dan konteporer. Ada wisatawan yg menyukai atraksi seni budaya dan tradisi. Ada pula wisatawan milenial yg menyukai atraksi kekinian. Simak di: https://www.suaramerdeka.com/smcetak/baca/138065/konsep-tradisional-dan-kontemporer

Iklan

Evaluasi Peran Duta Wisata

cirebon8

Duta wisata sesungguhnya memiliki peran penting dalam mengenalkan budaya dan pariwisata suatu daerah. Namun keberadaan mereka sering hanya sebagai pelengkap seremoni acara pemerintah di daerah. Silakan baca di:

https://www.suaramerdeka.com/smcetak/baca/122798/evaluasi-peran-duta-wisata

Kuliner Khas Daerah Bisa Jadi Ikon Wisata

20151105133918mendoan
Kuliner khas daerah bisa dijadikan ikon wisata yg menarik wisatawan untuk berkunjung. Kuliner daerah tersebut haruslah khas. Tren wisata 2018 diantaranya adalah wisata unik dg mempelajari dan menikmati makanan tradisional suatu daerah. Selengkapnya simak di:  https://jateng.antaranews.com/berita/191085/kuliner-khas-bisa-jadi-ikon-wisata

WISATA SEHARI DI BANYUMAS

mbah chus
chusmeru

Ambisi bupati Purbalingga Triyono Budi Sasongko untuk mewujudkan Wisata Sehari ( one day tour ) patut diacungi jempol. Kesuksesan Owabong dalam menarik wisatawan di Purbalingga menjadi entry point bagi pengembangan objek wisata lain. Melalui Wisata Sehari diharapkan wisatawan cukup berada di Purbalingga sehari penuh. ( SM Edisi Suara Banyumas, 16 / 03 hal.P )

            Harapan bupati Purbalingga tentu bukan sekadar ambisi tanpa visi dan perencanaan matang. Owabong saat ini menjadi selling point yang menggairahkan sektor pariwisata dan menggerakkan roda perekonomian. Bahkan pariwisata saat ini berhasil menyalip sektor lain di Purbalingga. Wisata Sehari bisa dipakai strategi untuk menghindari stagnasi objek wisata andalan Owabong.

Bagaimana dengan pariwisata Banyumas? Mungkinkah Wisata Sehari dikembangkan di Banyumas? Gagasan tentang Wisata Sehari di Banyumas sudah lama dicanangkan. Namun hingga saat ini belum tampak realisasi dan hasilnya. Padahal potensi wisata Banyumas tidak kalah dibandingkan Purbalingga.

 

Faktor Pendukung

Program Wisata Sehari di Banyumas dicanangkan tahun 2008 lalu. Program ini merupakan perintisan paket wisata dengan pola kemitraan pariwisata antardaerah. Kabupaten Banyumas memiliki Baturraden sebagai ikon pariwisata yang dapat dijadikan entry point paket wisata di Banyumas. Dari Baturraden pengunjung dapat diarahkan ke titik-titik Wisata Sehari, seperti Museum Panglima Besar Soedirman, Masjid Saka Tunggal, Bendung Gerak Serayu, Pendapa Sripanji Banyumas, diakhiri dengan menikmati kuliner Sroto Sokaraja.

Menjual paket Wisata Sehari tidak sebatas menawarkan keindahan alam dan bentuk fisik bangunan bersejarah. Wisatawan atau pengunjung juga dapat belajar kultur, sejarah, way of life, dan sesuatu yang unik di sekitar objek. Masalahnya, apakah Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyumas sudah menyiapkan informasi lengkap bagi wisatawan tentang apa dan bagaimana objek Wisata Sehari tersebut.

Informasi “apa dan bagaimana” objek sangat penting agar pengunjung tidak hanya datang untuk menonton bangunan bersejarah, atraksi seni, dan sarana rekreasi. Pengunjung juga diharapkan dapat belajar banyak tentang sejarah dan nilai-nilai sosial budaya masyarakat. Lebih penting lagi, Wisata Sehari dapat menjadi wahana sosialisasi dan pewarisan nilai-nilai patriotisme bagi generasi berikutnya.

Sistem transportasi sebagai faktor pendukung ( supporting system ) perlu dipikirkan. Sistem transportasi ini meliputi moda angkutan, rute, harga, dan sikap awak angkutan. Apakah jenis angkutan yang dapat digunakan pengunjung dalam menikmati Wisata Sehari?  Beberapa daerah di Indonesia memanfaatkan jenis angkutan tradisional bagi wisatawan menikmati Wisata Sehar dan Wisata Kota ( city tour), seperti andong di Yogya dan Solo, dokar di Denpasar, serta cidomo di Lombok.

Jenis angkutan tradisional tersebut juga banyak terdapat di Banyumas. Masalahnya, jarak tempuh masing-masing objek wisata cukup jauh. Topografi Banyumas juga berbeda dengan Yogya, Solo, maupun Denpasar. Banyumas banyak memiliki jalan dengan tikungan tajam dan tanjakan terjal. Diperlukan angkutan sejenis bus pariwisata bagi pengembangan Wisata Sehari.

Dokar dan angkutan tradisonal lain hanya cocok untuk program Wisata Kota dengan jarak tempuh pendek dan kondisi jalan datar. Jalan yang banyak  berlubang tentu tidak ideal bagi pengembangan Wisata Sehari dengan angkutan tradisional. Dalam beberapa kasus, angkutan tradisional andong di Yogya dan Denpasar sering menimbulkan kemacetan lalu lintas. Oleh sebab itu diperlukan perencanaan sistem transportasi yang holistik untuk pengembangan  Wisata Sehari di Banyumas.

 

Koordinasi

Selain wisatawan dari luar, one day tour diharapkan dapat dinikmati oleh pengunjung dari masyarakat Banyumas sendiri. Bupati Purbalingga Triyono Budi Sasongko berani menargetkan, dari 760 SD /MI minimal satu SD / MI melakukan kunjungan wisata. Kabupaten Banyumas mestinya lebih berani memasang target, mengingat jumlah SD lebih banyak dibanding Purbalingga, yaitu sebanyak 987 buah dengan jumlah siswa 163.516 orang ( Banyumas Dalam Angka, 2002) Jumlah yang lumayan banyak untuk menggairahkan sektor pariwisata. Bila dalam satu minggu ada dua SD melakukan Wisata Sehari di Banyumas, maka program tersebut bisa berjalan sepanjang waktu 10 tahun.

Hanya saja, program wisata untuk siswa SD kurang berjalan efektif. Faktor koordinasi diantara  instansi sering menjadi kendala. Sampai saat ini pola perjalanan wisata siswa di kabupaten Banyumas selalu sama. Yaitu siswa SD berlibur ke Yogya, SMP ke Jakarta, dan SMA melancong ke Bali. Padahal pola perjalanan wisata seperti itu memakan waktu lama dan menghabiskan biaya banyak. Standar keamanan dan kenyamanan yang diberikan biro perjalanan wisata juga belum maksimal, sehingga kerap terjadi kecelakaan bus yang membawa rombongan siswa saat berlibur.

Wisata Sehari di Banyumas hanya akan berjalan efektif jika ada koordinasi yang baik antara Dinas Pendidikan, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Dinas Perhubungan, serta biro perjalanan wisata. Koordinasi diperlukan untuk merumuskan calendar event, pola perjalanan wisata siswa saat libur sekolah, dan standar pelayanan yang harus dipenuhi biro perjalanan. Koordinasi juga diperlukan untuk pengawasan dan evaluasi pola perjalanan wisata siswa selama ini.

Sebuah ironi, jika siswa sekolah di Banyumas paham betul Jalan Malioboro, Tugu Monas, dan Tanah Lot. Sedangkan Museum Panglima Besar Soedirman, Pendapa Sripanji, dan Bendung Gerak Serayu belum pernah dikunjungi. Alhasil, siswa sekolah terasing di tengah sejarah dan objek wisata yang dimiliki Banyumas.

Artikel ini pernah dimuat dengan judul: Wisata Sehari Ke Banyumas, Suara Merdeka, Sabtu 11 April 2009