Ketika Kesenian Kehilangan Ruh

JIMBARAN EDIT1

Kabupaten Banyumas kini telah memiliki gedung kesenian baru di kota Purwokerto. Gedung baru sebagai pengganti Gedung Kesenian Soetedja yang terletak di sebelah Pasar Manis itu diharapkan menjadi ruang kreasi bagi para seniman di Banyumas. Adakah Gedung Kesenian Soetedja yang baru juga memiliki ruh berkesenian?

Berikut tulisan yang pernah mengupas Gedung bersejarah itu:

Wacana pembongkaran Gedung Kesenian Soetedja ( GKS ) di Purwokerto mendapat reaksi banyak pihak. Tidak hanya para seniman, berbagai elemen masyarakat dan mahasiswa juga melakukan penolakan. Gerakan Silang Putih ( GSP ) muncul sebagai simbol perlawanan terhadap hegemoni Pemkab Banyumas.

Mengapa terjadi penolakan pembongkaran GKS oleh masyarakat? Gedung, bangunan, atau rumah di banyak tempat acapkali memiliki nilai historis, sosial, dan budaya. Gedung dan bangunan tua dianggap representasi bersatunya wadah dan isi, materi dan substansi, duniawi dan surgawi, rasional dan irrasional, tubuh dan ruh.

Banyak gedung tua , bangunan kuno, masjid, gereja, wihara, dan pura di berbagai negara dan daerah di Indonesia tetap dipertahankan keberadaannya, karena dipandang memiliki tubuh dan ruh yang sulit dipisahkan. Sama seperti  ketika banyak orang tetap mempertahankan rumah tua peninggalan leluhur mereka.

Alasannya, rumah itu bukan sekadar memiliki nilai nostalgia dan monumental. Rumah itu adalah ruh bagi anak cucu, spirit, sumber inspirasi, dan penggerak kesuksesan. Maka benar adanya, kata-kata bijak “ rumahmu adalah surgamu”. Rumah bukan sekadar tubuh yang sarat dengan kepentingan materi. Rumah juga refleksi ilahiah untuk berperilaku baik. Rumah adalah ruh bagi orang-orang yang ingin mendapat surga kelak.

Gedung kesenian, bangunan, jalan, buku, dan bentuk rekayasa teknologi lain bukan semata tubuh tanpa makna. Ada ruh yang melekat dalam proses berkesenian. Ada semangat dan nawaitu yang menjadi ruh dalam berkesenian di gedung itu. Sebuah buku hanya akan menjadi tubuh yang sia-sia ketika tak memiliki daya dobrak, saat tak mempunyai ruh yang terkandung dalam pesan dan wewarah.

Itu sebabnya Gedung Asia Afrika dan Jalan Braga di Bandung tidak tergerus oleh teknologi metropolis. Gedung dan jalan itu bagi masyarakat Bandung tidak hanya memiliki makna simbolik dan historis, tetapi juga ruh perjuangan. Gedung Asia Afrika adalah ruh kearifan warganya untuk menjaga tubuh yang telah membesarkan mereka.

Jalan Jenderal Soedirman ( Jensud ) di Purwokerto kini juga menjadi ladang seteru antara Satpol PP, Pemkab Banyumas, dan pedagang kaki lima ( PKL ). Hal itu terjadi lantaran Pemkab Banyumas memandang jalan sebagai tubuh yang perlu dijaga dan dirawat. Jika perlu dibongkar- pasang organ tubuhnya atas nama pelebaran, trotoarisasi, dan keindahan kota.

Sedangkan PKL memandang jalan  sebagai ruh yang menghidupi anak istri. Jalan Jensud adalah ruh semangat untuk hidup lebih layak ketimbang mencuri. Itu pula mengapa Jalan Malioboro di Yogya terbuka bagi keberadaan PKL. Malioboro bukan hanya tubuh yang menyediakan tempat bagi lalu-lalang kendaraan dan wisatawan, namun juga ruh yang menghidupi sebagian besar masyarakat Yogya.

Pelumpuhan Budaya

Jaminan warga suatu bangsa untuk turut serta dalam kehidupan seni budaya tercermin dalam Pasal 15 Perjanjian Internasional PBB tahun 1966 tentang Hak-Hak Ekonomi, Sosial, dan Budaya. Disebutkan bahwa Negara-negara Peserta Perjanjian Internasional mengakui hak setiap orang untuk memperoleh perlindungan rohani dan materi, hasil produksi ilmiah, sastra, dan seni karyanya.

Namun dalam beberapa kasus, tidak semua negara melaksanakan Perjanjian Internasional tersebut. Sistem politik, perkembangan demokrasi, dan kesadaran berbudaya suatu bangsa merintangi warganya untuk menikmati hak-hak sosial budayanya. Pemerintah yang semestinya berperan memajukan kebudayaan justru menjadi oposisi atau tandingan bagi pelaku seni budaya.  Karena itu kesenian kehilangan ruhnya.

George Lucacks ( dalam Revrisond Baswir, dkk, 1999: 240 ) mengingatkan bahwa kreativitas dan kesadaran budaya masyarakat sering dilumpuhkan demi kesadaran penguasa. Pemerintah di banyak negara telah melakukan reifikasi atau pelumpuhan budaya, yaitu secara sadar dan sistematis meninabobokan kesadaran budaya masyarakatnya.

Dalam konteks GKS, apa yang dilakukan Pemkab Banyumas dapat dikategorikan sebagai pelumpuhan budaya. Bupati Banyumas seyogyanya memang melakukan rembug bersama untuk mencari jalan keluar agar tubuh dan ruh kesenian Banyumas tetap bisa menyatu. Sebagaimana gedung dan bangunan, Bupati adalah tubuh. Kebijakan dan Perda adalah ruh yang dapat menggerakan dinamika berkesenian di Banyumas.

Bupati tak perlu menjadi oposisi bagi para pelaku kesenian di Banyumas, begitu sebaliknya. Tidak harus pula menjadi hegemoni, memonopoli dunia imaji, atau menggusur tubuh dan ruh kesenian, dan menggantikannya dengan simbol-simbol peradaban modern seperti mall, misalnya.

Sudah sepatutnya tubuh dan ruh bersatu dalam diri Bupati Banyumas. Seperti menyatunya tubuh GKS dengan ruh kesenian masyarakat Banyumas. Sewajarnya pula Bupati menghormati Perjanjian Internasional PBB 1966, sebagaimana menghormati keinginan masyarakat Banyumas untuk mempertahankan Gedung Kesenian Soetedja.

Artikel ini pernah dimuat dengan judul: Ketika Kesenian Kehilangan Ruh, Suara Merdeka, Sabtu 20 November 2010

Iklan

Menata Objek Wisata Spiritual

GWK EDIT3

Kecenderungan wisatawan mengunjungi objek wisata kini mulai beragam. Wisatawan tidak hanya berkunjung ke objek wisata yang sudah berkembang saja. Beberapa objek wisata yang potensial dan masih “perawan” mulai digemari wisatawan. Alasan mengunjungi objek wisata baru pun bermacam-macam, seperti daya tarik objek, sekadar coba-coba, atau jenuh dengan objek wisata yang telah berkembang.

Salah satu jenis wisata yang mulai digemari di kabupaten Banyumas adalah wisata spiritual, yaitu mengunjungi tempat-tempat yang dianggap keramat oleh masyarakat. Kegiatan yang dilakukan adalah berziarah ke makam seorang tokoh yang diwarnai mitologi di masyarakat atau mengunjungi situs purbakala. Tidak sedikit pengunjung yang bermalam di objek wisata spiritual. Mereka berasal bukan hanya dari kabupaten Banyumas saja, tetapi juga dari daerah lain di Jawa Tengah.

Wisata spiritual termasuk kategori wisata minat khusus ( special interest tourism ). Objek dan kegiatan yang dilakukan wisatawan pada wisata spiritual berbeda dengan wisata alam dan wisata belanja. Motivasi wisatawan yang berkunjung ke objek wisata spiritual adalah motif simbolis, estetis, magis dan mistis, serta informatif. Motif simbolis dan estetis berkaitan dengan komunikasi terhadap ruang dan waktu lampau. Motif magis dan mistis berhubungan dengan aura supranatural objek wisata. Sedangkan motif informatif adalah keingintahuan wisatawan terhadap sejarah objek wisata.

Penataan

Kabupaten Banyumas memiliki banyak objek wisata spiritual. Diantaranya adalah Gua Maria, Kendalisada, dan makam Kalibening di Banyumas; makam Kaligintung di Patikraja, makam Ki Sapu Angin di Lumbir, Gunung Putri di Purwojati, dan objek lain. Sayangnya, hingga kini belum ada peta objek wisata spiritual yang lengkap di kabupaten Banyumas.  Aksesibilitas, sarana, dan prasarana menuju dan di sekitar objek wisata juga belum memadai.

Ada kesan, objek wisata spiritual di kabupaten Banyumas berkembang tanpa penataan dan perencanaan yang matang. Seperti misalnya, ketidaksiapan juru kunci makam Kaligintung di desa Wlahar Lor, kecamatan Patikraja untuk memberikan informasi yang lengkap kepada pengunjung ( Suara Merdeka, Edisi Suara Banyumas, 23/ 02 halaman P ). Meskipun pengunjung tetap berdatangan, namun perlu dilakukan penataan yang baik agar wisata spiritual dapat menjadi bagian dari diversifikasi objek wisata di kabupaten Banyumas.

Penataan objek wisata spiritual dapat dimulai dengan inventarisasi objek yang ada di kabupaten Banyumas. Inventarisasi meliputi potensi objek serta sarana dan prasarana yang tersedia. Perlu dibuat dokumentasi berupa gambar, foto, maupun film untuk kepentingan promosi dan publikasi. Untuk itu dibutuhkan kerjasama yang baik antara pihak Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, perhotelan, restoran, dan biro perjalanan untuk merumuskan promosi terpadu.

Pramuwisata Khusus

Pelibatan masyarakat sekitar untuk mendukung dan mengelola objek wisata spiritual sangatlah penting. Masyarakat setempat biasanya sudah memiliki pengetahuan dalam mengelola sumber daya yang ada di daerahnya. Pengetahuan serta pengalaman masyarakat yang diperoleh secara turun temurun akan menimbulkan kesadaran untuk menjaga dan melestarikan objek wisata spiritual.

Kalau pun masih ada pengelola atau juru kunci objek wisata yang tidak memiliki pengetahuan lengkap, maka tugas Dinas Kebudayaan dan Pariwisata untuk melakukan pembinaan. Jika perlu disiapkan pramuwisata khusus pada objek wisata spiritual. Pembinaan meliputi kemampuan komunikasi pramuwisata untuk menjelaskan secara lengkap objek wisata serta etika pramuwisata sesuai standar Himpunan Pramuwisata Indonesia ( HPI ).  Juru kunci di daerah biasanya mengalami kendala untuk menjelaskan kepada wisatawan dengan menggunakan bahasa Indonesia; apalagi bahasa asing.

Objek wisata spiritual di berbagai daerah selalu dikaitkan dengan mitos yang ada di masyarakat. Terlepas dari kepercayaan yang dianut wisatawan, mitologi adalah bagian dari sistem nilai dan budaya suatu masyarakat. Tugas pramuwisata yaitu menjelaskan objek wisata dan mitologinya tanpa harus memaksa wisatawan untuk percaya. Wisatawan yang berkunjung ke objek wisata spiritual tentu sudah memiliki motivasi dan pengetahuan awal tentang objek tersebut.

Tata cara kunjungan penting untuk diinformasikan kepada wisatawan. Mitologi seputar makam, petilasan, gua, dan situs purbakala selalu disertai tabu atau pantangan tertentu. Secara sosial antropologis, pantangan tersebut tidak dimaksudkan untuk mengultuskan orang atau objek tertentu. Tabu dalam masyarakat bertujuan menjaga kelestarian bangunan, lingkungan, maupun sistem nilai yang diwariskan dari generasi ke generasi. Disinilah pramuwisata khusus diharapkan  berperan dalam konservasi objek wisata spiritual.

Wisata spiritual saat ini memang masih merupakan trend. Namun tidak tertutup kemungkinan, ketika wisatawan mengalami kejenuhan terhadap objek wisata yang sudah berkembang, maka objek wisata spiritual menjadi pilihan alternatif. Perlu diingat, objek wisata seperti ini sangat sensitif terhadap hal-hal yang berbau mistik dan klenik. Sehingga perlu dibuat promosi objek yang proporsional dan rasional agar tidak menimbulkan polemik di masyarakat.

Sudah saatnya pemerintah dan komponen pariwisata Banyumas melakukan penataan terhadap objek wisata spiritual untuk menjadi bagian dari aset dan sumber pendapatan daerah. Penataan juga sekaligus sebagai upaya pelestarian nilai-nilai sosial budaya yang ada di masyarakat.

Tulisan ini pernah dimuat dengan judul: Pesona Wisata Spiritual Banyumas, Suara Merdeka, Senin 16 Maret 2009

Desa Wisata, Sebuah Euphoria Pariwisata

SAWAH EDIT5

Desa wisata saat ini menjadi sebuah euphoria dalam pengelolaan pariwisata. Hanya lantaran satu desa memiliki pemandangan indah dan spot foto serta dikunjungi wisatawan, lantas mengklaim sebagai desa wisata. Benarkah adanya? Simak di:  https://purwokertokita.com/kolom/desa-wisata-sebuah-euphoria-pariwisata.php

Pariwisata, Lingkungan, dan Destinasi Digital

 

GWK EDIT1

Pariwisata menjadi sektor andalan peraih devisa nonmigas oleh beberapa negara di dunia. Pariwisata juga dijadikan sektor penyumbang pendapatan asli daerah (PAD) oleh setiap daerah di tanah air. Banyak cerita sukses tentang pariwisata, namun tidak sedikit pula yang gagal dan terpuruk pariwisatanya.

Sebagai industri yang berorientasi pada pelayanan, pariwisata memang sensitif terhadap situasi sosial politik, kondisi ekonomi global, cuaca dan bencana. Oleh karena itu, episode pariwisata tidak mudah diterka kegagalan dan keberhasilannya.

 

Episode I: Success Story Pariwisata Indonesia

Organisasi Pariwisata Dunia di bawah PBB (UNWTO) telah mengakui adanya peningkatan industri pariwisata Indonesia pada tahun 2016. Indonesia berhasil mengungguli tiga negara ASEAN, yakni Singapura, Thailand, dan Malaysia. Menurut data Biro Pusat Statistik (BPS), kunjungan wisatawan selama periode Januari – April 2017 meningkat sebesar 19,34% dibanding periode yang sama pada tahun 2016. Sedangkan Singapura hanya 4,4% secara year on year (yoy), Tahiland 2,91 %, sementara Malaysia turun 0,5%.

Country Branding “Wonderful Indonesia” menempati peringkat ke 47 dunia sejak tahun 2015. Sedangkan Thailand berada di peringkat 83, dan Malaysia di peringkat 98. “Wonderful Indonesia” juga ditetapkan sebagai Brand of The Year Indonesia 2018 oleh Mark Plus Inc dan Philip Kotler Center for ASEAN Marketing. “Wonderful Indonesia” dan penghargaan tersebut menurut Menteri Pariwisata, Arief Yahya berpengaruh pada Brand Value 3C, yaitu Confidence, Credibility, dan Calibration destinasi wisata Indonesia. Hal itu dapat dilihat dari nilai transaksi pariwisata yang signifikan. Tahun 2016 nilai transaksi pariwisata sebesar 6 triliun rupiah, tahun 2017 sejumlah 8 triliun rupiah, dan tahun 2018 ditargetkan mencapai 10 triliun rupiah.

Pariwisata sampai saat ini juga masih masuk ke dalam lima sektor prioritas pembangunan Indonesia tahun 2017, bersama dengan sektor pangan, energi, maritim, dan kawasan industry ekonomi khusus. Pariwisata di Indonesia tahun 2017 juga telah mampu mendorong tumbuhnya sektor lain, seperti industri kecil di pedesaan, agro wisata, industri kreatif seni budaya, dan kuliner.

Pemerintahan Presiden Joko Widodo juga telah menggencarkan pembangunan infrastruktur menuju destinasi prioritas. Hal itu tentu saja akan menggairahkan investasi di sektor pariwisata. Meski demikian, pembangunan infrastuktur mestinya tidak hanya dilakukan pada 10 destinasi prioritas yang sudah ditetapkan. Pemerintah perlu menambah destinasi prioritas di beberapa daerah, sehingga iklim investasi juga dirasakan oleh berbagai daerah. Keterbatasan aksesibilitas menuju destinasi seringkali menjadi kendala bagi pengembangan pariwisata di daerah.

            Episode II: Perusakan Lingkungan oleh Pariwisata sebagai Industri, Sad Story

Pariwisata acapkali memang menggiurkan karena sisi ekonomisnya yang menjanjikan. Namun pariwisata juga kerap dituding sebagai biang kerusakan lingkungan, baik lingkungan alam, sosial, maupun budaya. Interaksi pariwisata selalu terjadi antara penjual yang mengejar kepentingan ekonomi dan pembeli yang mengharap pemenuhan kebutuhan dan keinginan leisure and recreation. Meski sesungguhnya pariwisata juga memiliki kontribusi positif terhadap lingkungan.

Dampak positif pariwisata adalah konservasi dan preservasi pada daerah alami seperti cagar alam, kebun raya, dan suaka margasatwa ( I Ketut Suwena dan Widyatmaja, 2017: 211). Konservasi dan preservasi dalam pariwisata juga dapat terjadi pada peninggalan sejarah dan arkeologi, seperti Borobudur, Prambanan, Tanah Lot, Masjid peninggalan para Wali, Kelenteng, rumah adat, dan sebagainya. Dampak positif lain dari pariwisata adalah pengenalan administrasi dan organisasi pada daerah wisata, sehingga daerah tertata rapi. Masyarakat mengenal arti penting zonasi kawasan wisata, yang meliputi spot area, rekreasi, kuliner, art shop, dan sebagainya. Desa Serang, di Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah misalnya, telah berhasil menata kawasan Desa Wisata yang berkembang pesat, dan melibatkan masyarakat setempat dalam pengelolaannya.

Episode pariwisata juga diwarnai oleh berbagai masalah dan dampak yang ditimbulkan. Pariwisata adalah industri tanpa cerobong asap yang kapitalistik. Pariwisata selalu padat modal, berorientasi pada pasar, dan permisif terhadap investasi. Oleh sebab itu, lebih mudah berinvestasi dan membangun hotel, restoran, dan sarana rekreasi ketimbang membangun pabrik pengolahan limbah atau pabrik bioetanol di daerah.

Pariwisata dikenal sebagai bisnis yang rakus terhadap lahan dan tinggi kompetisinya pada sumber daya alam yang terbatas. Pariwisata butuh lahan dan air dalam jumlah yang banyak untuk kepentingan resor, hotel, restoran, dan transportasi. Potensi konflik horizontal antara investor, pengelola bisnis wisata, dan masyarakat karenanya sangat mungkin terjadi.

Tekanan terhadap lingkungan begitu kuat terjadi dalam pengelolaan bisnis pariwisata. Abrasi dan erosi pantai melanda beberapa pantai di Indonesia. Di Bali beberapa pantai terkena abrasi dan erosi sebagai dampak pengembangan pariwisata di sekitar kawasan pantai, seperti terjadi di pantai Kuta, Sanur, Lovina, dan Candidasa. Polusi juga terjadi sebagai akibat limbah hotel, industri garmen , dan polusi air laut akibat rekreasi dan wisata air. Polusi bukan hanya terhadap udara dan air saja, tetapi juga terhadap pemandangan (view) suatu daerah. Kasus terjadi di Desa Tegalalang, Gianyar, Bali. Penduduk setempat memasang seng di pematang sawah sebagai bentuk protes kepada pihak pengelola hotel, dan sebagai dampaknya, hotel pun kehilangan view sawah yang indah.

Privatisasi dan komodifikasi menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam kegiatan pariwisata. Privatisasi secara umum dapat berarti proses pengalihan kepemilikan , yaitu kepemilikan umum menjadi kepemilikan pribadi. Privatisasi sempadan pantai merupakan pengambialihan areal publik berupa sempadan pantai oleh pihak swasta atau pengusaha pariwisata, sehingga fungsi sempadan pantai yang dapat dinikmati oleh masyarakat umum dan penduduk lokal menjadi hanya dinikmati oleh wisatawan. Privatisasi sempadan pantai banyak terjadi di Bali Selatan. (Putri Kusuma Sanjiwani, 2016: 31). Pantai Pede di Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur juga mengalami privatisasi pantai yang menimbulkan protes keras dari masyarakat.

Komodifikasi seni budaya bisa dilihat dari durasi tarian yang dipersingkat karena untuk tontonan wisatawan. Komodifikasi juga terjadi pada bentuk bangunan atau arsitektur tradisional yang keluar sari fungsi adat dan sosial budaya. Misalnya, ada klumpu atau jineng yang dimanfaatkan sebagai kamar tinggal untuk bermalam wisatawan di Bali. Padahal fungsi sosial klumpu dan jineng bagi masyarakat Bali adalah sebagai tempat penyimpanan hasil panen. Ada juga hotel yang membuat bale kulkul ( tempat kentongan) sebagai hiasan belaka untuk menarik wisatawan. Sedangkan masyarakat Bali memanfaatkan kulkul sebagai sarana komunikasi sosial budaya bagi warga untuk berkumpul di Bale Banjar, sarana komunikasi warga Subak, penanda odalan (acara ritual) di pura, atau penanda hal-hal penting di puri, istana raja-raja di Bali.

Komodifikasi juga terjadi pada perayaan keagamaan. Penjualan produk Paket Wisata Nyepi dilakukan pengusaha hotel di Bali. Hari Raya Nyepi yang dirayakan umat Hindu di Bali setiap tahun sekali adalah dalam rangka menyambut tahun baru Caka. Umat Hindu melakukan Tapa Brata Penyepian dengan tidak melakukan aktivitas di luar rumah. Namun acara ini ada yang dikemas dalam bentuk paket wisata nyepi. Walaupun wisatawan dilarang bepergian ke luar hotel, namun berbagai kegiatan tetap dijalankan di dalam hotel. Jika paket wisata ini tidak dikelola dengan baik tentu akan menganggu kekhusyukan perayaan Nyepi. (Ni Putu Ratna Sari,2016:26)

Dislokasi sosial budaya pada destinasi wisata ditandai dengan perubahan gaya hidup masyarakat setempat sebagai dampak kegiatan pariwisata. Hal ini juga memicu tindak kriminalitas, baik terhadap wisatawan maupun kepada penduduk setempat. Interaksi lintas budaya antara penduduk dan wisatawan dapat berkembang menjadi perkawinan antara penduduk setempat dengan orang asing yang berorientasi kepentingan bisnis. Pariwisata yang berkembang di suatu daerah juga seringkali membuka peluang terjadinya prostitusi dan kecemburuan sosial ekonomi yang bersifat SARA.

Episode mimpi buruk (nightmare) pariwisata di Indonesia terjadi ketika Bom Bali (Bali Blast ) 12 Oktober 2002. Pady’s Café dan Sari Club di Legian luluh lantah dibom oleh tiga pelaku teror Imam Samudra, Amrozy, dan Ali Gufron. Korban tewas 202 orang, 300 luka-luka; dan 88 orang korban yang meninggal adalah warga negara Australia. Pariwisata Indonesia saat itu terasa tumbang. Beberapa pengusaha pariwisata jatuh bangkrut akibat travel warning yang dikeluarkan oleh beberapa negara. Kunjungan wisatawan asing dan domestik menurun drastis. Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) missal terjadi di industri pariwisata dan dunia usaha lain yang menopang pariwisata.

Belum lagi pariwisata Indonesia pulih, Bali kembali diguncang bom. Raja’s Café dan Menega Café di Jimbaran dibom pada tanggal 1 Oktober 2005. Pelakunya Misno dan Zalid Firdaus tewas dalam bom bunuh diri itu. Namun yang lebih memprihatinkan, 23 0rang pengunjung café meninggal, 129 orang luka, dan 20 orang hilang. Pariwisata Indonesia kembali diuji oleh mimpi buruk. Dua peristiwa tersebut menggambarkan peneguhan, betapa tourism dan terrorism menjadi dua hal yang berbeda namun sangat berdekatan.

Mimpi buruk pariwisata Indonesia dilengkapi dengan erupsi Gunung Agung di Karangasem, Bali sejak Oktober hingga Desember 2017. Menteri Pariwisata Arief Yahya menyatakan erupsi tersebut menimbulkan kerugian bagi sektor pariwisata Indonesia. Kerugian ditaksir mencapai 250 milyar rupiah per hari atau jika ditotal mencapai 9 triliun rupiah. Padahal periode tersebut adalah peak season bagi kunjungan wisatawan domestic dan mancanegara.

Episode III: Wisatawan Milenial dan Destinasi Digital, a Wish

Kementerian Pariwisata telah menetapkan 100 Destinasi Digital di tahun 2018. Destinasi digital itu diharapkan bisa menjadi differentiating Indonesia yang membedakan dengan produk dan paket wisata negara lain. Destinasi digital dapat berupa objek, atraksi, dan kuliner yang instagramable berupa foto dan video yang kreatif dan menarik jika diunggah ke media sosial.

Terjadi perubahan karakteristik wisatawan dari konvensional–manual kepada wisatawan milenial-digital. Wisatawan seperti itu akan merencanakan, mencari informasi, dan transaksi wisata secara online. Promosi dan pemasaran pariwisata pun bergeser dari yang konvensional ke promosi dan pemasaran digital. Media sosial menjadi alternatif, karena lebih masif, murah, atraktif, dan selalu dapat di-update setiap saat.

Perkembangan teknologi komunikasi dan informasi juga telah mengenal Virtual Reality Tourism, yang mulai popular di tahun 2015 an. Promosi wisata melalui Virtual Reality  (VR) dilakukan dengan menggunakan VR Headset dan VR Card yang dapat melakukan subliminal brand ke kognisi pengguna tentang tujuan wisata, cara memcapai objek wisata, penerbangan yang dapat digunakan, jadwal penerbangan, biro perjalanan, dan hotel.

Perubahan karakterisitik wisatawan milenial dan destinasi digital didukung oleh adanya tren kunjungan wisata di tahun 2018. Booking.com, perusahaan E-Commerce perjalanan Belanda melakukan survey terhadap 18.509 responden dari negara Asia, Eropa, dan Amerika. Sebagaimana dikutip dari National Geographic tanggal 2 November 2017, tren wisata 2018 antara lain:

  1. Serba teknologi. Sebanyak 29% wisatawan merasa nyaman merencanakan perjalanan wisata dengan computer.
  2. Mewujudkan impian. 47% wisatawan menyukai keajaiban dunia, kuliner lokal, pula yang indah, dan taman hiburan terkenal. Kota-kota seperti Orlando, AS, Dubai, Gold Coast Australia, dan Holocaust Memorial di Berlin, Jerman menjadi pilihan.
  3. Nostalgia masa lalu menjadi salah satu alasan wisatawan berkunjung ke destinasi yang pernah didatanginya. Perpaduan masa lalu dan masa depan diwujudkan dengan kembali mengunjungi destinasi wisata masa lalu dan perubahan di masa kini dengan mengajak keluarga mereka.
  4. Ziarah budaya popular dipilih oleh 39% wisatawan. Pengaruh acara TV, film, olah raga, dan media sosial menjadikan wisatawan ingin berkunjung ke tempat-tempat seperti yang dilihat di TV, film, dan video music.
  5. Wisatawan akan menggunakan intuisi ekonomi pada saat akan mengunjungi suatu destinasi. Nilai tukar mata uang menjadi hal yang dipertimbangkan ketika akan memilih suatu negara sebagai tujuan wisata. Sejumlah 48% wisatawan menyatakan mempertimbangkan kondisi ekonomi negara tujuan.
  6. Wisatawan independen mewarnai tren wisata 2018. Mereka lebih suka berwisata yang bersifat personal. Sebanyak 57% wisatawan tidak tertarik lagi pada wisata grup. Sejumlah 31% memilih berwisata bersama teman, karena ada nilai kenangan dan akomodasi bisa ditanggung bersama.
  7. Wisatawan menyukai kehidupan seperti penduduk setempat. Holiday rental dipilih oleh 33% responden yang akan berwisata. Mereka menyukai rumah sewa, menikmati budaya lokal, dan merasakan makanan atau kuliner lokal.

Sedangkan Interpid Travel mengeluarkan rilis Tren Wisata 2018, seperti dikutip CNN Indonesia, 3 Januari 2018, sebagai berikut:

  1. Wisata Kesehatan, seperti Digital Detoxification Tourism, dimana wisatawan meningkalkan dunia eletronik di destinasi wisata untuk kesehatan fisik dan mental. Destinasi yang sering menjadi sasaran wisata kesehatan adalah India, Bali, Korea Selatan, Mongolia, Peru, Thailand, Singapura.
  2. Wisata solo, dengan cara menggunakan aplikasi pencarian teman yang mempertemukan di destinasi baru dengan orang-orang baru.
  3. Wisata di destinasi yang belum popular. Wisatawan mencari keunikan suatu destinasi dan mencoba petualangan, seperti di Yordania dengan objek wisata Laut Mati, Roman Theatre, Hercules Temple, dan kuliner ala Yordania, serta Budapest di Hungaria yang terdapat banyak objek wisata kuno.
  4. Wisata alam dengan bersepeda atau naik kereta api kuno.
  5. Paket wisata unik, naik kapal pesiar, berkemah dengan layanan mewah, menginap di resor eksklusif, merawat gajah, bercengkerama dengan komodo, atau menjadi guru di daerah terpencil.
  6. Wisata Baby moon yang dilakukan sebelum hari kelahiran dengan menginap di hotel dekat pantai atau bebukitan.
  7. No Pic Hoax, adalah wisata selfi untuk membuktikan bahwa seseorang sedang atau sudah berwisata dengan mengunggah objek yang dikunjungi. Ada pula wisatawan yang memanfaatkan jasa fotografer pribadi untuk mengabadikan perjalanan wisatanya.
  8. Wisata manula. Tahun 2017 wisata Manula mengalami peningkatan. Biasanya wisatawan tipe ini menyukai pelayanan yang eksklusif dan tempat-tempat yang tenang tanpa noise. Hasil penelitian Fani Maharani Suarka (2017:110-114) menjukkan peningkatan 30% okupansi hotel di kawasan Sanur, Bali yang diisi oleh wisatawan Manula. Aktivitas mereka adalah tinggal di hotel, menonton TV, belanja, berendam dan berjemur di pantai, belajar seni budaya lokal, spa, dan mengikuti paket tour.
  9. Wisata belanja yang banyak dilakukan di negara-negara Asia, Australia, dan Amerika.

Rakornas Pariwisata yang berlangsung di Bali, 22 -23 Maret 2018 telah menghasilkan beberapa Rencana Strategis pariwisata Indonesia 2018. Salah satunya adalah pembuatan 100 destinasi digital di 34 provinsi dan 10 nomadic tourism di 10 destinasi “Bali Baru”. Tahun 2017 Kementerian Pariwisata baru mencoba tujuh destinasi digital, yaitu Pasar Tahura di Lampung, Pasar Karetan Kendal, Jawa Tengah, Pasar Kaki Langit di Yogyakarta, Pasar Siti Nurbaya di Padang, Pasar Baba Boen Tjit di Palembang, Pasar Pancingan di Lombok, Pasar Mangrove di Batam.

Masih terbuka peluang yang sangat besar bagi pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten untuk mengkreasi dan mengembangkan destinasi digital di daerahnya untuk merespon gagasan 100 destinasi digital yang dicanangkan Kementerian Pariwisata. Oleh karena itu, pemerintah daerah perlu mempersiapkan dan memastikan ketersediaan infrastruktur jalan, air, dan listrik sebagai aksesibilitas menuju destinasi digital.

Pemerintah daerah juga juga perlu memastikan keterjangkauan koneksi internet atau Wifi di destinasi digital, sehingga wisatawan bisa langsung mengunggah spot destinasi ke media sosial saat ini juga. Kecepatan dalam mengunggah pengalaman berwisata saat ini menjadi hal penting bagi wisatawan.

Destinasi digital yang menarik akan dikunjungi banyak wisatawan. Pemerintah daerah perlu memastikan ketersediaan bak sampah dan toilet. Destinasi yang ramai dikunjungi wisatawan biasanya berhadapan dengan masalah sampah dan sulitnya mendapatkan toilet.

Sesuai harapan Menteri Pariwisata, Arief Yahya, pemerintah daerah juga perlu segera membentuk dan mengaktifkan Generasi Pesona Indonesia (GenPI) untuk ikut serta mempromosikan destinasi secara digital. Generasi Pesona Indonesia juga dapat mengkampanyekan gerakan berwisata kepada kalangan anak muda. Peran seperti ini bisa dilakukan dengan memberdayakan duta wisata hasil pilihan masing-masing daerah.

“Semoga harapan menciptakan sejuta keindahan dan kenangan”

“Hopefully, the beauty and the memories aren’t disturbed by sad stories and nightmares “

******

 

*Makalah disampaikan dalam Seminar Akademik “Tantangan Komunikasi Pariwisata dan Lingkungan di Era Digital” yang diselenggarakan oleh Program Studi S1 Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto, 5 April 2018.

 

** Tentang Penulis:

  1. Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi Fisip Unsoed, Purwokerto untuk mata kuliah: Komunikasi Lintas Budaya, dan Komunikasi Tradisional, tahun 2008 – Sekarang
  2. Dosen Program Studi Pariwisata, Universitas Udayana, Bali untuk mata kuliah Human Relations, Komunikasi Lintas Budaya, Leisure and Recreation, dan Filsafat Pariwisata, tahun 1986 – 2007
  3. Tenaga Ahli Bidang Sosial DPRD Kabupaten Badung, Bali, tahun 2001 – 2002
  4. Penasihat Dewan Pimpinan Daerah Himpunan Pramuwisata Indonesia (DPD HPI) Bali, tahun 1999 – 2002
  5. Divisi Litbang Forum Independen Pemantau Pembangunan Bali, tahun 1998-2001
  6. Anggota Bali Human Ecolocy Study Group, tahun 1990 – 2004
  7. Ketua Lembaga Penanggulangan Masalah Sosial, Bali, tahun 2000 – 2007

Generasi Pesona Indonesia (GenPI)

 

KANTOR EDIT4

Generasi Pesona Indonesia (GenPI) yang dibentuk oleh Kemenpar memiliki kreativitas untuk menciptakan dan mengunggah destinasi digital ke media sosial. Bagaimana pemerintah kabupaten harus menyikapinya? Simak di: http://www.suaramerdeka.com/smcetak/detail/44113/Pemkab-Harus-Gandeng-Genpi