Wisata “Dinner” Banyumas

 

BAKSO EDIT2

Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata ( Dinporabudpar ) Kabupaten Banyumas akan menjual paket wisata “Si Panji Dinner “. Diharapkan paket wisata ini dapat menjawab kekurangan atraksi wisata yang digelar di malam hari. ( Suara Merdeka, Edisi Banyumas, 20 / 11 hal. 32).

Bahkan diklaim, paket wisata ini memiliki keunggulan tersendiri apabila dibandingkan dengan daerah yang telah berkembang maju, seperti Bali. Tentu saja paket wisata ini hanya akan berhasil jika didukung oleh Biro Perjalanan Wisata.

Dinporabudpar Banyumas boleh saja mengembangkan gagasan wisata alternatif yang kreatif dan inovatif ini. Sektor pariwisata memang perlu dikelola secara profesional, atraktif, dan inovatif. Namun benarkah  pemerintah, komponen industri pariwisata, dan masyarakat Banyumas sudah benar-benar siap menawarkat paket wisata “dinner” tersebut?

Kesesuaian

Sebagai sebuah industri, pariwisata senantiasa mengikuti “hukum permintaan dan penawaran”. Sebelum sebuah produk wisata dipasarkan perlu dilakukan kajian tentang asal, selera, dan motivasi kunjungan wisatawan ke Banyumas. Kesesuaian antara produk wisata dengan asal, selera, dan motivasi wisatawan menjadi penting agar upaya kreatif dan inovatif itu tepat sasaran dan tidak sia-sia.

Paket wisata “dinner”  atau santap malam  berkaitan dengan makanan dan budaya makan wisatawan. Perlu dilakukan kajian secara serius tentang menu makanan yang akan disajikan, dan karakteristik wisatawan. Menu makanan khas Banyumas apa yang akan disajikan dalam paket “dinner” itu?. Apakah bisa dipastikan sajian dinner itu sudah memenuhi standar higenis? Tidak semua wisatawan akan dapat menikmati sajian makanan khas Banyumas. Jangan sampai kasus Bali Belly di tahun 1970-an terjadi di Banyumas, yakni kasus wisatawan mancanegara yang diare karena menyantap masakan khas Bali yang pedas.

Menikmati santap malam dapat menjadi sebuah paket wisata jika didukung oleh setting atau konteks tempatnya. Menikmati dinner di Puri Mengwi, Bali atau di Tanah Lot  menjadi daya tarik karena wisatawan dapat menikmati suasana Bali yang sarat dengan adat, agama, dan tradisi sambil memandang puri ( istana raja ) dan pura. Santap malam di Jimbaran Bali menarik bagi wisatawan, karena dapat menikmati suasana malam di tengah deburan ombak. Di Ubud, Gianyar, Bali, wisatawan santap malam di tengah perkampungan seni.

Apakah pemilihan Pendapa Kabupaten Si Panji di kota Purwokerto, Kabupaten Banyumas sudah dipertimbangkan sesuai dengan konteks wisata “dinner” Banyumas?. Apakah lingkungan dan arsitektur Pendapa tersebut sudah dapat merepresentasikan masyarakat, budaya, adat, dan tradisi di Banyumas?. Pertanyaan tersebut perlu dijawab agar paket wisata inovatif itu punya nilai jual kepada wisatawan

 

Kesinambungan

            Paket wisata “dinner” sudah sejak tahun 1980 dikembangkan di Bali. Salah satunya adalah wisata makan malam di Puri Mengwi, Kabupaten Badung, Bali. Paket tersebut didukung oleh Biro Perjalanan Wisata, hotel, dan restoran. Prinsip timbal balik  ( principle of reciprocity ) menjadi landasan pengembangan paket wisata itu. Manfaat yang diperoleh bukan hanya secara ekonomis, tapi juga secara soaial budaya. ( Ni Made Ruastiti, 2004: 51 )

Komponen pariwisata Banyumas perlu belajar banyak dari pengalaman pengembangan paket wisata “dinner” di Bali. Manfaat paling penting dalam pengembangan produk wisata, selain bagi pemerintah dan pengusaha pariwisata, adalah bagi masyarakat Banyumas. Dengan demikian, prinsip timbal balik itu berjalan secara berkesinambungan. Secara ekonomis masayarakat Banyumas perlu diuntungkan dari paket wisata “dinner” itu. Kebutuhan akan sayuran, daging, dan bahan olahan sajian santap malam harus bersumber dari masyarakat lokal di Banyumas.

Secara sosial budaya, pengembangan paket wisata “dinner” menguntungkan bagi pelaku seni dan budaya tradisional yang tampil saat jamuan makan malam wisatawan. Paket wisata itu diharapkan mampu mendorong pertumbuhan kelompok-kelompok kesenian di Banyumas. Oleh sebab itu, paket wisata ini perlu dirancang secara sistemik, holistik, dan kesinambungan dengan melibatkan seluruh pelaku pariwisata dan pelaku seni budaya tradisional di Banyumas. Berbagai hasil penelitian menunjukkan perkembangan yang memprihatinkan dari kesenian tradisional di Banyumas. Banyak jenis kesenian tradisional Banyumas yang nyaris punah, hidup enggan mati pun tidak.

Perlu dilakukan kembali inventarisasi berbagai kesenian tradisional dan budaya Banyumas agar dapat direvitalisasi, dibina, dan diberdayakan dalam paket wisata “dinner”. Jangan sampai, paket wisata ini hanya menguntungan penguasaha pariwisata, sedangkan masyarakat menjadi penonton.

artikel ini pernah dimuat dengan judul: Wisata Dinner Banyumas, Suara Merdeka, Rabu 3 Desember 2014

Iklan