Banyumas Miliki Banyak Potensi Wisata Edukasi

image_1

Kabupaten Banyumas memiliki banyak potensi wisata edukasi, namun belum digarap secara serius. Diperlukan narasi yg informatif tentang nilai edukasi di setiap objek. Baca di:

https://jateng.antaranews.com/berita/197337/banyumas-miliki-banyak-potensi-wisata-edukasi

Iklan

Menjual Paket Wisata Kuliner Banyumas

 MAKAN EDIT

 

Banyak motivasi wisatawan mengunjungi suatu daerah. Jawa Barat terkenal dengan wisata alam, agrowisata, dan belanja. Orang berkunjung ke Jakarta untuk belanja, rekreasi, dan konvensi. Bali mempunyai atraksi seni budaya dan pantai yang tidak habis untuk dijual kepada wisatawan. Yogya banyak dikunjungi wisatawan karena seni budaya dengan gudeg sebagai masakan khas yang memiliki daya tarik wisata kuliner.

Kabupaten Banyumas saat ini masih mengandalkan lokawisata Baturraden sebagai objek dan daya tarik wisata ( ODTW ). Namun bila dicermati, pasca tragedi runtuhnya jembatan di Baturraden, terjadi stagnasi pariwisata Banyumas. Bahkan cenderung menuju tahap penurunan ( decline ), baik kuantitas`wisatawan maupun kualitas sarana dan prasarana pariwisata.

Banyumas juga memiliki potensi kuliner khas yang beragam, mulai dari soto Sokaraja, getuk goreng, mendoan, kripik tempe, sampai kepada jenis kuliner baru hasil kreativitas masyarakat. Meskipun soto adalah jenis masakan yang banyak terdapat di derah lain, tetapi soto Sokaraja memiliki keunikan pada bumbu, sambal dan adonannya. Getuk goreng merupakan jajanan khas Banyumas yang tidak terdapat di daerah lain. Mendoan adalah tempe yang berbentuk tipis dan lebar, digoreng setengah matang, dengan bumbu tetentu sehingga memiliki rasa yang khas. Biasanya dimakan dengan cabai rawit, sehingga menciptakan citarasa unik.  Keripik tempe saat ini banyak dibuat di daerah lain, walaupun kalau dicermati rasanya akan berbeda dengan keripik tempe khas Banyumas, karena bumbu dan cara menggoreng yang berbeda..

Gairah masyarakat untuk menikmati masakan dan jajan tradisional cukup menggembirakan. Sayangnya, sebagaimana ODTW, potensi kuliner Banyumas juga berada dalam tahap stagnasi. Berkembang pesat tidak, gulung tikar pun tidak. Padahal secara teoritis, wisatawan akan berkunjung ke suatu daerah bila ada sesuatu yang bisa dilihat ( something to see ), dikerjakan ( something to do ), dan dibeli ( something to buy ). Makanan tradisional Banyumas bila digarap secara serius dapat menjadi something to buy, bahkan something to do bagi wisatawan.

Stagnasi wisata kuliner Banyumas tidak terlepas dari konsep pariwisata saat ini yang memandang kuliner sebagai sarana penunjang pariwisata ( supporting tourism superstructure ). Kuliner tradisional tidak termasuk sarana pokok pariwisata ( main tourism superstructure ), sehingga dalam proses perencanaan dan pembangunan pariwisata kalah tertinggal dibanding hotel, restoran, bandara, atau objek wisata. Padahal suatu daerah atau wilayah tujuan wisata akan sulit berkembang tanpa didukung oleh sarana penunjang pariwisata yang khas.

Mengharap makanan tradisional Banyumas dikenal di mancanegara tentu bukan mimpi di siang hari. Terpenting adalah bagaimana upaya yang dilakukan pemerintah agar soto Sokaraja, getuk goreng, mendoan, dan kripik tempe bisa go international. Situs pariwisata Banyumas di internet belum menyajikan informasi yang lengkap tentang peta kuliner tradisional tersebut. Belum terdapat informasi mengenai sejarah kuliner, lokasi, harga, rasa maupun proses pembuatan masakan tradisional Banyumas.

Informasi tentang profil kuliner penting bagi wisatawan, khususnya wisatawan mancanegara. Tidak semua jenis makanan tradisional bisa dinikmati wisatawan. Banyak wisatawan yang sensitif terhadap rasa pedas, seperti wisatawan Jepang dan sebagian besar Eropa. Tahun 1980-an pariwisata Bali pernah diterpa isu Bali belly, yaitu kasus wisatawan Jepang yang menderita diare setelah menyantap makanan tradisional Bali yang pedas. Apalagi jika proses pembuatan dan penyajiannya tidak higienis. Wisatawan akan merasa jijik bila melihat makanan yang disajikan dengan jorok dan penuh lalat di sekitarnya. Jika makanan tradisional Banyumas hendak go international perlu dilakukan pembinaan terhadap para pengusaha industri kecil tersebut; baik dari segi pembuatan maupun pelayanannya.

 

Paket Inovatif

Upaya lain yang dapat dilakukan adalah dengan mengadakan program familiarization tour, yaitu kegiatan anjangsana mengundang agen perjalanan atau asosiasi kuliner asing untuk berkunjung ke Banyumas. Kerjasama seperti itu bertujuan mengenalkan dan mempromosikan berbagai makanan tradisional yang layak dijual kepada wisatawan. Dengan catatan, program familiarization tour dilakukan setelah pembinaan usaha kuliner berjalan optimal.

Diversifikasi produk wisata Banyumas bukan hanya mencari produk alternatif wisata sungai Serayu, seperti yang saat ini sedang dicoba pemerintah daerah Banyumas. Produk wisata semacam itu akan mengalami kegagalan pemasaran bila tidak sesuai dengan tipologi kunjungan wisatawan ke Banyumas. Wisatawan yang berkunjung ke Banyumas saat ini baru pada tipe “berhenti sesaat” ( just stop for a moment ). Belum lagi kompetisi produk sejenis di daerah lain yang lebih menarik dibanding wisata sungai Serayu.

Diversifikasi akan lebih menarik jika ditopang oleh paket wisata inovatif seperti resto culture, accommodation culture, atau adventure culture. Yaitu perpaduan antara produk wisata yang ditawarkan dengan paket inovatif lain ( Lihat : I Wayan Wijayasa, 2005 : 84 ). Misalnya, setelah menikmati makanan  soto di Sokaraja, menyaksikan kesenian lengger Banyumasan di hotel, atau wisata sungai Serayu, wisatawan diajak belajar membuat makanan tradisional Banyumas. Sehingga wisatawan tidak hanya mendapatkan something to see atau something to buy saja, tetapi juga tambahan paket something to do. Hal ini tentu akan menambah lama kunjungan wisatawan ke Banyumas.

Menawarkan potensi wisata kuliner sebagai produk dan atraksi wisata Banyumas tidak terlalu membutuhkan banyak biaya. Diperlukan manajemen informasi dan komunikasi pariwisata yang melibatkan berbagai komponen, baik media cetak, penyiaran, internet, maupun jaringan agen perjalanan dan asosiasi profesi kuliner. Beberapa surat kabar nasional dan daerah telah menyajikan informasi kuliner Banyumas. Tinggal dipilih dan dipilah jenis kuliner tradisional yang layak untuk dijual kepada wisatawan.

Dimana pun orang melakukan kunjungan wisata tentu berharap agar memperoleh kenangan dan ada sesuatu yang dapat dinikmati serta dibawa sebagai buah tangan. Satu hal yang ironis jika wisatawan mancanegara datang ke Banyumas disuguhi makanan fast food yang notabene banyak terdapat di negara asalnya. Sementara soto Sokaraja, getuk goreng, mendoan, kripik tempe, dan makanan tradisional lain telah menjadi jajanan wajib bagi para pelancong dari kabupaten tetangga. Padahal potensi kuliner Banyumas layak untuk go international. Mengapa tidak dicoba?

Artikel ini pernah dimuat dengan judul: Menggarap Potensi Wisata Kuliner. Suara Merdeka, Kamis 17 Juli 2008

Potensi Wisata Alam Purbalingga

image_10
Kabupaten Purbalingga memiliki potensi wisata alam berupa pemandangan Gunung Slamet yang indah. Namun komponen wisata yang bersifat tetap itu sangat bergantung pada cuaca dan musim. Apa yang perlu dilakukan Pemkab Purbalingga? Simak selengkapnya di:  https://jateng.antaranews.com/berita/190689/pengamat-purbalingga-memiliki-objek-wisata-alam-potensial

Potensi Wisata Kuliner Banyumas

GETUKgoreng
Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah memiliki banyak potensi keindahan alam seperti Baturraden, Curug Gede, dan sebagainya. Kesenian tradisional lengger, sintren dan ebeg juga menjadi ciri khas Banyumas. Selain itu, Banyumas juga memiliki potensi kuliner, seperti gethuk goreng, mendoan, dan soto sokaraja. Selengkapnya di:

https://fpar.unud.ac.id/img/uploads/2014/03/Analisis-Pariwisata-Vol-9-No-1-2009.pdf

Desa Wisata Di Baturraden

SAWAH
Desa Ketenger berada di Kecamatan Baturraden, Kabupaten Banyumas. Potensi alam dan sosial budaya yang dimiliki Ketenger layak dijadikan sebagai Desa Wisata. Bagaimana dan seperti apa potensi Ketenger tersebut? simak di:

https://fpar.unud.ac.id/img/uploads/2014/03/Jurnal-Analisis-Pariwisata-Vol.-10-No.-1-2010.pdf