Menjual Paket Wisata Kuliner Banyumas

MAKAN EDIT

Banyak motivasi wisatawan mengunjungi suatu daerah. Jawa Barat terkenal dengan wisata alam, agrowisata, dan belanja. Orang berkunjung ke Jakarta untuk belanja, rekreasi, dan konvensi. Bali mempunyai atraksi seni budaya dan pantai yang tidak habis untuk dijual kepada wisatawan. Yogya banyak dikunjungi wisatawan karena seni budaya dengan gudeg sebagai masakan khas yang memiliki daya tarik wisata kuliner.

Kabupaten Banyumas saat ini masih mengandalkan lokawisata Baturraden sebagai objek dan daya tarik wisata ( ODTW ). Namun bila dicermati, pasca tragedi runtuhnya jembatan di Baturraden, terjadi stagnasi pariwisata Banyumas. Bahkan cenderung menuju tahap penurunan ( decline ), baik kuantitas`wisatawan maupun kualitas sarana dan prasarana pariwisata.

Banyumas juga memiliki potensi kuliner khas yang beragam, mulai dari soto Sokaraja, getuk goreng, mendoan, kripik tempe, sampai kepada jenis kuliner baru hasil kreativitas masyarakat. Meskipun soto adalah jenis masakan yang banyak terdapat di derah lain, tetapi soto Sokaraja memiliki keunikan pada bumbu, sambal dan adonannya. Getuk goreng merupakan jajanan khas Banyumas yang tidak terdapat di daerah lain. Mendoan adalah tempe yang berbentuk tipis dan lebar, digoreng setengah matang, dengan bumbu tetentu sehingga memiliki rasa yang khas. Biasanya dimakan dengan cabai rawit, sehingga menciptakan citarasa unik.  Keripik tempe saat ini banyak dibuat di daerah lain, walaupun kalau dicermati rasanya akan berbeda dengan keripik tempe khas Banyumas, karena bumbu dan cara menggoreng yang berbeda..

Gairah masyarakat untuk menikmati masakan dan jajan tradisional cukup menggembirakan. Sayangnya, sebagaimana ODTW, potensi kuliner Banyumas juga berada dalam tahap stagnasi. Berkembang pesat tidak, gulung tikar pun tidak. Padahal secara teoritis, wisatawan akan berkunjung ke suatu daerah bila ada sesuatu yang bisa dilihat ( something to see ), dikerjakan ( something to do ), dan dibeli ( something to buy ). Makanan tradisional Banyumas bila digarap secara serius dapat menjadi something to buy, bahkan something to do bagi wisatawan.

Stagnasi wisata kuliner Banyumas tidak terlepas dari konsep pariwisata saat ini yang memandang kuliner sebagai sarana penunjang pariwisata ( supporting tourism superstructure ). Kuliner tradisional tidak termasuk sarana pokok pariwisata ( main tourism superstructure ), sehingga dalam proses perencanaan dan pembangunan pariwisata kalah tertinggal dibanding hotel, restoran, bandara, atau objek wisata. Padahal suatu daerah atau wilayah tujuan wisata akan sulit berkembang tanpa didukung oleh sarana penunjang pariwisata yang khas.

Mengharap makanan tradisional Banyumas dikenal di mancanegara tentu bukan mimpi di siang hari. Terpenting adalah bagaimana upaya yang dilakukan pemerintah agar soto Sokaraja, getuk goreng, mendoan, dan kripik tempe bisa go international. Situs pariwisata Banyumas di internet belum menyajikan informasi yang lengkap tentang peta kuliner tradisional tersebut. Belum terdapat informasi mengenai sejarah kuliner, lokasi, harga, rasa maupun proses pembuatan masakan tradisional Banyumas.

Informasi tentang profil kuliner penting bagi wisatawan, khususnya wisatawan mancanegara. Tidak semua jenis makanan tradisional bisa dinikmati wisatawan. Banyak wisatawan yang sensitif terhadap rasa pedas, seperti wisatawan Jepang dan sebagian besar Eropa. Tahun 1980-an pariwisata Bali pernah diterpa isu Bali belly, yaitu kasus wisatawan Jepang yang menderita diare setelah menyantap makanan tradisional Bali yang pedas. Apalagi jika proses pembuatan dan penyajiannya tidak higienis. Wisatawan akan merasa jijik bila melihat makanan yang disajikan dengan jorok dan penuh lalat di sekitarnya. Jika makanan tradisional Banyumas hendak go international perlu dilakukan pembinaan terhadap para pengusaha industri kecil tersebut; baik dari segi pembuatan maupun pelayanannya.

 

Paket Inovatif

Upaya lain yang dapat dilakukan adalah dengan mengadakan program familiarization tour, yaitu kegiatan anjangsana mengundang agen perjalanan atau asosiasi kuliner asing untuk berkunjung ke Banyumas. Kerjasama seperti itu bertujuan mengenalkan dan mempromosikan berbagai makanan tradisional yang layak dijual kepada wisatawan. Dengan catatan, program familiarization tour dilakukan setelah pembinaan usaha kuliner berjalan optimal.

Diversifikasi produk wisata Banyumas bukan hanya mencari produk alternatif wisata sungai Serayu, seperti yang saat ini sedang dicoba pemerintah daerah Banyumas. Produk wisata semacam itu akan mengalami kegagalan pemasaran bila tidak sesuai dengan tipologi kunjungan wisatawan ke Banyumas. Wisatawan yang berkunjung ke Banyumas saat ini baru pada tipe “berhenti sesaat” ( just stop for a moment ). Belum lagi kompetisi produk sejenis di daerah lain yang lebih menarik dibanding wisata sungai Serayu.

Diversifikasi akan lebih menarik jika ditopang oleh paket wisata inovatif seperti resto culture, accommodation culture, atau adventure culture. Yaitu perpaduan antara produk wisata yang ditawarkan dengan paket inovatif lain ( Lihat : I Wayan Wijayasa, 2005 : 84 ). Misalnya, setelah menikmati makanan  soto di Sokaraja, menyaksikan kesenian lengger Banyumasan di hotel, atau wisata sungai Serayu, wisatawan diajak belajar membuat makanan tradisional Banyumas. Sehingga wisatawan tidak hanya mendapatkan something to see atau something to buy saja, tetapi juga tambahan paket something to do. Hal ini tentu akan menambah lama kunjungan wisatawan ke Banyumas.

Menawarkan potensi wisata kuliner sebagai produk dan atraksi wisata Banyumas tidak terlalu membutuhkan banyak biaya. Diperlukan manajemen informasi dan komunikasi pariwisata yang melibatkan berbagai komponen, baik media cetak, penyiaran, internet, maupun jaringan agen perjalanan dan asosiasi profesi kuliner. Beberapa surat kabar nasional dan daerah telah menyajikan informasi kuliner Banyumas. Tinggal dipilih dan dipilah jenis kuliner tradisional yang layak untuk dijual kepada wisatawan.

Dimana pun orang melakukan kunjungan wisata tentu berharap agar memperoleh kenangan dan ada sesuatu yang dapat dinikmati serta dibawa sebagai buah tangan. Satu hal yang ironis jika wisatawan mancanegara datang ke Banyumas disuguhi makanan fast food yang notabene banyak terdapat di negara asalnya. Sementara soto Sokaraja, getuk goreng, mendoan, kripik tempe, dan makanan tradisional lain telah menjadi jajanan wajib bagi para pelancong dari kabupaten tetangga. Padahal potensi kuliner Banyumas layak untuk go international. Mengapa tidak dicoba?

Artikel ini pernah dimuat dengan judul: Menggarap Potensi Wisata Kuliner. Suara Merdeka, Kamis 17 Juli 2008

 

Iklan

Menjual Paket Wisata Kuliner Banyumas

 MAKAN EDIT

 

Banyak motivasi wisatawan mengunjungi suatu daerah. Jawa Barat terkenal dengan wisata alam, agrowisata, dan belanja. Orang berkunjung ke Jakarta untuk belanja, rekreasi, dan konvensi. Bali mempunyai atraksi seni budaya dan pantai yang tidak habis untuk dijual kepada wisatawan. Yogya banyak dikunjungi wisatawan karena seni budaya dengan gudeg sebagai masakan khas yang memiliki daya tarik wisata kuliner.

Kabupaten Banyumas saat ini masih mengandalkan lokawisata Baturraden sebagai objek dan daya tarik wisata ( ODTW ). Namun bila dicermati, pasca tragedi runtuhnya jembatan di Baturraden, terjadi stagnasi pariwisata Banyumas. Bahkan cenderung menuju tahap penurunan ( decline ), baik kuantitas`wisatawan maupun kualitas sarana dan prasarana pariwisata.

Banyumas juga memiliki potensi kuliner khas yang beragam, mulai dari soto Sokaraja, getuk goreng, mendoan, kripik tempe, sampai kepada jenis kuliner baru hasil kreativitas masyarakat. Meskipun soto adalah jenis masakan yang banyak terdapat di derah lain, tetapi soto Sokaraja memiliki keunikan pada bumbu, sambal dan adonannya. Getuk goreng merupakan jajanan khas Banyumas yang tidak terdapat di daerah lain. Mendoan adalah tempe yang berbentuk tipis dan lebar, digoreng setengah matang, dengan bumbu tetentu sehingga memiliki rasa yang khas. Biasanya dimakan dengan cabai rawit, sehingga menciptakan citarasa unik.  Keripik tempe saat ini banyak dibuat di daerah lain, walaupun kalau dicermati rasanya akan berbeda dengan keripik tempe khas Banyumas, karena bumbu dan cara menggoreng yang berbeda..

Gairah masyarakat untuk menikmati masakan dan jajan tradisional cukup menggembirakan. Sayangnya, sebagaimana ODTW, potensi kuliner Banyumas juga berada dalam tahap stagnasi. Berkembang pesat tidak, gulung tikar pun tidak. Padahal secara teoritis, wisatawan akan berkunjung ke suatu daerah bila ada sesuatu yang bisa dilihat ( something to see ), dikerjakan ( something to do ), dan dibeli ( something to buy ). Makanan tradisional Banyumas bila digarap secara serius dapat menjadi something to buy, bahkan something to do bagi wisatawan.

Stagnasi wisata kuliner Banyumas tidak terlepas dari konsep pariwisata saat ini yang memandang kuliner sebagai sarana penunjang pariwisata ( supporting tourism superstructure ). Kuliner tradisional tidak termasuk sarana pokok pariwisata ( main tourism superstructure ), sehingga dalam proses perencanaan dan pembangunan pariwisata kalah tertinggal dibanding hotel, restoran, bandara, atau objek wisata. Padahal suatu daerah atau wilayah tujuan wisata akan sulit berkembang tanpa didukung oleh sarana penunjang pariwisata yang khas.

Mengharap makanan tradisional Banyumas dikenal di mancanegara tentu bukan mimpi di siang hari. Terpenting adalah bagaimana upaya yang dilakukan pemerintah agar soto Sokaraja, getuk goreng, mendoan, dan kripik tempe bisa go international. Situs pariwisata Banyumas di internet belum menyajikan informasi yang lengkap tentang peta kuliner tradisional tersebut. Belum terdapat informasi mengenai sejarah kuliner, lokasi, harga, rasa maupun proses pembuatan masakan tradisional Banyumas.

Informasi tentang profil kuliner penting bagi wisatawan, khususnya wisatawan mancanegara. Tidak semua jenis makanan tradisional bisa dinikmati wisatawan. Banyak wisatawan yang sensitif terhadap rasa pedas, seperti wisatawan Jepang dan sebagian besar Eropa. Tahun 1980-an pariwisata Bali pernah diterpa isu Bali belly, yaitu kasus wisatawan Jepang yang menderita diare setelah menyantap makanan tradisional Bali yang pedas. Apalagi jika proses pembuatan dan penyajiannya tidak higienis. Wisatawan akan merasa jijik bila melihat makanan yang disajikan dengan jorok dan penuh lalat di sekitarnya. Jika makanan tradisional Banyumas hendak go international perlu dilakukan pembinaan terhadap para pengusaha industri kecil tersebut; baik dari segi pembuatan maupun pelayanannya.

 

Paket Inovatif

Upaya lain yang dapat dilakukan adalah dengan mengadakan program familiarization tour, yaitu kegiatan anjangsana mengundang agen perjalanan atau asosiasi kuliner asing untuk berkunjung ke Banyumas. Kerjasama seperti itu bertujuan mengenalkan dan mempromosikan berbagai makanan tradisional yang layak dijual kepada wisatawan. Dengan catatan, program familiarization tour dilakukan setelah pembinaan usaha kuliner berjalan optimal.

Diversifikasi produk wisata Banyumas bukan hanya mencari produk alternatif wisata sungai Serayu, seperti yang saat ini sedang dicoba pemerintah daerah Banyumas. Produk wisata semacam itu akan mengalami kegagalan pemasaran bila tidak sesuai dengan tipologi kunjungan wisatawan ke Banyumas. Wisatawan yang berkunjung ke Banyumas saat ini baru pada tipe “berhenti sesaat” ( just stop for a moment ). Belum lagi kompetisi produk sejenis di daerah lain yang lebih menarik dibanding wisata sungai Serayu.

Diversifikasi akan lebih menarik jika ditopang oleh paket wisata inovatif seperti resto culture, accommodation culture, atau adventure culture. Yaitu perpaduan antara produk wisata yang ditawarkan dengan paket inovatif lain ( Lihat : I Wayan Wijayasa, 2005 : 84 ). Misalnya, setelah menikmati makanan  soto di Sokaraja, menyaksikan kesenian lengger Banyumasan di hotel, atau wisata sungai Serayu, wisatawan diajak belajar membuat makanan tradisional Banyumas. Sehingga wisatawan tidak hanya mendapatkan something to see atau something to buy saja, tetapi juga tambahan paket something to do. Hal ini tentu akan menambah lama kunjungan wisatawan ke Banyumas.

Menawarkan potensi wisata kuliner sebagai produk dan atraksi wisata Banyumas tidak terlalu membutuhkan banyak biaya. Diperlukan manajemen informasi dan komunikasi pariwisata yang melibatkan berbagai komponen, baik media cetak, penyiaran, internet, maupun jaringan agen perjalanan dan asosiasi profesi kuliner. Beberapa surat kabar nasional dan daerah telah menyajikan informasi kuliner Banyumas. Tinggal dipilih dan dipilah jenis kuliner tradisional yang layak untuk dijual kepada wisatawan.

Dimana pun orang melakukan kunjungan wisata tentu berharap agar memperoleh kenangan dan ada sesuatu yang dapat dinikmati serta dibawa sebagai buah tangan. Satu hal yang ironis jika wisatawan mancanegara datang ke Banyumas disuguhi makanan fast food yang notabene banyak terdapat di negara asalnya. Sementara soto Sokaraja, getuk goreng, mendoan, kripik tempe, dan makanan tradisional lain telah menjadi jajanan wajib bagi para pelancong dari kabupaten tetangga. Padahal potensi kuliner Banyumas layak untuk go international. Mengapa tidak dicoba?

Artikel ini pernah dimuat dengan judul: Menggarap Potensi Wisata Kuliner. Suara Merdeka, Kamis 17 Juli 2008

Menata Objek Wisata Spiritual

GWK EDIT3

Kecenderungan wisatawan mengunjungi objek wisata kini mulai beragam. Wisatawan tidak hanya berkunjung ke objek wisata yang sudah berkembang saja. Beberapa objek wisata yang potensial dan masih “perawan” mulai digemari wisatawan. Alasan mengunjungi objek wisata baru pun bermacam-macam, seperti daya tarik objek, sekadar coba-coba, atau jenuh dengan objek wisata yang telah berkembang.

Salah satu jenis wisata yang mulai digemari di kabupaten Banyumas adalah wisata spiritual, yaitu mengunjungi tempat-tempat yang dianggap keramat oleh masyarakat. Kegiatan yang dilakukan adalah berziarah ke makam seorang tokoh yang diwarnai mitologi di masyarakat atau mengunjungi situs purbakala. Tidak sedikit pengunjung yang bermalam di objek wisata spiritual. Mereka berasal bukan hanya dari kabupaten Banyumas saja, tetapi juga dari daerah lain di Jawa Tengah.

Wisata spiritual termasuk kategori wisata minat khusus ( special interest tourism ). Objek dan kegiatan yang dilakukan wisatawan pada wisata spiritual berbeda dengan wisata alam dan wisata belanja. Motivasi wisatawan yang berkunjung ke objek wisata spiritual adalah motif simbolis, estetis, magis dan mistis, serta informatif. Motif simbolis dan estetis berkaitan dengan komunikasi terhadap ruang dan waktu lampau. Motif magis dan mistis berhubungan dengan aura supranatural objek wisata. Sedangkan motif informatif adalah keingintahuan wisatawan terhadap sejarah objek wisata.

Penataan

Kabupaten Banyumas memiliki banyak objek wisata spiritual. Diantaranya adalah Gua Maria, Kendalisada, dan makam Kalibening di Banyumas; makam Kaligintung di Patikraja, makam Ki Sapu Angin di Lumbir, Gunung Putri di Purwojati, dan objek lain. Sayangnya, hingga kini belum ada peta objek wisata spiritual yang lengkap di kabupaten Banyumas.  Aksesibilitas, sarana, dan prasarana menuju dan di sekitar objek wisata juga belum memadai.

Ada kesan, objek wisata spiritual di kabupaten Banyumas berkembang tanpa penataan dan perencanaan yang matang. Seperti misalnya, ketidaksiapan juru kunci makam Kaligintung di desa Wlahar Lor, kecamatan Patikraja untuk memberikan informasi yang lengkap kepada pengunjung ( Suara Merdeka, Edisi Suara Banyumas, 23/ 02 halaman P ). Meskipun pengunjung tetap berdatangan, namun perlu dilakukan penataan yang baik agar wisata spiritual dapat menjadi bagian dari diversifikasi objek wisata di kabupaten Banyumas.

Penataan objek wisata spiritual dapat dimulai dengan inventarisasi objek yang ada di kabupaten Banyumas. Inventarisasi meliputi potensi objek serta sarana dan prasarana yang tersedia. Perlu dibuat dokumentasi berupa gambar, foto, maupun film untuk kepentingan promosi dan publikasi. Untuk itu dibutuhkan kerjasama yang baik antara pihak Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, perhotelan, restoran, dan biro perjalanan untuk merumuskan promosi terpadu.

Pramuwisata Khusus

Pelibatan masyarakat sekitar untuk mendukung dan mengelola objek wisata spiritual sangatlah penting. Masyarakat setempat biasanya sudah memiliki pengetahuan dalam mengelola sumber daya yang ada di daerahnya. Pengetahuan serta pengalaman masyarakat yang diperoleh secara turun temurun akan menimbulkan kesadaran untuk menjaga dan melestarikan objek wisata spiritual.

Kalau pun masih ada pengelola atau juru kunci objek wisata yang tidak memiliki pengetahuan lengkap, maka tugas Dinas Kebudayaan dan Pariwisata untuk melakukan pembinaan. Jika perlu disiapkan pramuwisata khusus pada objek wisata spiritual. Pembinaan meliputi kemampuan komunikasi pramuwisata untuk menjelaskan secara lengkap objek wisata serta etika pramuwisata sesuai standar Himpunan Pramuwisata Indonesia ( HPI ).  Juru kunci di daerah biasanya mengalami kendala untuk menjelaskan kepada wisatawan dengan menggunakan bahasa Indonesia; apalagi bahasa asing.

Objek wisata spiritual di berbagai daerah selalu dikaitkan dengan mitos yang ada di masyarakat. Terlepas dari kepercayaan yang dianut wisatawan, mitologi adalah bagian dari sistem nilai dan budaya suatu masyarakat. Tugas pramuwisata yaitu menjelaskan objek wisata dan mitologinya tanpa harus memaksa wisatawan untuk percaya. Wisatawan yang berkunjung ke objek wisata spiritual tentu sudah memiliki motivasi dan pengetahuan awal tentang objek tersebut.

Tata cara kunjungan penting untuk diinformasikan kepada wisatawan. Mitologi seputar makam, petilasan, gua, dan situs purbakala selalu disertai tabu atau pantangan tertentu. Secara sosial antropologis, pantangan tersebut tidak dimaksudkan untuk mengultuskan orang atau objek tertentu. Tabu dalam masyarakat bertujuan menjaga kelestarian bangunan, lingkungan, maupun sistem nilai yang diwariskan dari generasi ke generasi. Disinilah pramuwisata khusus diharapkan  berperan dalam konservasi objek wisata spiritual.

Wisata spiritual saat ini memang masih merupakan trend. Namun tidak tertutup kemungkinan, ketika wisatawan mengalami kejenuhan terhadap objek wisata yang sudah berkembang, maka objek wisata spiritual menjadi pilihan alternatif. Perlu diingat, objek wisata seperti ini sangat sensitif terhadap hal-hal yang berbau mistik dan klenik. Sehingga perlu dibuat promosi objek yang proporsional dan rasional agar tidak menimbulkan polemik di masyarakat.

Sudah saatnya pemerintah dan komponen pariwisata Banyumas melakukan penataan terhadap objek wisata spiritual untuk menjadi bagian dari aset dan sumber pendapatan daerah. Penataan juga sekaligus sebagai upaya pelestarian nilai-nilai sosial budaya yang ada di masyarakat.

Tulisan ini pernah dimuat dengan judul: Pesona Wisata Spiritual Banyumas, Suara Merdeka, Senin 16 Maret 2009

Wisata “Dinner” Banyumas

 

BAKSO EDIT2

Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata ( Dinporabudpar ) Kabupaten Banyumas akan menjual paket wisata “Si Panji Dinner “. Diharapkan paket wisata ini dapat menjawab kekurangan atraksi wisata yang digelar di malam hari. ( Suara Merdeka, Edisi Banyumas, 20 / 11 hal. 32).

Bahkan diklaim, paket wisata ini memiliki keunggulan tersendiri apabila dibandingkan dengan daerah yang telah berkembang maju, seperti Bali. Tentu saja paket wisata ini hanya akan berhasil jika didukung oleh Biro Perjalanan Wisata.

Dinporabudpar Banyumas boleh saja mengembangkan gagasan wisata alternatif yang kreatif dan inovatif ini. Sektor pariwisata memang perlu dikelola secara profesional, atraktif, dan inovatif. Namun benarkah  pemerintah, komponen industri pariwisata, dan masyarakat Banyumas sudah benar-benar siap menawarkat paket wisata “dinner” tersebut?

Kesesuaian

Sebagai sebuah industri, pariwisata senantiasa mengikuti “hukum permintaan dan penawaran”. Sebelum sebuah produk wisata dipasarkan perlu dilakukan kajian tentang asal, selera, dan motivasi kunjungan wisatawan ke Banyumas. Kesesuaian antara produk wisata dengan asal, selera, dan motivasi wisatawan menjadi penting agar upaya kreatif dan inovatif itu tepat sasaran dan tidak sia-sia.

Paket wisata “dinner”  atau santap malam  berkaitan dengan makanan dan budaya makan wisatawan. Perlu dilakukan kajian secara serius tentang menu makanan yang akan disajikan, dan karakteristik wisatawan. Menu makanan khas Banyumas apa yang akan disajikan dalam paket “dinner” itu?. Apakah bisa dipastikan sajian dinner itu sudah memenuhi standar higenis? Tidak semua wisatawan akan dapat menikmati sajian makanan khas Banyumas. Jangan sampai kasus Bali Belly di tahun 1970-an terjadi di Banyumas, yakni kasus wisatawan mancanegara yang diare karena menyantap masakan khas Bali yang pedas.

Menikmati santap malam dapat menjadi sebuah paket wisata jika didukung oleh setting atau konteks tempatnya. Menikmati dinner di Puri Mengwi, Bali atau di Tanah Lot  menjadi daya tarik karena wisatawan dapat menikmati suasana Bali yang sarat dengan adat, agama, dan tradisi sambil memandang puri ( istana raja ) dan pura. Santap malam di Jimbaran Bali menarik bagi wisatawan, karena dapat menikmati suasana malam di tengah deburan ombak. Di Ubud, Gianyar, Bali, wisatawan santap malam di tengah perkampungan seni.

Apakah pemilihan Pendapa Kabupaten Si Panji di kota Purwokerto, Kabupaten Banyumas sudah dipertimbangkan sesuai dengan konteks wisata “dinner” Banyumas?. Apakah lingkungan dan arsitektur Pendapa tersebut sudah dapat merepresentasikan masyarakat, budaya, adat, dan tradisi di Banyumas?. Pertanyaan tersebut perlu dijawab agar paket wisata inovatif itu punya nilai jual kepada wisatawan

 

Kesinambungan

            Paket wisata “dinner” sudah sejak tahun 1980 dikembangkan di Bali. Salah satunya adalah wisata makan malam di Puri Mengwi, Kabupaten Badung, Bali. Paket tersebut didukung oleh Biro Perjalanan Wisata, hotel, dan restoran. Prinsip timbal balik  ( principle of reciprocity ) menjadi landasan pengembangan paket wisata itu. Manfaat yang diperoleh bukan hanya secara ekonomis, tapi juga secara soaial budaya. ( Ni Made Ruastiti, 2004: 51 )

Komponen pariwisata Banyumas perlu belajar banyak dari pengalaman pengembangan paket wisata “dinner” di Bali. Manfaat paling penting dalam pengembangan produk wisata, selain bagi pemerintah dan pengusaha pariwisata, adalah bagi masyarakat Banyumas. Dengan demikian, prinsip timbal balik itu berjalan secara berkesinambungan. Secara ekonomis masayarakat Banyumas perlu diuntungkan dari paket wisata “dinner” itu. Kebutuhan akan sayuran, daging, dan bahan olahan sajian santap malam harus bersumber dari masyarakat lokal di Banyumas.

Secara sosial budaya, pengembangan paket wisata “dinner” menguntungkan bagi pelaku seni dan budaya tradisional yang tampil saat jamuan makan malam wisatawan. Paket wisata itu diharapkan mampu mendorong pertumbuhan kelompok-kelompok kesenian di Banyumas. Oleh sebab itu, paket wisata ini perlu dirancang secara sistemik, holistik, dan kesinambungan dengan melibatkan seluruh pelaku pariwisata dan pelaku seni budaya tradisional di Banyumas. Berbagai hasil penelitian menunjukkan perkembangan yang memprihatinkan dari kesenian tradisional di Banyumas. Banyak jenis kesenian tradisional Banyumas yang nyaris punah, hidup enggan mati pun tidak.

Perlu dilakukan kembali inventarisasi berbagai kesenian tradisional dan budaya Banyumas agar dapat direvitalisasi, dibina, dan diberdayakan dalam paket wisata “dinner”. Jangan sampai, paket wisata ini hanya menguntungan penguasaha pariwisata, sedangkan masyarakat menjadi penonton.

artikel ini pernah dimuat dengan judul: Wisata Dinner Banyumas, Suara Merdeka, Rabu 3 Desember 2014

Pariwisata Banyumas: Antara Kafe dan Desa Wisata

SAWAH EDIT8

Dinas Cipta Karya Kebersihan dan Tata Ruang ( DCKKTR ) Kabupaten Banyumas mengeluarkan nota dinas terkait keberadaan kafe di Daerah Aliran Sungai ( DAS ) Banjaran. Nota dinas itu berisi perintah untuk membongkar kafe tersebut, karena tidak memiliki Izin Mendirikan Bangunan ( IMB ) serta melanggar Perda No.6 Tahun 2005.

Padahal tak jauh dari kafe tersebut terdapat Desa Ketenger, Kecamatan Baturraden yang akan dikembangkan sebagai Desa Wisata. Apakah keberadaan kafe  memang dibutuhkan dalam pengembangan Desa Wisata atau pemkab Banyumas yang kecolongan? Tampaknya Pemkab Banyumas belum memiliki landasan filosofi, konsep, dan kebijakan strategis yang jelas tentang arah pembangunan pariwisata, sehingga terjadi kasus seperti itu.

Pembangunan pariwisata di berbagai tempat selalu menimbulkan kerakusan dan kerusakan. Pariwisata sangat rakus akan lahan, rakus terhadap investasi dan dampak buruk. Pariwisata kerap mengakibatkan kerusakan alam dan tatanan sosial budaya, sekecil apa pun kerusakan itu. Jika tidak dilandasi filosofi, konsep, dan kebijakan strategis yang baik, maka pariwisata bisa menjadi anggur yang memabukkan dan madu yang mematikan.

 

Berkelanjutan

Beberapa potensi alam, budaya, dan kuliner terdapat di Desa Ketenger. Pemandangan alam yang bagus, sawah, bebatuan gunung yang besar, dan petilasan atau makam yang menyimpan mitos. Namun bentuk dan ragam potensi itu masih perlu dikelola dengan baik agar dapat dijual ke pasar wisata. Studi kelayakan masih perlu terus dilakukan di Desa Ketenger. Pembangunan infrastruktur yang tergesa-gesa justru akan menimbulkan masalah di kemudian hari.

Belum jelas dasar pemikiran mengapa Ketenger akan dijadikan Desa Wisata. Apakah memang keinginan masyarakat setempat, para elit di desa, para pejabat di Pemkab Banyumas, atau keinginan investor saja? Bagaimana kesiapan masyarakat bila Ketenger kelak berkembang menjadi Desa Wisata?

Konsep yang mendasari pembangunan Desa Wisata Ketenger juga belum jelas. Apakah akan dikembangkan sebagai Desa Wisata atau Desa Budaya? Kekayaan budaya Ketenger masih perlu digali agar mampu menarik wisatawan. Belum ditemukan potensi budaya yang khas. Dinamika aktivitas budaya yang berlangsung setiap hari juga belum tampak di Ketenger.

Sebaiknya masyarakat Ketenger dan Pemkab Banyumas segera menentukan pilihan konsep pariwisata yang akan diterapkan. Apakah Eko Wisata, Wisata Budaya, atau Pariwisata Berkelanjutan? Masing – masing konsep pengembangan pariwisata tersebut berimplikasi pada kebijakan strategis yang akan dibuat Pemkab Banyumas.

Berdasarkan potensi yang dimiliki, Ketenger lebih cocok untuk dikembangakan dengan konsep Pariwisata Berkelanjutan ( sustainable tourism ) dan Eko Wisata ( eco tourism )  yang mengandalkan pemandangan alam. Selain Curug Gede dan Curug Bayan, Ketenger juga memiliki Curug Kembar, Curug Celiling, Curug Lawet, Curug Petir, Curug Gumang, Bukit Cendana Sari, dan Bukit Bander yang layak  dijadikan objek eko wisata berkelanjutan.

Budaya dan kuliner yang ada di Ketenger bisa dijadikan pendukung eko wisata. Terdapat kuliner khas, seperti Tempe Gatel ( tempe dan sega / nasi sebuntel ), Teh Gilis ( teh diseduh dengan gula aren ), dan Tahu Ketenger. Sayang publikasi dan promosi kuliner Ketenger belum optimal seperti halnya Getuk Goreng dan Sroto Sokaraja.

Pariwisata alam yang berkelanjutan akan membawa manfaat yang layak secara ekonomis dan adil secara etis. Eko Wisata berbasis alam dan kearifan lokal yang harus dilestarikan keberadaannya. Pariwisata Berkelanjutan juga menuntut adanya konservasi lahan dan perlindungan keanekaragaman hayati ( Sherman and Dixon, 1991 )

Keberadaan kafe di bibir DAS Banjaran dengan demikian kurang sesuai dengan konsep Pariwisata Berkelanjutan maupun pengembangan Ketenger sebagai Desa Wisata. Akomodasi, moda transportasi, atraksi seni budaya, dan ragam kuliner harus mempertimbangkan nilai-nilai masyarakat dan Ketenger sebagai kawasan pedesaan. Kafe dan hotel bukanlah sarana pariwisata yang khas bagi Desa Wisata.

Pariwisata mesti berkelanjutan dalam perspektif lingkungan, ekonomi, dan sosial budaya. Pariwisata tidak harus merusak alam, melanggar aturan yang ada, atau sekadar menyenangkan investor. Manfaat ekonomis pariwisata harus bisa dinikmati oleh seluruh masyarakat, seperti retribusi objek, parkir, tempat penginapan, transportasi, dan kuliner.            Jangan sampai pendapatan sektor pariwisata hanya dinikmati pemerintah dan investor tanpa ada sharing yang jelas bagi masyarakat dan biaya konservasi lingkungan alam dan sosial budaya. Pembangunan pariwisata yang tidak memperhatikan aspek kelestarian lingkungan dan partisipasi masyarakat akan selalu mendapat resistensi banyak pihak.

Sudah saatnya Pemkab Banyumas membuat cetak biru yang jelas bagi pembangunan pariwisata agar tidak terjadi lagi kasus serupa.

Isi Tulisan ini pernah dimuat di: Pariwisata Banyumas : Antara Kafe dan Desa Wisata, KOMPAS, Senin 23 November 2009

PARIWISATA BANYUMAS PERLU IMAGING PROJECT

NGEPIT

Bupati dan Wakil Bupati kepala daerah Banyumas terpilih sudah dilantik pada tanggal 11 April lalu. Jauh hari sebelumnya, polemik tentang pariwisata Banyumas berkembang di media massa.Hingga kini polemik dan wacana itu masih berlanjut serta belum menghasilkan kesimpulan yang jelas. Mau seperti apa dan hendak dibawa kemana pariwisata Banyumas belum ada gambaran terang bagi masyarakat. Barangkali memang karena belum ada blue print dan grand design tentang arah perkembangan dan pengembangan pariwisata di Banyumas. Bahkan landasan konsep dan filosofinya pun boleh jadi belum dirumuskan.

Pihak legislatif dan eksekutif hanya dapat memprediksi dan menargetkan angka kunjungan dan perolehan pendapatan asli daerah ( PAD ) yang disumbang sektor pariwisata. Sementara kalangan industri pariwisata mengeluhkan sarana dan prasarana kepariwisataan yang kurang memadai. Pemerintah daerah ( pemda ) hanya melihat pariwisata dari sisi economic benefit dengan cara menggenjot PAD atau menaikkan retribusi di obejk dan daya tarik wisata ( ODTW ).

Tampaknya ada kesenjangan antara political will pemda dengan service oriented komponen industri pariwisata. Bagaimana mau meningkatkan kunjungan wisatawan jika aksesibilitas menuju ODTW masih belum memadai. Sementara peraturan daerah ( perda  ) yang dihasilkan bersama antara eksekutif dan legislatif belum memberi gambaran jelas tentang arah dan konsep pengembangan pariwisata di Banyumas. Apakah selama ini sudah dirumuskan secara tegas kontribusi sektor pariwisata bagi masyarakat Banyumas, sampai kemudian muncul polemik tentang keinginan kelompok kesenian untuk bisa tampil di hotel atau restoran. Apakah sudah ada landasan filosofis yang tegas : pariwisata untuk Banyumas ataukah Banyumas untuk pariwisata?.

Membandingkan pariwisata Banyumas dengan Bali barangkali ibarat bumi dan langit. Bali adalah sebuah propinsi yang memiliki pantai, sawah, danau, hasil kerajinan, dan seni budaya yang laris manis untuk ”dijual” kepada wisatawan. Sarana prasarana dan ODTW Bali sudah dikelola secara terencana, mapan, dan profesional. Sumber daya manusia yang terlibat dalam industri pariwisata juga sudah jauh lebih maju dibanding Banyumas. Namun jauh lebih penting dari itu semua, Bali memiliki konsep dan filosofi yang sudah lama menjadi landasan pengembangan pariwisatanya.

Pariwisata Bali dilandasi oleh semangat Tourism for Bali, bukan Bali for Tourism. Semangat etis itu kemudian diperkuat konsep pengembangan pariwisata berlandaskan budaya Bali yang dijiwai falsafah Tri Hita Karana, yaitu hubungan antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia, dan manusia dengan alam semesta. Setiap perda pariwisata di Bali mengacu pada konsep pariwisata budaya dan Tri Hita Karana tersebut.

Keterlibatan masyarakat Bali di sektor pariwisata pun cukup besar, baik sebagai tenaga kerja di pariwisata, sebagai perajin maupun seniman, dan keterlibatan dalam proses pembuatan kebijakan. Sebagai contoh, keterlibatan masyarakat adat di objek wisata Tanah Lot dan Alas Kedaton di kabupaten Tabanan yang ikut mengelola objek dan memutuskan kenaikan retribusi objek wisata. Hal serupa juga dilakukan oleh resort atau hotel berbintang untuk memberi kesempatan kepada para perajin memasarkan hasil karyanya serta sekehe ( kelompok ) kesenian tradisional untuk tampil di hotel.

Tentu saja pengembangan pariwisata Bali bukan tanpa masalah. Kerusakan lingungan dan abrasi pantai belakangan ini mulai terjadi serius. Lahan pertanian di Bali tiap tahun juga menyempit karena dimanfaatkan bisnis pariwisata. Belum lagi perubahan perilaku masyarakat dan kecemburuan sosial ekonomi antara pendatang dan masyarakat lokal. Akan tetapi permasalahan itu bukan lantaran perda yang kurang tegas, namun lebih karena kurangnya komitmen beberapa pihak terhadap perda dan aturan yang dibuat.

Keberhasilan Bali dalam pengembangan pariwisata bukan semata ditopang oleh alam, budaya, adat dan tradisinya. Keseriusan pemda di seluruh kabupaten di Bali untuk menjadikan pariwisata sebagai primadona memang patut dicontoh. Bali bukan hanya menjual produk, tetapi juga citra pariwisata secara keseluruhan: citra tentang objek wisata, citra budaya, citra masyarakat, dan cintra kondisi Bali yang damai. Bahkan saat ini Bali telah memiliki branding pariwisata : Bali Shanti, Shanti, Shanti; yang berarti Bali yang damai. Branding tersebut merupakan proyek pencitraan ( imaging project ) yang dananya diambil dari APBD Bali.

Lantas bagaimana dengan pariwisata Banyumas?. Sudahkah pemda Banyumas dan komponen industri pariwisata merapatkan barisan untuk menyusun konsep, rencana strategis, dan rencana kerja yang jelas untuk pengembangan pariwisata? Sudahkah pariwisata Banyumas memiliki branding yang menggambarkan konsep, filosofi, dan orientasi pariwisatanya?.

Sejujurnya pertanyaan-pertanyaan tersebut masih bisa berlanjut, yang pada hakikatnya ingin mengetahui seberapa serius eksekutif, legislatif, komponen industri, dan masyarakat menjadikan pariwisata sebagai lumbung pendapatan daerah. Masih banyak potensi kepariwisataan Banyumas yang belum digarap secara serius, komprehensif, holistik, integratif, dan partisipatif. Pemetaan ( mapping )  potensi pariwisata dengan demikian perlu dilakukan untuk dapat merumuskan langkah-langkah strategis berikutnya, yaitu membuat branding dan imaging project  pariwisata Banyumas.

Pencitraan acapkali memang dianggap boros biaya ( wasting money ) dan kurang penting. Namun bukankah pariwisata adalah sebuah industri tanpa cerobong asap, industri jasa yang sarat citra?. Semua berpulang pada pengambil kebijakan di Banyumas untuk segera berbenah diri di sektor pariwisata, atau tertinggal dari daerah lain di Jawa Tengah.

Artikel ini pernah dimuat dengan judul: Pencitraan Pariwisata Banyumas. Suara Merdeka, Selasa 13 Mei 2008