Segera Susun Strategi Pemulihan

lokawisata-baturraden

( Foto: SM/ Nugroho P-60 )

Perpanjangan masa penutupan objek wisata di Banyumas hingga tanggal 8 April merupakan pukulan berat bagi pelaku wisata. Namun keputusan Pemkab Banyumas tersebut tentu dapat dimaklumi.

Pemerintah Kabupaten Banyumas perlu segera menyusun strategi pemulihan pasca wabah Covid-19 berlalu. Sebab, wisata Banyumas harus bangkit. Secara sosial psikologis dampak Covid-19 juga sangat menakutkan dibanding Bom Bali. Orang takut untuk bepergian dan mengunjungi objek wisata. Bila mencermati perkembangan pandemi covid-19 di wilayah Banyumas, bisa terjadi kemungkinan perpanjangan hingga bulan puasa. Dampak wabah ini semua terkena imbasnya, dan semua komponen pariwisata terpuruk, mulai sektor transportasi, akomodasi, kuliner, industri kecil, hingga sektor pertanian pendukung pariwisata,

Sedari awal perlu disiapkan langkah – langkah strategis pasca pandemi Covid-19. Pemkab perlu melakukan pemeliharaan dan perbaikan sarana pra sarana di seluruh objek wisata yang ditutup cukup lama. Hal itu penting, agar ketika objek wisata dibuka kembali, semua sarana prasarana dan wahana siap untuk diserbu wisatawan.DI sisi lain,  Banyumas harus menyiapkan strategi promosi wisata untuk mendatangkan kembali wisatawan ke Banyumas. Salah satunya dengan memberikan diskon menginap dan kuliner bagi wisatawan. Selain itu juga perlu berjejaring dengan biro perjalanan wisata dari daerah lain.

Perlu menyiapkan event atau atraksi wisata baru yang dapat menarik kunjungan dan menambah lama tinggal wisatawan. Kalender wisata yang telah diluncurkan perlu dikoreksi. Beberapa even yang batal digelar bisa diganti dengan event baru yang lebih punya daya jual di pasar wisata, dengan tetap mempertahankan even yang memang bertujuan untuk melestarikan budaya Banyumas.

Selain itu perlu menggandeng kelompok seni budaya di Banyumas untuk turut serta dalam program pemulihan pariwisata Banyumas. Selain juga perlu bekerjasama dengan media cetak, penyiaran, maupun pegiat media sosial untuk mengkampanyekan program pemulihan pariwisata.InvestasiPemkab juga perlu mempermudah investasi di sektor pariwisata, dengan tetap memperhatikan daya dukung wilayah dan lingkungan. Agar pelaku wisata kembali bergairah, perlu kebijakan Pemkab untuk meringankan beban pajak maupun permodalan bagi para pengusaha objek wisata, perhotelan, biro perjalanan, kuliner, dan industri kecil.Diharapkan, saat libur lebaran idul fitri kondisi sudah membaik, dan Banyumas kembali siap dikunjungi wisatawan.

selengkapnya di: https://suarabanyumas.com/segera-susun-strategi-pemulihan/

 

Penutupan Objek Wisata Langkah Tepat

wisata-baturraden

( Foto: SM/ Nugoro PS-60 )

Penutupan objek wisata di Kabupaten Banyumas merupakan langkah yang tepat untuk mengantisipasi penyebaran covid-19 di wilayah Banyumas. Meski terasa pahit, tapi itulah langkah preventif yang harus dilakukan.

Pariwisata merupakan industri pelayanan yang mengutamakan kenyamanan, keamanan, dan keselematan. Ketiga faktor itu sangat penting bagi wisatawan.
“Perlu diakui juga kalau sensitif terhadap isu ketiga hal itu. Konsekuensinya memang, target kunjungan dan target pendapatan dari sektor pariwisata tahun ini bisa tidak tercapai. Pemkab perlu memantau perkembangan kasus penyebaran virus Korona dan memperbarui data setiap hari. Dengan catatan, bila kondisi sudah aman, maka objek wisata segera dibuka kembali.

Dampak penutupan ini, kata dia, akan sangat terasa. Bukan hanya oleh pelaku bisnis wisata, tetapi juga industri kecil, seperti kerajinan dan kuliner.
Pastikan juga semua objek wisata, baik yang dikelola pemerintah maupun swasta mengikuti aturan. Jangan sampai ada pengelola objek wisata yang berbeda dengan kebijakan Pemkab.

Penutupan objek wisata merupakan sebagai momentum jeda pariwisata Banyumas. Dalam masa jeda ini Pemkab dapat melakukan evaluasi yang berkaitan dengan pengelolaan objek, pelayanan wisatawan, pemberdayaan masyarakat dan kelompok seni budaya dalam pariwisata, serta meninjau kembali kalender event yang sudah diluncurkan. Selain itu bisa juga digunakan untuk memantau masyarakat di sekitar objek telah mendapat manfaat sosial, budaya, dan ekonomi dari industri pariwisata, baik dalam hal pengelolaan objek maupun investasi modal.
Begitu kondisi aman, Pemkab perlu segera membuat strategi promosi pariwisata yang efektif untuk menjaring wisatawan. Sebab, saat ini, Banyumas masih memiliki kelemahan dalam strategi promosi, meski potensi objek wisata begitu banyak.

Para pelaku bisnis pariwisata di Banyumas diharapkan memahami dan memaklumi kebijakan yang diambil Pemkab. Memaksakan tetap membuka objek wisata dalam keadaan pandemi covid-19 justru akan berdampak panjang di kemudian hari. Bila terjadi kasus di objek wisata, maka recovery nya justru memakan waktu lama

Selengkapnya simak di: https://suarabanyumas.com/penutupan-objek-wisata-langkah-tepat/

Perlu Kerjasama Antar Instansi

kentongan

(Foto : SM / Nugroho PS )

Lemahnya publikasi kerap menjadi biang masalah sepinya gelaran even wisata budaya di Banyumas. Pemkab Banyumas didorong untuk mengoptimalkan kerjasama antar instansi untuk menambah jumlah wisatawan. Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata (Dinporabudpar) Banyumas sebagai penyelenggara maupun fasilitator even seharusnya dapat bekerjasama dengan Dinas Komunikasi dan Informasi (Dinkominfo) untuk publikasi gelaran seni tersebut. Selama ini Dinkominfo belum tampak optimal untuk mengkomunikasikan dan menginformasikan kalender wisata Banyumas melalui sarana dan media yang dimilikinya.
Mestinya Dinkominfo dapat membantu dalam hal komunikasi dan informasi wisata Banyumas. Itu bisa mengatasi kendala kecilnya anggaran promosi even yang dimiliki Dinporabudpar. Mau tak mau harus menggandeng Dinkominfo.

Selain soal publikasi, pemkab juga belum pernah mengukur keberhasilan event, secara sosial, budaya, dan ekonomi. Indikator berhasil secara sosial ekonomi itu sangat penting. Misalnya pada saat event berlangsung, berapa angka hunian hotel, berapa kenaikan omzet penjualan kerajinan, kuliner, dan sebagainya. Kesuksesan dan keberhasilan kalender even bukan hanya di tangan dinporabudpar. Harus ada kerjasama antardinas untuk menyukseskan. Pariwisata tidak mungkin berhasil kalau hanya dilakukan dengan ego sektoral. Tugas pemkab untuk mendorong kerjasama lintas sektor itu agar pariwisata Banyumas bisa lebih maju. Kesuksesan dan keberhasilan kalender even bukan hanya di tangan dinporabudpar. Harus ada kerjasama antardinas untuk menyukseskan. Pariwisata tidak mungkin berhasil kalau hanya dilakukan dengan ego sektoral. Tugas pemkab untuk mendorong kerjasama lintas sektor itu agar pariwisata Banyumas bisa lebih maju.

Selengkapnya baca di: https://suarabanyumas.com/perlu-kerjasama-antar-instansi/

Pemkab Perlu Perbaiki Strategi Publikasi Pentas Seni

atraksi-budaya

(Foto: SM/ Nugroho PS – 60 )

Rencana pemerintah Kabupaten Banyumas untuk memperbanyak pementasan di sejumlah objek wisata patut didukung. Pergelaran tersebut bukan hanya dapat menambah daya tarik objek wisata bagi pengunjung, namun juga dapat menjadi ajang pelestarian seni budaya Banyumasan. Tak hanya menggelar pentas saja, Pemkab juga perlu memperbaiki strategi publikasi yang masif agar pementasan kesenian itu dipadati pengunjung. Apalah artinya memperbanyak pentas seni di objek wisata, jika hanya ditonton oleh segelintir pengunjung.

Publikasi kesenian bisa dilakukan dengan menggandeng komunitas pegiat wisata yang ada di Banyumas maupun luar Banyumas. Dengan demikian, secara masif agenda seni di objek wisata bisa diketahui oleh masyarakat melalui media sosial. Publikasi itu perlu dilengkapi dengan foto atau video kesenian Banyumas serta narasi yang lengkap tentang kesenian tersebut. Tujuannya untuk mengundang rasa penasaran para calon pengunjung.
Publikasi juga bisa dilakukan melalui biro perjalanan. Dengan catataan, jadwal pentas seni di objek wisata memiliki kepastian waktunya. Hal ini disebabkan biro perjalanan akan menawarkan kepada wisatawan, sehingga perubahan waktu pentas yang mendadak tentu saja akan merugikan biro dan wisatawan. Pemkab Banyumas juga perlu segera menyusun jadwal atau agenda yang pasti tentang pentas seni di masing-masing objek wisata. Jadwal itu harus disosialisasikan kepada komunitas pegiat wisata maupun biro perjalanan.

Selain publikasi juga diperlukan pembinaan terhadap kelompok kesenian agar mereka siap tampil untuk acara wisata. Pemkab dapat mefasilitasi relasi antara kelompok kesenian yang ada di Banyumas dengan pemangku kepentingan budaya dan pariwisata, seperti pengelola objek wisata, pihak hotel, dan restoran. Diharapkan pemangku kepentingan tersebut dapat menjadi ‘ayah angkat’ bagi minimal satu kelompok kesenian.
Dengan demikian, masalah dana yang selama ini menjadi kendala bagi kelompok kesenian bisa teratasi. Sebab, kelompok kesenian biasanya mengahadapi masalah dana, baik untuk kepentingan operasional perawatan maupun untuk pementasan. Dengan relasi kelompok kesenian dan pemangku kepentingan, selain mengatasi persoalan dana juga memberi peluang untuk pentas secara berkelanjutan. Pihak pengelola objek wisata, hotel dan restoran untuk memberdayakan kelompok kesenian. Sebab, mereka membutuhkan penyambutan atau hiburan kepada wisatawan yang berkunjung. Sinergi dan relasi tersebut akan menjadikan kelompok kesenian lestari dan sejahtera, dan pariwisata Banyumas berjalan dengan dukungan seni dan budaya Banyumasan. Selengkapnya silakan baca di: https://suarabanyumas.com/pemkab-perlu-perbaiki-strategi-publikasi-pentas-seni/

 

Jalan Tol Peluang Ciptakan ‘Baturraden Baru’

curug-tirta-sela-750x536

( Foto: SM/ Nugroho PS- 52 )

Pemkab Banyumas dinilai perlu menyiapkan langkah strategis untuk menyambut
rencana pembangunan rute tol Pejagan-Cilacap yang melintasi wilayahnya. Salah satunya dengan menyiapkan amenitas dan atraksi. Rute tol tersebut membuka peluang bagi Banyumas untuk mengembangkan objek dan daya tarik wisata, khususnya di wilayah Ajibarang, Wangon, dan Purwokerto Selatan. Aksesibilitas jalan tol sudah menjadi modal awal bagi Banyumas.

Ini kesempatan bagi Banyumas untuk menciptakan “Baturraden Baru” di wilayah tersebut. Oleh sebab itu, perlu segera dilakukan pemetaan potensi wisata yang ada di Ajibarang, Wangon, dan Purwokerto Selatan. Interkonektivitas antara rute jalan tol dengan objek wisata perlu dipertimbangkan. Setelah pemetaan, langkah berikutnya adalah menyiapkan pola pengelolaan objek dan daya tarik wisata baru, sumber daya manusia, serta kelembagaan. Sebaiknya pemerintah daerah melibatkan BUMDes, Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), maupun lembaga sosial di desa untuk ikut mengelola objek wisata.

Dengan demikian, masyarakat di Ajibarang, Wangon, dan Purwokerto selatan secara ekonomis diuntungkan dengan rute tol tersebut. Perlu juga dirancang strategi promosi wisata bersama antara Kabupaten Banyumas, Cilacap, Brebes, dan Tegal untuk “sharing” wusatawan. Yang pasti, diharapkan rute tol baru tersebut dapat menumbuhkan gairah investasi di sektor pariwisata, khususnya di wilayah barat dan selatan. Rute tol baru tentu membuka peluang alternatif destinasi wisata baru di Banyumas. Sebab, sudah saatnya Pemkab Banyumas tidak lagi mengandalkan kawasan wisata Baturraden sebagai destinasi primadona dalam menggali sumber pendapatan.

Selengkapnya silakan baca di: https://suarabanyumas.com/jalan-tol-peluang-ciptakan-baturraden-baru/

 

 

Pemandu Wisata Dituntut Lebih Profesional

desa-wisata-750x536

(Foto: SM/ Nugroho Pandhu Sukmono-60)

Rencana Pemkab Banyumas untuk menerapkan aturan pendampingan pemandu wisata lokal bagi wisatawan rombongan patut diapresiasi. Namun ada beberapa hal yang patut dicermati dalam pelaksanaannya nanti. Paling tidak, rencana tersebut menggambarkan pembenahan sistem kepariwisataan di Banyumas, peningkatan kualitas pelayanan, serta pemberdayaan dan peningkatan profesionalisme pemandu wisata lokal. Diharapkan, wisatawan dapat memperoleh informasi yang lengkap dan benar terkait objek dan daya tarik wisata yang ada di Banyumas, mulai dari objek wisata, seni budaya, kuliner, kerajinan, industri kecil, organisasi kemasyarakatan, dan sebagainya.
Di awal penerapan aturan tersebut kemungkinan bisa terjadi permasalahan, baik yang bersifat teknis kepemanduan, persaingan tarif antarbiro perjalanan wisata, maupun tuntutan akan paket wisata yang memenuhi selera wisatawan. Banyumas memang beda dengan Bali yang sangat beragam tawaran paket wisatanya. Sehingga tidak cukup hanya sehari mengunjungi Bali dan begitu banyak cinderamata yang bisa dibawa wisatawan setelah mengunjungi Bali.
Pendampingan pemandu lokal bagi wisatawan yang mengunjungi Banyumas akan berimplikasi pada beberapa hal:
Pertama, tambahan pendampingan pemandu wisata lokal akan menambah komponen harga paket wisata, yang tentu saja akan menjadi pemikiran bagi biro perjalanan wisata.
Kedua, perlu dipikirkan paket wisata yang memungkinkan wisatawan menikmati objek dan daya tarik wisata secara lengkap dari pagi hingga malam. Bahkan paket wisata yang bisa dinikmati wisatawan selama dua hari untuk meningkatkan lama kunjungan. Selain objek wisata, pemkab perlu menambah atraksi seni budaya yang dapat dinikmati wisatawan. Banyumas memerlukan beberapa titik pusat pagelaran seni budaya. Dengan demikian, pemandu wisata lokal bukan hanya duduk mendampingi tour leader di atas bus, tetapi juga menarasikan objek dan daya tarik wisata Banyumas.
Ketiga, kesiapan sumber daya manusia pemandu wisata lokal dalam penerapan aturan tersebut. Mau tidak mau, pemandu wisata haruslah profesional, dalam artian jelas dan kuat organisasinya serta memiliki anggota yang terlatih dan berlisensi. Jangan sampai muncul pemandu wisata ilegal yang justru akan merusak citra pariwisata Banyumas.
Keempat, perlu kesepakatan dan kesepahaman antara biro perjalanan wisata, tour leader, dan pemandu wisata terkait pusat kuliner dan cindera mata yang akan dikunjungi. Hal ini penting agar tidak terjadi konflik kepentingan yang berkaitan dengan kualitas produk maupun komisi yang diterima.
Yang pasti, sebelum aturan tersebut diterapkan, Pemkab perlu memiliki data berapa jumlah wisatawan yang datang ke Banyumas dengan menggunakan biro perjalanan. Hal itu penting, agar jangan sampai aturan pendampingan pemandu wisata lokal diterapkan, namun ternyata jumlah wisatawan dengan jasa biro perjalanan wisata rendah, sehingga pemandu wisata hanya menunggu sesuatu yang tak pasti.
Jika aturan tsb sudah berjalan, perlu secara rutin dilakukan monitoring terhadap pemandu wisata untuk memastikan, bahwa pemandu wisata yang mendampingi rombongan adalah benar-benar anggota HPI Banyumas, bukan pemandu liar.

Silakan baca juga di: https://suarabanyumas.com/pemandu-wisata-dituntut-lebih-professional/

Even Wisata Perlu Pertimbangkan Target Wisatawan

20190111_081627-1

Even yang termasuk dalam Kalender Wisata Banyumas dianggap perlu mempertimbangkan target pengunjung atau wisatawan. Sebab, hal ini berkaitan dengan promosi dan pemasaran pariwisata.
Proses penyusunan kalender wisata Banyumas 2020 dapat disusun dalam dua kategori, yaitu main event (even utama) dan supporting event (even pendukung). Even utama adalah acara yang ditargetkan untuk meningkatkan angka kunjungan dan lama tinggal wisatawan. Prinsipnya, memang dijual di pasar wisata. Oleh sebab itu, peran biro perjalanan sangatlah penting untuk menilai apakah satu even punya nilai jual kepada wisatawan. Selengkapnya silakan simak di:

https://suarabanyumas.com/even-wisata-perlu-pertimbangkan-target-wisatawan/