Pentingnya Diversifikasi Produk Wisata

image_16

Lokawisata Baturraden, Kab Banyumas mengalami lonjakan pengunjung selama libur lebaran. Pemkab tak boleh berpuas diri dan terlena. Diperlukan diversifikasi produk wisata agar berkesinambungan. Simak di: https://www.suaramerdeka.com/smcetak/baca/98597/jangan-terlena

Iklan

Menata Objek Wisata Spiritual

GWK EDIT3

Kecenderungan wisatawan mengunjungi objek wisata kini mulai beragam. Wisatawan tidak hanya berkunjung ke objek wisata yang sudah berkembang saja. Beberapa objek wisata yang potensial dan masih “perawan” mulai digemari wisatawan. Alasan mengunjungi objek wisata baru pun bermacam-macam, seperti daya tarik objek, sekadar coba-coba, atau jenuh dengan objek wisata yang telah berkembang.

Salah satu jenis wisata yang mulai digemari di kabupaten Banyumas adalah wisata spiritual, yaitu mengunjungi tempat-tempat yang dianggap keramat oleh masyarakat. Kegiatan yang dilakukan adalah berziarah ke makam seorang tokoh yang diwarnai mitologi di masyarakat atau mengunjungi situs purbakala. Tidak sedikit pengunjung yang bermalam di objek wisata spiritual. Mereka berasal bukan hanya dari kabupaten Banyumas saja, tetapi juga dari daerah lain di Jawa Tengah.

Wisata spiritual termasuk kategori wisata minat khusus ( special interest tourism ). Objek dan kegiatan yang dilakukan wisatawan pada wisata spiritual berbeda dengan wisata alam dan wisata belanja. Motivasi wisatawan yang berkunjung ke objek wisata spiritual adalah motif simbolis, estetis, magis dan mistis, serta informatif. Motif simbolis dan estetis berkaitan dengan komunikasi terhadap ruang dan waktu lampau. Motif magis dan mistis berhubungan dengan aura supranatural objek wisata. Sedangkan motif informatif adalah keingintahuan wisatawan terhadap sejarah objek wisata.

Penataan

Kabupaten Banyumas memiliki banyak objek wisata spiritual. Diantaranya adalah Gua Maria, Kendalisada, dan makam Kalibening di Banyumas; makam Kaligintung di Patikraja, makam Ki Sapu Angin di Lumbir, Gunung Putri di Purwojati, dan objek lain. Sayangnya, hingga kini belum ada peta objek wisata spiritual yang lengkap di kabupaten Banyumas.  Aksesibilitas, sarana, dan prasarana menuju dan di sekitar objek wisata juga belum memadai.

Ada kesan, objek wisata spiritual di kabupaten Banyumas berkembang tanpa penataan dan perencanaan yang matang. Seperti misalnya, ketidaksiapan juru kunci makam Kaligintung di desa Wlahar Lor, kecamatan Patikraja untuk memberikan informasi yang lengkap kepada pengunjung ( Suara Merdeka, Edisi Suara Banyumas, 23/ 02 halaman P ). Meskipun pengunjung tetap berdatangan, namun perlu dilakukan penataan yang baik agar wisata spiritual dapat menjadi bagian dari diversifikasi objek wisata di kabupaten Banyumas.

Penataan objek wisata spiritual dapat dimulai dengan inventarisasi objek yang ada di kabupaten Banyumas. Inventarisasi meliputi potensi objek serta sarana dan prasarana yang tersedia. Perlu dibuat dokumentasi berupa gambar, foto, maupun film untuk kepentingan promosi dan publikasi. Untuk itu dibutuhkan kerjasama yang baik antara pihak Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, perhotelan, restoran, dan biro perjalanan untuk merumuskan promosi terpadu.

Pramuwisata Khusus

Pelibatan masyarakat sekitar untuk mendukung dan mengelola objek wisata spiritual sangatlah penting. Masyarakat setempat biasanya sudah memiliki pengetahuan dalam mengelola sumber daya yang ada di daerahnya. Pengetahuan serta pengalaman masyarakat yang diperoleh secara turun temurun akan menimbulkan kesadaran untuk menjaga dan melestarikan objek wisata spiritual.

Kalau pun masih ada pengelola atau juru kunci objek wisata yang tidak memiliki pengetahuan lengkap, maka tugas Dinas Kebudayaan dan Pariwisata untuk melakukan pembinaan. Jika perlu disiapkan pramuwisata khusus pada objek wisata spiritual. Pembinaan meliputi kemampuan komunikasi pramuwisata untuk menjelaskan secara lengkap objek wisata serta etika pramuwisata sesuai standar Himpunan Pramuwisata Indonesia ( HPI ).  Juru kunci di daerah biasanya mengalami kendala untuk menjelaskan kepada wisatawan dengan menggunakan bahasa Indonesia; apalagi bahasa asing.

Objek wisata spiritual di berbagai daerah selalu dikaitkan dengan mitos yang ada di masyarakat. Terlepas dari kepercayaan yang dianut wisatawan, mitologi adalah bagian dari sistem nilai dan budaya suatu masyarakat. Tugas pramuwisata yaitu menjelaskan objek wisata dan mitologinya tanpa harus memaksa wisatawan untuk percaya. Wisatawan yang berkunjung ke objek wisata spiritual tentu sudah memiliki motivasi dan pengetahuan awal tentang objek tersebut.

Tata cara kunjungan penting untuk diinformasikan kepada wisatawan. Mitologi seputar makam, petilasan, gua, dan situs purbakala selalu disertai tabu atau pantangan tertentu. Secara sosial antropologis, pantangan tersebut tidak dimaksudkan untuk mengultuskan orang atau objek tertentu. Tabu dalam masyarakat bertujuan menjaga kelestarian bangunan, lingkungan, maupun sistem nilai yang diwariskan dari generasi ke generasi. Disinilah pramuwisata khusus diharapkan  berperan dalam konservasi objek wisata spiritual.

Wisata spiritual saat ini memang masih merupakan trend. Namun tidak tertutup kemungkinan, ketika wisatawan mengalami kejenuhan terhadap objek wisata yang sudah berkembang, maka objek wisata spiritual menjadi pilihan alternatif. Perlu diingat, objek wisata seperti ini sangat sensitif terhadap hal-hal yang berbau mistik dan klenik. Sehingga perlu dibuat promosi objek yang proporsional dan rasional agar tidak menimbulkan polemik di masyarakat.

Sudah saatnya pemerintah dan komponen pariwisata Banyumas melakukan penataan terhadap objek wisata spiritual untuk menjadi bagian dari aset dan sumber pendapatan daerah. Penataan juga sekaligus sebagai upaya pelestarian nilai-nilai sosial budaya yang ada di masyarakat.

Tulisan ini pernah dimuat dengan judul: Pesona Wisata Spiritual Banyumas, Suara Merdeka, Senin 16 Maret 2009

Pastikan Objek Wisata Aman bagi Wisatawan

20170424IMG_20170424_113946
Keamanan dan keselaman adalah hal penting bagi wisatawan, baik selama dalam perjalanan maupun ketika berada di objek wisata. Karena itu, pemerintah daerah dan pengelola objek harus dapat memberikan jaminan dan kepastian. Mengapa? Simak di:  http://m.antarajateng.com/detail/pihak-pengelola-diminta-pastikan-objek-wisata-aman-bagi-wisatawan.html