Desa Wisata Perlu Membangun Citra Pariwisata

image

Desa wisata harus memiliki keunikan dan kekhasan, baik alam, seni budaya, maupun kulinernya. Keunikan itu dapat menjadi daya tarik, promosi, dan citra pariwisata desa tersebut. Simak di:

https://jateng.antaranews.com/berita/199874/pengamat-desa-wisata-perlu-membangun-citra-pariwisata

Iklan

Desa Wisata, Sebuah Euphoria Pariwisata

SAWAH EDIT5

Desa wisata saat ini menjadi sebuah euphoria dalam pengelolaan pariwisata. Hanya lantaran satu desa memiliki pemandangan indah dan spot foto serta dikunjungi wisatawan, lantas mengklaim sebagai desa wisata. Benarkah adanya? Simak di:  https://purwokertokita.com/kolom/desa-wisata-sebuah-euphoria-pariwisata.php

Pariwisata Banyumas: Antara Kafe dan Desa Wisata

SAWAH EDIT8

Dinas Cipta Karya Kebersihan dan Tata Ruang ( DCKKTR ) Kabupaten Banyumas mengeluarkan nota dinas terkait keberadaan kafe di Daerah Aliran Sungai ( DAS ) Banjaran. Nota dinas itu berisi perintah untuk membongkar kafe tersebut, karena tidak memiliki Izin Mendirikan Bangunan ( IMB ) serta melanggar Perda No.6 Tahun 2005.

Padahal tak jauh dari kafe tersebut terdapat Desa Ketenger, Kecamatan Baturraden yang akan dikembangkan sebagai Desa Wisata. Apakah keberadaan kafe  memang dibutuhkan dalam pengembangan Desa Wisata atau pemkab Banyumas yang kecolongan? Tampaknya Pemkab Banyumas belum memiliki landasan filosofi, konsep, dan kebijakan strategis yang jelas tentang arah pembangunan pariwisata, sehingga terjadi kasus seperti itu.

Pembangunan pariwisata di berbagai tempat selalu menimbulkan kerakusan dan kerusakan. Pariwisata sangat rakus akan lahan, rakus terhadap investasi dan dampak buruk. Pariwisata kerap mengakibatkan kerusakan alam dan tatanan sosial budaya, sekecil apa pun kerusakan itu. Jika tidak dilandasi filosofi, konsep, dan kebijakan strategis yang baik, maka pariwisata bisa menjadi anggur yang memabukkan dan madu yang mematikan.

 

Berkelanjutan

Beberapa potensi alam, budaya, dan kuliner terdapat di Desa Ketenger. Pemandangan alam yang bagus, sawah, bebatuan gunung yang besar, dan petilasan atau makam yang menyimpan mitos. Namun bentuk dan ragam potensi itu masih perlu dikelola dengan baik agar dapat dijual ke pasar wisata. Studi kelayakan masih perlu terus dilakukan di Desa Ketenger. Pembangunan infrastruktur yang tergesa-gesa justru akan menimbulkan masalah di kemudian hari.

Belum jelas dasar pemikiran mengapa Ketenger akan dijadikan Desa Wisata. Apakah memang keinginan masyarakat setempat, para elit di desa, para pejabat di Pemkab Banyumas, atau keinginan investor saja? Bagaimana kesiapan masyarakat bila Ketenger kelak berkembang menjadi Desa Wisata?

Konsep yang mendasari pembangunan Desa Wisata Ketenger juga belum jelas. Apakah akan dikembangkan sebagai Desa Wisata atau Desa Budaya? Kekayaan budaya Ketenger masih perlu digali agar mampu menarik wisatawan. Belum ditemukan potensi budaya yang khas. Dinamika aktivitas budaya yang berlangsung setiap hari juga belum tampak di Ketenger.

Sebaiknya masyarakat Ketenger dan Pemkab Banyumas segera menentukan pilihan konsep pariwisata yang akan diterapkan. Apakah Eko Wisata, Wisata Budaya, atau Pariwisata Berkelanjutan? Masing – masing konsep pengembangan pariwisata tersebut berimplikasi pada kebijakan strategis yang akan dibuat Pemkab Banyumas.

Berdasarkan potensi yang dimiliki, Ketenger lebih cocok untuk dikembangakan dengan konsep Pariwisata Berkelanjutan ( sustainable tourism ) dan Eko Wisata ( eco tourism )  yang mengandalkan pemandangan alam. Selain Curug Gede dan Curug Bayan, Ketenger juga memiliki Curug Kembar, Curug Celiling, Curug Lawet, Curug Petir, Curug Gumang, Bukit Cendana Sari, dan Bukit Bander yang layak  dijadikan objek eko wisata berkelanjutan.

Budaya dan kuliner yang ada di Ketenger bisa dijadikan pendukung eko wisata. Terdapat kuliner khas, seperti Tempe Gatel ( tempe dan sega / nasi sebuntel ), Teh Gilis ( teh diseduh dengan gula aren ), dan Tahu Ketenger. Sayang publikasi dan promosi kuliner Ketenger belum optimal seperti halnya Getuk Goreng dan Sroto Sokaraja.

Pariwisata alam yang berkelanjutan akan membawa manfaat yang layak secara ekonomis dan adil secara etis. Eko Wisata berbasis alam dan kearifan lokal yang harus dilestarikan keberadaannya. Pariwisata Berkelanjutan juga menuntut adanya konservasi lahan dan perlindungan keanekaragaman hayati ( Sherman and Dixon, 1991 )

Keberadaan kafe di bibir DAS Banjaran dengan demikian kurang sesuai dengan konsep Pariwisata Berkelanjutan maupun pengembangan Ketenger sebagai Desa Wisata. Akomodasi, moda transportasi, atraksi seni budaya, dan ragam kuliner harus mempertimbangkan nilai-nilai masyarakat dan Ketenger sebagai kawasan pedesaan. Kafe dan hotel bukanlah sarana pariwisata yang khas bagi Desa Wisata.

Pariwisata mesti berkelanjutan dalam perspektif lingkungan, ekonomi, dan sosial budaya. Pariwisata tidak harus merusak alam, melanggar aturan yang ada, atau sekadar menyenangkan investor. Manfaat ekonomis pariwisata harus bisa dinikmati oleh seluruh masyarakat, seperti retribusi objek, parkir, tempat penginapan, transportasi, dan kuliner.            Jangan sampai pendapatan sektor pariwisata hanya dinikmati pemerintah dan investor tanpa ada sharing yang jelas bagi masyarakat dan biaya konservasi lingkungan alam dan sosial budaya. Pembangunan pariwisata yang tidak memperhatikan aspek kelestarian lingkungan dan partisipasi masyarakat akan selalu mendapat resistensi banyak pihak.

Sudah saatnya Pemkab Banyumas membuat cetak biru yang jelas bagi pembangunan pariwisata agar tidak terjadi lagi kasus serupa.

Isi Tulisan ini pernah dimuat di: Pariwisata Banyumas : Antara Kafe dan Desa Wisata, KOMPAS, Senin 23 November 2009

Pengembangan Desa Wisata Jangan Asal – Asalan

NGEPIT
Pengembangan desa wisata sebaiknya sesuai konsepnya. Jangan asal-asalan. Desa yang hanya memiliki wahana dan taman rekreasi tidak dapat begitu saja disebut desa wisata, jika tanpa adanya dinamika sosial budaya yang hidup setiap hari. Selengkapnya dapat dilihat di:
http://www.suaramerdeka.com/smcetak/detail/35957/Pengembangan-Desa-Wisata-Jangan-Asal-asalan

 

Membangun Pariwisata Mulai dari Desa

image_10
Desa wisata Serang, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah telah berkembang pesat sesuai dengan konsep desa wisata. Berbasis agrowisata stroberi dan dikelola BUMDes. Masyarakat dilibatkan dalam kepemilikan desa wisata. Lebih lengkap baca di:

https://jateng.antaranews.com/berita/189914/membangun-pariwisata-mulai-dari-desa

Desa Wisata Di Baturraden

SAWAH
Desa Ketenger berada di Kecamatan Baturraden, Kabupaten Banyumas. Potensi alam dan sosial budaya yang dimiliki Ketenger layak dijadikan sebagai Desa Wisata. Bagaimana dan seperti apa potensi Ketenger tersebut? simak di:

https://fpar.unud.ac.id/img/uploads/2014/03/Jurnal-Analisis-Pariwisata-Vol.-10-No.-1-2010.pdf

Desa Wisata Perlu Digarap Serius

JOGLO

Konsep desa wisata harus digarap serius dengan menyajikan atraksi seni budaya dan kuliner yang khas. Konsep desa wisata harus digarap serius guna mendukung tren pariwisata pada tahun 2018

Pasalnya, ada tren wisatawan menginap dan membaur di tengah masyarakat dengan menyewa “homestay”.Oleh karena itu, pemerintah daerah perlu memggandeng pengelola homestay di desa wisata dan pengelola pariwisata berbasis masyarakat lokal guna mengoptimalkan konsep desa wisata.

simak selengkapnya di:

https://jateng.antaranews.com/berita/187725/pengamat-konsep-desa-wisata-harus-digarap-serius