Desa Wisata, Sebuah Euphoria Pariwisata

SAWAH EDIT5

Desa wisata saat ini menjadi sebuah euphoria dalam pengelolaan pariwisata. Hanya lantaran satu desa memiliki pemandangan indah dan spot foto serta dikunjungi wisatawan, lantas mengklaim sebagai desa wisata. Benarkah adanya? Simak di:  https://purwokertokita.com/kolom/desa-wisata-sebuah-euphoria-pariwisata.php

Iklan

Pariwisata, Lingkungan, dan Destinasi Digital

 

GWK EDIT1

Pariwisata menjadi sektor andalan peraih devisa nonmigas oleh beberapa negara di dunia. Pariwisata juga dijadikan sektor penyumbang pendapatan asli daerah (PAD) oleh setiap daerah di tanah air. Banyak cerita sukses tentang pariwisata, namun tidak sedikit pula yang gagal dan terpuruk pariwisatanya.

Sebagai industri yang berorientasi pada pelayanan, pariwisata memang sensitif terhadap situasi sosial politik, kondisi ekonomi global, cuaca dan bencana. Oleh karena itu, episode pariwisata tidak mudah diterka kegagalan dan keberhasilannya.

 

Episode I: Success Story Pariwisata Indonesia

Organisasi Pariwisata Dunia di bawah PBB (UNWTO) telah mengakui adanya peningkatan industri pariwisata Indonesia pada tahun 2016. Indonesia berhasil mengungguli tiga negara ASEAN, yakni Singapura, Thailand, dan Malaysia. Menurut data Biro Pusat Statistik (BPS), kunjungan wisatawan selama periode Januari – April 2017 meningkat sebesar 19,34% dibanding periode yang sama pada tahun 2016. Sedangkan Singapura hanya 4,4% secara year on year (yoy), Tahiland 2,91 %, sementara Malaysia turun 0,5%.

Country Branding “Wonderful Indonesia” menempati peringkat ke 47 dunia sejak tahun 2015. Sedangkan Thailand berada di peringkat 83, dan Malaysia di peringkat 98. “Wonderful Indonesia” juga ditetapkan sebagai Brand of The Year Indonesia 2018 oleh Mark Plus Inc dan Philip Kotler Center for ASEAN Marketing. “Wonderful Indonesia” dan penghargaan tersebut menurut Menteri Pariwisata, Arief Yahya berpengaruh pada Brand Value 3C, yaitu Confidence, Credibility, dan Calibration destinasi wisata Indonesia. Hal itu dapat dilihat dari nilai transaksi pariwisata yang signifikan. Tahun 2016 nilai transaksi pariwisata sebesar 6 triliun rupiah, tahun 2017 sejumlah 8 triliun rupiah, dan tahun 2018 ditargetkan mencapai 10 triliun rupiah.

Pariwisata sampai saat ini juga masih masuk ke dalam lima sektor prioritas pembangunan Indonesia tahun 2017, bersama dengan sektor pangan, energi, maritim, dan kawasan industry ekonomi khusus. Pariwisata di Indonesia tahun 2017 juga telah mampu mendorong tumbuhnya sektor lain, seperti industri kecil di pedesaan, agro wisata, industri kreatif seni budaya, dan kuliner.

Pemerintahan Presiden Joko Widodo juga telah menggencarkan pembangunan infrastruktur menuju destinasi prioritas. Hal itu tentu saja akan menggairahkan investasi di sektor pariwisata. Meski demikian, pembangunan infrastuktur mestinya tidak hanya dilakukan pada 10 destinasi prioritas yang sudah ditetapkan. Pemerintah perlu menambah destinasi prioritas di beberapa daerah, sehingga iklim investasi juga dirasakan oleh berbagai daerah. Keterbatasan aksesibilitas menuju destinasi seringkali menjadi kendala bagi pengembangan pariwisata di daerah.

            Episode II: Perusakan Lingkungan oleh Pariwisata sebagai Industri, Sad Story

Pariwisata acapkali memang menggiurkan karena sisi ekonomisnya yang menjanjikan. Namun pariwisata juga kerap dituding sebagai biang kerusakan lingkungan, baik lingkungan alam, sosial, maupun budaya. Interaksi pariwisata selalu terjadi antara penjual yang mengejar kepentingan ekonomi dan pembeli yang mengharap pemenuhan kebutuhan dan keinginan leisure and recreation. Meski sesungguhnya pariwisata juga memiliki kontribusi positif terhadap lingkungan.

Dampak positif pariwisata adalah konservasi dan preservasi pada daerah alami seperti cagar alam, kebun raya, dan suaka margasatwa ( I Ketut Suwena dan Widyatmaja, 2017: 211). Konservasi dan preservasi dalam pariwisata juga dapat terjadi pada peninggalan sejarah dan arkeologi, seperti Borobudur, Prambanan, Tanah Lot, Masjid peninggalan para Wali, Kelenteng, rumah adat, dan sebagainya. Dampak positif lain dari pariwisata adalah pengenalan administrasi dan organisasi pada daerah wisata, sehingga daerah tertata rapi. Masyarakat mengenal arti penting zonasi kawasan wisata, yang meliputi spot area, rekreasi, kuliner, art shop, dan sebagainya. Desa Serang, di Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah misalnya, telah berhasil menata kawasan Desa Wisata yang berkembang pesat, dan melibatkan masyarakat setempat dalam pengelolaannya.

Episode pariwisata juga diwarnai oleh berbagai masalah dan dampak yang ditimbulkan. Pariwisata adalah industri tanpa cerobong asap yang kapitalistik. Pariwisata selalu padat modal, berorientasi pada pasar, dan permisif terhadap investasi. Oleh sebab itu, lebih mudah berinvestasi dan membangun hotel, restoran, dan sarana rekreasi ketimbang membangun pabrik pengolahan limbah atau pabrik bioetanol di daerah.

Pariwisata dikenal sebagai bisnis yang rakus terhadap lahan dan tinggi kompetisinya pada sumber daya alam yang terbatas. Pariwisata butuh lahan dan air dalam jumlah yang banyak untuk kepentingan resor, hotel, restoran, dan transportasi. Potensi konflik horizontal antara investor, pengelola bisnis wisata, dan masyarakat karenanya sangat mungkin terjadi.

Tekanan terhadap lingkungan begitu kuat terjadi dalam pengelolaan bisnis pariwisata. Abrasi dan erosi pantai melanda beberapa pantai di Indonesia. Di Bali beberapa pantai terkena abrasi dan erosi sebagai dampak pengembangan pariwisata di sekitar kawasan pantai, seperti terjadi di pantai Kuta, Sanur, Lovina, dan Candidasa. Polusi juga terjadi sebagai akibat limbah hotel, industri garmen , dan polusi air laut akibat rekreasi dan wisata air. Polusi bukan hanya terhadap udara dan air saja, tetapi juga terhadap pemandangan (view) suatu daerah. Kasus terjadi di Desa Tegalalang, Gianyar, Bali. Penduduk setempat memasang seng di pematang sawah sebagai bentuk protes kepada pihak pengelola hotel, dan sebagai dampaknya, hotel pun kehilangan view sawah yang indah.

Privatisasi dan komodifikasi menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam kegiatan pariwisata. Privatisasi secara umum dapat berarti proses pengalihan kepemilikan , yaitu kepemilikan umum menjadi kepemilikan pribadi. Privatisasi sempadan pantai merupakan pengambialihan areal publik berupa sempadan pantai oleh pihak swasta atau pengusaha pariwisata, sehingga fungsi sempadan pantai yang dapat dinikmati oleh masyarakat umum dan penduduk lokal menjadi hanya dinikmati oleh wisatawan. Privatisasi sempadan pantai banyak terjadi di Bali Selatan. (Putri Kusuma Sanjiwani, 2016: 31). Pantai Pede di Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur juga mengalami privatisasi pantai yang menimbulkan protes keras dari masyarakat.

Komodifikasi seni budaya bisa dilihat dari durasi tarian yang dipersingkat karena untuk tontonan wisatawan. Komodifikasi juga terjadi pada bentuk bangunan atau arsitektur tradisional yang keluar sari fungsi adat dan sosial budaya. Misalnya, ada klumpu atau jineng yang dimanfaatkan sebagai kamar tinggal untuk bermalam wisatawan di Bali. Padahal fungsi sosial klumpu dan jineng bagi masyarakat Bali adalah sebagai tempat penyimpanan hasil panen. Ada juga hotel yang membuat bale kulkul ( tempat kentongan) sebagai hiasan belaka untuk menarik wisatawan. Sedangkan masyarakat Bali memanfaatkan kulkul sebagai sarana komunikasi sosial budaya bagi warga untuk berkumpul di Bale Banjar, sarana komunikasi warga Subak, penanda odalan (acara ritual) di pura, atau penanda hal-hal penting di puri, istana raja-raja di Bali.

Komodifikasi juga terjadi pada perayaan keagamaan. Penjualan produk Paket Wisata Nyepi dilakukan pengusaha hotel di Bali. Hari Raya Nyepi yang dirayakan umat Hindu di Bali setiap tahun sekali adalah dalam rangka menyambut tahun baru Caka. Umat Hindu melakukan Tapa Brata Penyepian dengan tidak melakukan aktivitas di luar rumah. Namun acara ini ada yang dikemas dalam bentuk paket wisata nyepi. Walaupun wisatawan dilarang bepergian ke luar hotel, namun berbagai kegiatan tetap dijalankan di dalam hotel. Jika paket wisata ini tidak dikelola dengan baik tentu akan menganggu kekhusyukan perayaan Nyepi. (Ni Putu Ratna Sari,2016:26)

Dislokasi sosial budaya pada destinasi wisata ditandai dengan perubahan gaya hidup masyarakat setempat sebagai dampak kegiatan pariwisata. Hal ini juga memicu tindak kriminalitas, baik terhadap wisatawan maupun kepada penduduk setempat. Interaksi lintas budaya antara penduduk dan wisatawan dapat berkembang menjadi perkawinan antara penduduk setempat dengan orang asing yang berorientasi kepentingan bisnis. Pariwisata yang berkembang di suatu daerah juga seringkali membuka peluang terjadinya prostitusi dan kecemburuan sosial ekonomi yang bersifat SARA.

Episode mimpi buruk (nightmare) pariwisata di Indonesia terjadi ketika Bom Bali (Bali Blast ) 12 Oktober 2002. Pady’s Café dan Sari Club di Legian luluh lantah dibom oleh tiga pelaku teror Imam Samudra, Amrozy, dan Ali Gufron. Korban tewas 202 orang, 300 luka-luka; dan 88 orang korban yang meninggal adalah warga negara Australia. Pariwisata Indonesia saat itu terasa tumbang. Beberapa pengusaha pariwisata jatuh bangkrut akibat travel warning yang dikeluarkan oleh beberapa negara. Kunjungan wisatawan asing dan domestik menurun drastis. Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) missal terjadi di industri pariwisata dan dunia usaha lain yang menopang pariwisata.

Belum lagi pariwisata Indonesia pulih, Bali kembali diguncang bom. Raja’s Café dan Menega Café di Jimbaran dibom pada tanggal 1 Oktober 2005. Pelakunya Misno dan Zalid Firdaus tewas dalam bom bunuh diri itu. Namun yang lebih memprihatinkan, 23 0rang pengunjung café meninggal, 129 orang luka, dan 20 orang hilang. Pariwisata Indonesia kembali diuji oleh mimpi buruk. Dua peristiwa tersebut menggambarkan peneguhan, betapa tourism dan terrorism menjadi dua hal yang berbeda namun sangat berdekatan.

Mimpi buruk pariwisata Indonesia dilengkapi dengan erupsi Gunung Agung di Karangasem, Bali sejak Oktober hingga Desember 2017. Menteri Pariwisata Arief Yahya menyatakan erupsi tersebut menimbulkan kerugian bagi sektor pariwisata Indonesia. Kerugian ditaksir mencapai 250 milyar rupiah per hari atau jika ditotal mencapai 9 triliun rupiah. Padahal periode tersebut adalah peak season bagi kunjungan wisatawan domestic dan mancanegara.

Episode III: Wisatawan Milenial dan Destinasi Digital, a Wish

Kementerian Pariwisata telah menetapkan 100 Destinasi Digital di tahun 2018. Destinasi digital itu diharapkan bisa menjadi differentiating Indonesia yang membedakan dengan produk dan paket wisata negara lain. Destinasi digital dapat berupa objek, atraksi, dan kuliner yang instagramable berupa foto dan video yang kreatif dan menarik jika diunggah ke media sosial.

Terjadi perubahan karakteristik wisatawan dari konvensional–manual kepada wisatawan milenial-digital. Wisatawan seperti itu akan merencanakan, mencari informasi, dan transaksi wisata secara online. Promosi dan pemasaran pariwisata pun bergeser dari yang konvensional ke promosi dan pemasaran digital. Media sosial menjadi alternatif, karena lebih masif, murah, atraktif, dan selalu dapat di-update setiap saat.

Perkembangan teknologi komunikasi dan informasi juga telah mengenal Virtual Reality Tourism, yang mulai popular di tahun 2015 an. Promosi wisata melalui Virtual Reality  (VR) dilakukan dengan menggunakan VR Headset dan VR Card yang dapat melakukan subliminal brand ke kognisi pengguna tentang tujuan wisata, cara memcapai objek wisata, penerbangan yang dapat digunakan, jadwal penerbangan, biro perjalanan, dan hotel.

Perubahan karakterisitik wisatawan milenial dan destinasi digital didukung oleh adanya tren kunjungan wisata di tahun 2018. Booking.com, perusahaan E-Commerce perjalanan Belanda melakukan survey terhadap 18.509 responden dari negara Asia, Eropa, dan Amerika. Sebagaimana dikutip dari National Geographic tanggal 2 November 2017, tren wisata 2018 antara lain:

  1. Serba teknologi. Sebanyak 29% wisatawan merasa nyaman merencanakan perjalanan wisata dengan computer.
  2. Mewujudkan impian. 47% wisatawan menyukai keajaiban dunia, kuliner lokal, pula yang indah, dan taman hiburan terkenal. Kota-kota seperti Orlando, AS, Dubai, Gold Coast Australia, dan Holocaust Memorial di Berlin, Jerman menjadi pilihan.
  3. Nostalgia masa lalu menjadi salah satu alasan wisatawan berkunjung ke destinasi yang pernah didatanginya. Perpaduan masa lalu dan masa depan diwujudkan dengan kembali mengunjungi destinasi wisata masa lalu dan perubahan di masa kini dengan mengajak keluarga mereka.
  4. Ziarah budaya popular dipilih oleh 39% wisatawan. Pengaruh acara TV, film, olah raga, dan media sosial menjadikan wisatawan ingin berkunjung ke tempat-tempat seperti yang dilihat di TV, film, dan video music.
  5. Wisatawan akan menggunakan intuisi ekonomi pada saat akan mengunjungi suatu destinasi. Nilai tukar mata uang menjadi hal yang dipertimbangkan ketika akan memilih suatu negara sebagai tujuan wisata. Sejumlah 48% wisatawan menyatakan mempertimbangkan kondisi ekonomi negara tujuan.
  6. Wisatawan independen mewarnai tren wisata 2018. Mereka lebih suka berwisata yang bersifat personal. Sebanyak 57% wisatawan tidak tertarik lagi pada wisata grup. Sejumlah 31% memilih berwisata bersama teman, karena ada nilai kenangan dan akomodasi bisa ditanggung bersama.
  7. Wisatawan menyukai kehidupan seperti penduduk setempat. Holiday rental dipilih oleh 33% responden yang akan berwisata. Mereka menyukai rumah sewa, menikmati budaya lokal, dan merasakan makanan atau kuliner lokal.

Sedangkan Interpid Travel mengeluarkan rilis Tren Wisata 2018, seperti dikutip CNN Indonesia, 3 Januari 2018, sebagai berikut:

  1. Wisata Kesehatan, seperti Digital Detoxification Tourism, dimana wisatawan meningkalkan dunia eletronik di destinasi wisata untuk kesehatan fisik dan mental. Destinasi yang sering menjadi sasaran wisata kesehatan adalah India, Bali, Korea Selatan, Mongolia, Peru, Thailand, Singapura.
  2. Wisata solo, dengan cara menggunakan aplikasi pencarian teman yang mempertemukan di destinasi baru dengan orang-orang baru.
  3. Wisata di destinasi yang belum popular. Wisatawan mencari keunikan suatu destinasi dan mencoba petualangan, seperti di Yordania dengan objek wisata Laut Mati, Roman Theatre, Hercules Temple, dan kuliner ala Yordania, serta Budapest di Hungaria yang terdapat banyak objek wisata kuno.
  4. Wisata alam dengan bersepeda atau naik kereta api kuno.
  5. Paket wisata unik, naik kapal pesiar, berkemah dengan layanan mewah, menginap di resor eksklusif, merawat gajah, bercengkerama dengan komodo, atau menjadi guru di daerah terpencil.
  6. Wisata Baby moon yang dilakukan sebelum hari kelahiran dengan menginap di hotel dekat pantai atau bebukitan.
  7. No Pic Hoax, adalah wisata selfi untuk membuktikan bahwa seseorang sedang atau sudah berwisata dengan mengunggah objek yang dikunjungi. Ada pula wisatawan yang memanfaatkan jasa fotografer pribadi untuk mengabadikan perjalanan wisatanya.
  8. Wisata manula. Tahun 2017 wisata Manula mengalami peningkatan. Biasanya wisatawan tipe ini menyukai pelayanan yang eksklusif dan tempat-tempat yang tenang tanpa noise. Hasil penelitian Fani Maharani Suarka (2017:110-114) menjukkan peningkatan 30% okupansi hotel di kawasan Sanur, Bali yang diisi oleh wisatawan Manula. Aktivitas mereka adalah tinggal di hotel, menonton TV, belanja, berendam dan berjemur di pantai, belajar seni budaya lokal, spa, dan mengikuti paket tour.
  9. Wisata belanja yang banyak dilakukan di negara-negara Asia, Australia, dan Amerika.

Rakornas Pariwisata yang berlangsung di Bali, 22 -23 Maret 2018 telah menghasilkan beberapa Rencana Strategis pariwisata Indonesia 2018. Salah satunya adalah pembuatan 100 destinasi digital di 34 provinsi dan 10 nomadic tourism di 10 destinasi “Bali Baru”. Tahun 2017 Kementerian Pariwisata baru mencoba tujuh destinasi digital, yaitu Pasar Tahura di Lampung, Pasar Karetan Kendal, Jawa Tengah, Pasar Kaki Langit di Yogyakarta, Pasar Siti Nurbaya di Padang, Pasar Baba Boen Tjit di Palembang, Pasar Pancingan di Lombok, Pasar Mangrove di Batam.

Masih terbuka peluang yang sangat besar bagi pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten untuk mengkreasi dan mengembangkan destinasi digital di daerahnya untuk merespon gagasan 100 destinasi digital yang dicanangkan Kementerian Pariwisata. Oleh karena itu, pemerintah daerah perlu mempersiapkan dan memastikan ketersediaan infrastruktur jalan, air, dan listrik sebagai aksesibilitas menuju destinasi digital.

Pemerintah daerah juga juga perlu memastikan keterjangkauan koneksi internet atau Wifi di destinasi digital, sehingga wisatawan bisa langsung mengunggah spot destinasi ke media sosial saat ini juga. Kecepatan dalam mengunggah pengalaman berwisata saat ini menjadi hal penting bagi wisatawan.

Destinasi digital yang menarik akan dikunjungi banyak wisatawan. Pemerintah daerah perlu memastikan ketersediaan bak sampah dan toilet. Destinasi yang ramai dikunjungi wisatawan biasanya berhadapan dengan masalah sampah dan sulitnya mendapatkan toilet.

Sesuai harapan Menteri Pariwisata, Arief Yahya, pemerintah daerah juga perlu segera membentuk dan mengaktifkan Generasi Pesona Indonesia (GenPI) untuk ikut serta mempromosikan destinasi secara digital. Generasi Pesona Indonesia juga dapat mengkampanyekan gerakan berwisata kepada kalangan anak muda. Peran seperti ini bisa dilakukan dengan memberdayakan duta wisata hasil pilihan masing-masing daerah.

“Semoga harapan menciptakan sejuta keindahan dan kenangan”

“Hopefully, the beauty and the memories aren’t disturbed by sad stories and nightmares “

******

 

*Makalah disampaikan dalam Seminar Akademik “Tantangan Komunikasi Pariwisata dan Lingkungan di Era Digital” yang diselenggarakan oleh Program Studi S1 Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto, 5 April 2018.

 

** Tentang Penulis:

  1. Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi Fisip Unsoed, Purwokerto untuk mata kuliah: Komunikasi Lintas Budaya, dan Komunikasi Tradisional, tahun 2008 – Sekarang
  2. Dosen Program Studi Pariwisata, Universitas Udayana, Bali untuk mata kuliah Human Relations, Komunikasi Lintas Budaya, Leisure and Recreation, dan Filsafat Pariwisata, tahun 1986 – 2007
  3. Tenaga Ahli Bidang Sosial DPRD Kabupaten Badung, Bali, tahun 2001 – 2002
  4. Penasihat Dewan Pimpinan Daerah Himpunan Pramuwisata Indonesia (DPD HPI) Bali, tahun 1999 – 2002
  5. Divisi Litbang Forum Independen Pemantau Pembangunan Bali, tahun 1998-2001
  6. Anggota Bali Human Ecolocy Study Group, tahun 1990 – 2004
  7. Ketua Lembaga Penanggulangan Masalah Sosial, Bali, tahun 2000 – 2007

Generasi Pesona Indonesia (GenPI)

 

KANTOR EDIT4

Generasi Pesona Indonesia (GenPI) yang dibentuk oleh Kemenpar memiliki kreativitas untuk menciptakan dan mengunggah destinasi digital ke media sosial. Bagaimana pemerintah kabupaten harus menyikapinya? Simak di: http://www.suaramerdeka.com/smcetak/detail/44113/Pemkab-Harus-Gandeng-Genpi

Pemerintah Daerah Perlu Kembangkan Destinasi Digital

image_8

Kementrian Pariwisata telah menetapkan 100 Destinasi Digital di 34 provinsi. Hal ini perlu disambut oleh pemerintah daerah untuk menarik kunjungan wisatawan. Apa saja yang perlu disiapkan? Simak di:  https://jateng.antaranews.com/berita/191524/tarik-wisatawan-pemda-perlu-kembangkan-destinasi-digital

Wisata “Dinner” Banyumas

 

BAKSO EDIT2

Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata ( Dinporabudpar ) Kabupaten Banyumas akan menjual paket wisata “Si Panji Dinner “. Diharapkan paket wisata ini dapat menjawab kekurangan atraksi wisata yang digelar di malam hari. ( Suara Merdeka, Edisi Banyumas, 20 / 11 hal. 32).

Bahkan diklaim, paket wisata ini memiliki keunggulan tersendiri apabila dibandingkan dengan daerah yang telah berkembang maju, seperti Bali. Tentu saja paket wisata ini hanya akan berhasil jika didukung oleh Biro Perjalanan Wisata.

Dinporabudpar Banyumas boleh saja mengembangkan gagasan wisata alternatif yang kreatif dan inovatif ini. Sektor pariwisata memang perlu dikelola secara profesional, atraktif, dan inovatif. Namun benarkah  pemerintah, komponen industri pariwisata, dan masyarakat Banyumas sudah benar-benar siap menawarkat paket wisata “dinner” tersebut?

Kesesuaian

Sebagai sebuah industri, pariwisata senantiasa mengikuti “hukum permintaan dan penawaran”. Sebelum sebuah produk wisata dipasarkan perlu dilakukan kajian tentang asal, selera, dan motivasi kunjungan wisatawan ke Banyumas. Kesesuaian antara produk wisata dengan asal, selera, dan motivasi wisatawan menjadi penting agar upaya kreatif dan inovatif itu tepat sasaran dan tidak sia-sia.

Paket wisata “dinner”  atau santap malam  berkaitan dengan makanan dan budaya makan wisatawan. Perlu dilakukan kajian secara serius tentang menu makanan yang akan disajikan, dan karakteristik wisatawan. Menu makanan khas Banyumas apa yang akan disajikan dalam paket “dinner” itu?. Apakah bisa dipastikan sajian dinner itu sudah memenuhi standar higenis? Tidak semua wisatawan akan dapat menikmati sajian makanan khas Banyumas. Jangan sampai kasus Bali Belly di tahun 1970-an terjadi di Banyumas, yakni kasus wisatawan mancanegara yang diare karena menyantap masakan khas Bali yang pedas.

Menikmati santap malam dapat menjadi sebuah paket wisata jika didukung oleh setting atau konteks tempatnya. Menikmati dinner di Puri Mengwi, Bali atau di Tanah Lot  menjadi daya tarik karena wisatawan dapat menikmati suasana Bali yang sarat dengan adat, agama, dan tradisi sambil memandang puri ( istana raja ) dan pura. Santap malam di Jimbaran Bali menarik bagi wisatawan, karena dapat menikmati suasana malam di tengah deburan ombak. Di Ubud, Gianyar, Bali, wisatawan santap malam di tengah perkampungan seni.

Apakah pemilihan Pendapa Kabupaten Si Panji di kota Purwokerto, Kabupaten Banyumas sudah dipertimbangkan sesuai dengan konteks wisata “dinner” Banyumas?. Apakah lingkungan dan arsitektur Pendapa tersebut sudah dapat merepresentasikan masyarakat, budaya, adat, dan tradisi di Banyumas?. Pertanyaan tersebut perlu dijawab agar paket wisata inovatif itu punya nilai jual kepada wisatawan

 

Kesinambungan

            Paket wisata “dinner” sudah sejak tahun 1980 dikembangkan di Bali. Salah satunya adalah wisata makan malam di Puri Mengwi, Kabupaten Badung, Bali. Paket tersebut didukung oleh Biro Perjalanan Wisata, hotel, dan restoran. Prinsip timbal balik  ( principle of reciprocity ) menjadi landasan pengembangan paket wisata itu. Manfaat yang diperoleh bukan hanya secara ekonomis, tapi juga secara soaial budaya. ( Ni Made Ruastiti, 2004: 51 )

Komponen pariwisata Banyumas perlu belajar banyak dari pengalaman pengembangan paket wisata “dinner” di Bali. Manfaat paling penting dalam pengembangan produk wisata, selain bagi pemerintah dan pengusaha pariwisata, adalah bagi masyarakat Banyumas. Dengan demikian, prinsip timbal balik itu berjalan secara berkesinambungan. Secara ekonomis masayarakat Banyumas perlu diuntungkan dari paket wisata “dinner” itu. Kebutuhan akan sayuran, daging, dan bahan olahan sajian santap malam harus bersumber dari masyarakat lokal di Banyumas.

Secara sosial budaya, pengembangan paket wisata “dinner” menguntungkan bagi pelaku seni dan budaya tradisional yang tampil saat jamuan makan malam wisatawan. Paket wisata itu diharapkan mampu mendorong pertumbuhan kelompok-kelompok kesenian di Banyumas. Oleh sebab itu, paket wisata ini perlu dirancang secara sistemik, holistik, dan kesinambungan dengan melibatkan seluruh pelaku pariwisata dan pelaku seni budaya tradisional di Banyumas. Berbagai hasil penelitian menunjukkan perkembangan yang memprihatinkan dari kesenian tradisional di Banyumas. Banyak jenis kesenian tradisional Banyumas yang nyaris punah, hidup enggan mati pun tidak.

Perlu dilakukan kembali inventarisasi berbagai kesenian tradisional dan budaya Banyumas agar dapat direvitalisasi, dibina, dan diberdayakan dalam paket wisata “dinner”. Jangan sampai, paket wisata ini hanya menguntungan penguasaha pariwisata, sedangkan masyarakat menjadi penonton.

artikel ini pernah dimuat dengan judul: Wisata Dinner Banyumas, Suara Merdeka, Rabu 3 Desember 2014