Tak Hanya Alam yang Indah, Wisatawan Juga Butuh Jaminan Keamanan

baju orange3

Setiap wisatawan tentu berharap mendapat pengalaman menyenangkan dalam perjalanan wisatanya. Sekecil apa pun gangguan keamanan akan menimbulkan ketakutan dalam berwisata. Simak di: https://lifestyle.okezone.com/read/2018/05/23/406/1901826/tak-hanya-alam-yang-indah-wisatawan-juga-butuh-jaminan-keamanan#lastread

Iklan

Sektor Pariwisata Sensitif terhadap Isu Keamanan

 

DIRIKU ANTARARentetan teror bom di Surabaya merupakan pukulan berat bagi industri pariwisata tanah air, karena beberapa negara telah mengeluarkan travel advice. Pariwisata memang sensitif terhadap isu keamanan. Simak di: https://jateng.antaranews.com/berita/193936/pengamat-sektor-pariwisata-sensitif-terhadap-isu-keamanan-video

Beragam Wisata Pantai di Cilacap

image_16

Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah kini memeliki beragam potensi wisata pantai selain Teluk Penyu. Apa saja, dan bagaimana upaya pengembangannya? Simak di:  https://jateng.antaranews.com/berita/193138/matahari-terbenam-di-pantai-cemara-sewu-cilacap

Menjual Paket Wisata Kuliner Banyumas

MAKAN EDIT

Banyak motivasi wisatawan mengunjungi suatu daerah. Jawa Barat terkenal dengan wisata alam, agrowisata, dan belanja. Orang berkunjung ke Jakarta untuk belanja, rekreasi, dan konvensi. Bali mempunyai atraksi seni budaya dan pantai yang tidak habis untuk dijual kepada wisatawan. Yogya banyak dikunjungi wisatawan karena seni budaya dengan gudeg sebagai masakan khas yang memiliki daya tarik wisata kuliner.

Kabupaten Banyumas saat ini masih mengandalkan lokawisata Baturraden sebagai objek dan daya tarik wisata ( ODTW ). Namun bila dicermati, pasca tragedi runtuhnya jembatan di Baturraden, terjadi stagnasi pariwisata Banyumas. Bahkan cenderung menuju tahap penurunan ( decline ), baik kuantitas`wisatawan maupun kualitas sarana dan prasarana pariwisata.

Banyumas juga memiliki potensi kuliner khas yang beragam, mulai dari soto Sokaraja, getuk goreng, mendoan, kripik tempe, sampai kepada jenis kuliner baru hasil kreativitas masyarakat. Meskipun soto adalah jenis masakan yang banyak terdapat di derah lain, tetapi soto Sokaraja memiliki keunikan pada bumbu, sambal dan adonannya. Getuk goreng merupakan jajanan khas Banyumas yang tidak terdapat di daerah lain. Mendoan adalah tempe yang berbentuk tipis dan lebar, digoreng setengah matang, dengan bumbu tetentu sehingga memiliki rasa yang khas. Biasanya dimakan dengan cabai rawit, sehingga menciptakan citarasa unik.  Keripik tempe saat ini banyak dibuat di daerah lain, walaupun kalau dicermati rasanya akan berbeda dengan keripik tempe khas Banyumas, karena bumbu dan cara menggoreng yang berbeda..

Gairah masyarakat untuk menikmati masakan dan jajan tradisional cukup menggembirakan. Sayangnya, sebagaimana ODTW, potensi kuliner Banyumas juga berada dalam tahap stagnasi. Berkembang pesat tidak, gulung tikar pun tidak. Padahal secara teoritis, wisatawan akan berkunjung ke suatu daerah bila ada sesuatu yang bisa dilihat ( something to see ), dikerjakan ( something to do ), dan dibeli ( something to buy ). Makanan tradisional Banyumas bila digarap secara serius dapat menjadi something to buy, bahkan something to do bagi wisatawan.

Stagnasi wisata kuliner Banyumas tidak terlepas dari konsep pariwisata saat ini yang memandang kuliner sebagai sarana penunjang pariwisata ( supporting tourism superstructure ). Kuliner tradisional tidak termasuk sarana pokok pariwisata ( main tourism superstructure ), sehingga dalam proses perencanaan dan pembangunan pariwisata kalah tertinggal dibanding hotel, restoran, bandara, atau objek wisata. Padahal suatu daerah atau wilayah tujuan wisata akan sulit berkembang tanpa didukung oleh sarana penunjang pariwisata yang khas.

Mengharap makanan tradisional Banyumas dikenal di mancanegara tentu bukan mimpi di siang hari. Terpenting adalah bagaimana upaya yang dilakukan pemerintah agar soto Sokaraja, getuk goreng, mendoan, dan kripik tempe bisa go international. Situs pariwisata Banyumas di internet belum menyajikan informasi yang lengkap tentang peta kuliner tradisional tersebut. Belum terdapat informasi mengenai sejarah kuliner, lokasi, harga, rasa maupun proses pembuatan masakan tradisional Banyumas.

Informasi tentang profil kuliner penting bagi wisatawan, khususnya wisatawan mancanegara. Tidak semua jenis makanan tradisional bisa dinikmati wisatawan. Banyak wisatawan yang sensitif terhadap rasa pedas, seperti wisatawan Jepang dan sebagian besar Eropa. Tahun 1980-an pariwisata Bali pernah diterpa isu Bali belly, yaitu kasus wisatawan Jepang yang menderita diare setelah menyantap makanan tradisional Bali yang pedas. Apalagi jika proses pembuatan dan penyajiannya tidak higienis. Wisatawan akan merasa jijik bila melihat makanan yang disajikan dengan jorok dan penuh lalat di sekitarnya. Jika makanan tradisional Banyumas hendak go international perlu dilakukan pembinaan terhadap para pengusaha industri kecil tersebut; baik dari segi pembuatan maupun pelayanannya.

 

Paket Inovatif

Upaya lain yang dapat dilakukan adalah dengan mengadakan program familiarization tour, yaitu kegiatan anjangsana mengundang agen perjalanan atau asosiasi kuliner asing untuk berkunjung ke Banyumas. Kerjasama seperti itu bertujuan mengenalkan dan mempromosikan berbagai makanan tradisional yang layak dijual kepada wisatawan. Dengan catatan, program familiarization tour dilakukan setelah pembinaan usaha kuliner berjalan optimal.

Diversifikasi produk wisata Banyumas bukan hanya mencari produk alternatif wisata sungai Serayu, seperti yang saat ini sedang dicoba pemerintah daerah Banyumas. Produk wisata semacam itu akan mengalami kegagalan pemasaran bila tidak sesuai dengan tipologi kunjungan wisatawan ke Banyumas. Wisatawan yang berkunjung ke Banyumas saat ini baru pada tipe “berhenti sesaat” ( just stop for a moment ). Belum lagi kompetisi produk sejenis di daerah lain yang lebih menarik dibanding wisata sungai Serayu.

Diversifikasi akan lebih menarik jika ditopang oleh paket wisata inovatif seperti resto culture, accommodation culture, atau adventure culture. Yaitu perpaduan antara produk wisata yang ditawarkan dengan paket inovatif lain ( Lihat : I Wayan Wijayasa, 2005 : 84 ). Misalnya, setelah menikmati makanan  soto di Sokaraja, menyaksikan kesenian lengger Banyumasan di hotel, atau wisata sungai Serayu, wisatawan diajak belajar membuat makanan tradisional Banyumas. Sehingga wisatawan tidak hanya mendapatkan something to see atau something to buy saja, tetapi juga tambahan paket something to do. Hal ini tentu akan menambah lama kunjungan wisatawan ke Banyumas.

Menawarkan potensi wisata kuliner sebagai produk dan atraksi wisata Banyumas tidak terlalu membutuhkan banyak biaya. Diperlukan manajemen informasi dan komunikasi pariwisata yang melibatkan berbagai komponen, baik media cetak, penyiaran, internet, maupun jaringan agen perjalanan dan asosiasi profesi kuliner. Beberapa surat kabar nasional dan daerah telah menyajikan informasi kuliner Banyumas. Tinggal dipilih dan dipilah jenis kuliner tradisional yang layak untuk dijual kepada wisatawan.

Dimana pun orang melakukan kunjungan wisata tentu berharap agar memperoleh kenangan dan ada sesuatu yang dapat dinikmati serta dibawa sebagai buah tangan. Satu hal yang ironis jika wisatawan mancanegara datang ke Banyumas disuguhi makanan fast food yang notabene banyak terdapat di negara asalnya. Sementara soto Sokaraja, getuk goreng, mendoan, kripik tempe, dan makanan tradisional lain telah menjadi jajanan wajib bagi para pelancong dari kabupaten tetangga. Padahal potensi kuliner Banyumas layak untuk go international. Mengapa tidak dicoba?

Artikel ini pernah dimuat dengan judul: Menggarap Potensi Wisata Kuliner. Suara Merdeka, Kamis 17 Juli 2008

 

Menjual Paket Wisata Kuliner Banyumas

 MAKAN EDIT

 

Banyak motivasi wisatawan mengunjungi suatu daerah. Jawa Barat terkenal dengan wisata alam, agrowisata, dan belanja. Orang berkunjung ke Jakarta untuk belanja, rekreasi, dan konvensi. Bali mempunyai atraksi seni budaya dan pantai yang tidak habis untuk dijual kepada wisatawan. Yogya banyak dikunjungi wisatawan karena seni budaya dengan gudeg sebagai masakan khas yang memiliki daya tarik wisata kuliner.

Kabupaten Banyumas saat ini masih mengandalkan lokawisata Baturraden sebagai objek dan daya tarik wisata ( ODTW ). Namun bila dicermati, pasca tragedi runtuhnya jembatan di Baturraden, terjadi stagnasi pariwisata Banyumas. Bahkan cenderung menuju tahap penurunan ( decline ), baik kuantitas`wisatawan maupun kualitas sarana dan prasarana pariwisata.

Banyumas juga memiliki potensi kuliner khas yang beragam, mulai dari soto Sokaraja, getuk goreng, mendoan, kripik tempe, sampai kepada jenis kuliner baru hasil kreativitas masyarakat. Meskipun soto adalah jenis masakan yang banyak terdapat di derah lain, tetapi soto Sokaraja memiliki keunikan pada bumbu, sambal dan adonannya. Getuk goreng merupakan jajanan khas Banyumas yang tidak terdapat di daerah lain. Mendoan adalah tempe yang berbentuk tipis dan lebar, digoreng setengah matang, dengan bumbu tetentu sehingga memiliki rasa yang khas. Biasanya dimakan dengan cabai rawit, sehingga menciptakan citarasa unik.  Keripik tempe saat ini banyak dibuat di daerah lain, walaupun kalau dicermati rasanya akan berbeda dengan keripik tempe khas Banyumas, karena bumbu dan cara menggoreng yang berbeda..

Gairah masyarakat untuk menikmati masakan dan jajan tradisional cukup menggembirakan. Sayangnya, sebagaimana ODTW, potensi kuliner Banyumas juga berada dalam tahap stagnasi. Berkembang pesat tidak, gulung tikar pun tidak. Padahal secara teoritis, wisatawan akan berkunjung ke suatu daerah bila ada sesuatu yang bisa dilihat ( something to see ), dikerjakan ( something to do ), dan dibeli ( something to buy ). Makanan tradisional Banyumas bila digarap secara serius dapat menjadi something to buy, bahkan something to do bagi wisatawan.

Stagnasi wisata kuliner Banyumas tidak terlepas dari konsep pariwisata saat ini yang memandang kuliner sebagai sarana penunjang pariwisata ( supporting tourism superstructure ). Kuliner tradisional tidak termasuk sarana pokok pariwisata ( main tourism superstructure ), sehingga dalam proses perencanaan dan pembangunan pariwisata kalah tertinggal dibanding hotel, restoran, bandara, atau objek wisata. Padahal suatu daerah atau wilayah tujuan wisata akan sulit berkembang tanpa didukung oleh sarana penunjang pariwisata yang khas.

Mengharap makanan tradisional Banyumas dikenal di mancanegara tentu bukan mimpi di siang hari. Terpenting adalah bagaimana upaya yang dilakukan pemerintah agar soto Sokaraja, getuk goreng, mendoan, dan kripik tempe bisa go international. Situs pariwisata Banyumas di internet belum menyajikan informasi yang lengkap tentang peta kuliner tradisional tersebut. Belum terdapat informasi mengenai sejarah kuliner, lokasi, harga, rasa maupun proses pembuatan masakan tradisional Banyumas.

Informasi tentang profil kuliner penting bagi wisatawan, khususnya wisatawan mancanegara. Tidak semua jenis makanan tradisional bisa dinikmati wisatawan. Banyak wisatawan yang sensitif terhadap rasa pedas, seperti wisatawan Jepang dan sebagian besar Eropa. Tahun 1980-an pariwisata Bali pernah diterpa isu Bali belly, yaitu kasus wisatawan Jepang yang menderita diare setelah menyantap makanan tradisional Bali yang pedas. Apalagi jika proses pembuatan dan penyajiannya tidak higienis. Wisatawan akan merasa jijik bila melihat makanan yang disajikan dengan jorok dan penuh lalat di sekitarnya. Jika makanan tradisional Banyumas hendak go international perlu dilakukan pembinaan terhadap para pengusaha industri kecil tersebut; baik dari segi pembuatan maupun pelayanannya.

 

Paket Inovatif

Upaya lain yang dapat dilakukan adalah dengan mengadakan program familiarization tour, yaitu kegiatan anjangsana mengundang agen perjalanan atau asosiasi kuliner asing untuk berkunjung ke Banyumas. Kerjasama seperti itu bertujuan mengenalkan dan mempromosikan berbagai makanan tradisional yang layak dijual kepada wisatawan. Dengan catatan, program familiarization tour dilakukan setelah pembinaan usaha kuliner berjalan optimal.

Diversifikasi produk wisata Banyumas bukan hanya mencari produk alternatif wisata sungai Serayu, seperti yang saat ini sedang dicoba pemerintah daerah Banyumas. Produk wisata semacam itu akan mengalami kegagalan pemasaran bila tidak sesuai dengan tipologi kunjungan wisatawan ke Banyumas. Wisatawan yang berkunjung ke Banyumas saat ini baru pada tipe “berhenti sesaat” ( just stop for a moment ). Belum lagi kompetisi produk sejenis di daerah lain yang lebih menarik dibanding wisata sungai Serayu.

Diversifikasi akan lebih menarik jika ditopang oleh paket wisata inovatif seperti resto culture, accommodation culture, atau adventure culture. Yaitu perpaduan antara produk wisata yang ditawarkan dengan paket inovatif lain ( Lihat : I Wayan Wijayasa, 2005 : 84 ). Misalnya, setelah menikmati makanan  soto di Sokaraja, menyaksikan kesenian lengger Banyumasan di hotel, atau wisata sungai Serayu, wisatawan diajak belajar membuat makanan tradisional Banyumas. Sehingga wisatawan tidak hanya mendapatkan something to see atau something to buy saja, tetapi juga tambahan paket something to do. Hal ini tentu akan menambah lama kunjungan wisatawan ke Banyumas.

Menawarkan potensi wisata kuliner sebagai produk dan atraksi wisata Banyumas tidak terlalu membutuhkan banyak biaya. Diperlukan manajemen informasi dan komunikasi pariwisata yang melibatkan berbagai komponen, baik media cetak, penyiaran, internet, maupun jaringan agen perjalanan dan asosiasi profesi kuliner. Beberapa surat kabar nasional dan daerah telah menyajikan informasi kuliner Banyumas. Tinggal dipilih dan dipilah jenis kuliner tradisional yang layak untuk dijual kepada wisatawan.

Dimana pun orang melakukan kunjungan wisata tentu berharap agar memperoleh kenangan dan ada sesuatu yang dapat dinikmati serta dibawa sebagai buah tangan. Satu hal yang ironis jika wisatawan mancanegara datang ke Banyumas disuguhi makanan fast food yang notabene banyak terdapat di negara asalnya. Sementara soto Sokaraja, getuk goreng, mendoan, kripik tempe, dan makanan tradisional lain telah menjadi jajanan wajib bagi para pelancong dari kabupaten tetangga. Padahal potensi kuliner Banyumas layak untuk go international. Mengapa tidak dicoba?

Artikel ini pernah dimuat dengan judul: Menggarap Potensi Wisata Kuliner. Suara Merdeka, Kamis 17 Juli 2008

Menata Objek Wisata Spiritual

GWK EDIT3

Kecenderungan wisatawan mengunjungi objek wisata kini mulai beragam. Wisatawan tidak hanya berkunjung ke objek wisata yang sudah berkembang saja. Beberapa objek wisata yang potensial dan masih “perawan” mulai digemari wisatawan. Alasan mengunjungi objek wisata baru pun bermacam-macam, seperti daya tarik objek, sekadar coba-coba, atau jenuh dengan objek wisata yang telah berkembang.

Salah satu jenis wisata yang mulai digemari di kabupaten Banyumas adalah wisata spiritual, yaitu mengunjungi tempat-tempat yang dianggap keramat oleh masyarakat. Kegiatan yang dilakukan adalah berziarah ke makam seorang tokoh yang diwarnai mitologi di masyarakat atau mengunjungi situs purbakala. Tidak sedikit pengunjung yang bermalam di objek wisata spiritual. Mereka berasal bukan hanya dari kabupaten Banyumas saja, tetapi juga dari daerah lain di Jawa Tengah.

Wisata spiritual termasuk kategori wisata minat khusus ( special interest tourism ). Objek dan kegiatan yang dilakukan wisatawan pada wisata spiritual berbeda dengan wisata alam dan wisata belanja. Motivasi wisatawan yang berkunjung ke objek wisata spiritual adalah motif simbolis, estetis, magis dan mistis, serta informatif. Motif simbolis dan estetis berkaitan dengan komunikasi terhadap ruang dan waktu lampau. Motif magis dan mistis berhubungan dengan aura supranatural objek wisata. Sedangkan motif informatif adalah keingintahuan wisatawan terhadap sejarah objek wisata.

Penataan

Kabupaten Banyumas memiliki banyak objek wisata spiritual. Diantaranya adalah Gua Maria, Kendalisada, dan makam Kalibening di Banyumas; makam Kaligintung di Patikraja, makam Ki Sapu Angin di Lumbir, Gunung Putri di Purwojati, dan objek lain. Sayangnya, hingga kini belum ada peta objek wisata spiritual yang lengkap di kabupaten Banyumas.  Aksesibilitas, sarana, dan prasarana menuju dan di sekitar objek wisata juga belum memadai.

Ada kesan, objek wisata spiritual di kabupaten Banyumas berkembang tanpa penataan dan perencanaan yang matang. Seperti misalnya, ketidaksiapan juru kunci makam Kaligintung di desa Wlahar Lor, kecamatan Patikraja untuk memberikan informasi yang lengkap kepada pengunjung ( Suara Merdeka, Edisi Suara Banyumas, 23/ 02 halaman P ). Meskipun pengunjung tetap berdatangan, namun perlu dilakukan penataan yang baik agar wisata spiritual dapat menjadi bagian dari diversifikasi objek wisata di kabupaten Banyumas.

Penataan objek wisata spiritual dapat dimulai dengan inventarisasi objek yang ada di kabupaten Banyumas. Inventarisasi meliputi potensi objek serta sarana dan prasarana yang tersedia. Perlu dibuat dokumentasi berupa gambar, foto, maupun film untuk kepentingan promosi dan publikasi. Untuk itu dibutuhkan kerjasama yang baik antara pihak Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, perhotelan, restoran, dan biro perjalanan untuk merumuskan promosi terpadu.

Pramuwisata Khusus

Pelibatan masyarakat sekitar untuk mendukung dan mengelola objek wisata spiritual sangatlah penting. Masyarakat setempat biasanya sudah memiliki pengetahuan dalam mengelola sumber daya yang ada di daerahnya. Pengetahuan serta pengalaman masyarakat yang diperoleh secara turun temurun akan menimbulkan kesadaran untuk menjaga dan melestarikan objek wisata spiritual.

Kalau pun masih ada pengelola atau juru kunci objek wisata yang tidak memiliki pengetahuan lengkap, maka tugas Dinas Kebudayaan dan Pariwisata untuk melakukan pembinaan. Jika perlu disiapkan pramuwisata khusus pada objek wisata spiritual. Pembinaan meliputi kemampuan komunikasi pramuwisata untuk menjelaskan secara lengkap objek wisata serta etika pramuwisata sesuai standar Himpunan Pramuwisata Indonesia ( HPI ).  Juru kunci di daerah biasanya mengalami kendala untuk menjelaskan kepada wisatawan dengan menggunakan bahasa Indonesia; apalagi bahasa asing.

Objek wisata spiritual di berbagai daerah selalu dikaitkan dengan mitos yang ada di masyarakat. Terlepas dari kepercayaan yang dianut wisatawan, mitologi adalah bagian dari sistem nilai dan budaya suatu masyarakat. Tugas pramuwisata yaitu menjelaskan objek wisata dan mitologinya tanpa harus memaksa wisatawan untuk percaya. Wisatawan yang berkunjung ke objek wisata spiritual tentu sudah memiliki motivasi dan pengetahuan awal tentang objek tersebut.

Tata cara kunjungan penting untuk diinformasikan kepada wisatawan. Mitologi seputar makam, petilasan, gua, dan situs purbakala selalu disertai tabu atau pantangan tertentu. Secara sosial antropologis, pantangan tersebut tidak dimaksudkan untuk mengultuskan orang atau objek tertentu. Tabu dalam masyarakat bertujuan menjaga kelestarian bangunan, lingkungan, maupun sistem nilai yang diwariskan dari generasi ke generasi. Disinilah pramuwisata khusus diharapkan  berperan dalam konservasi objek wisata spiritual.

Wisata spiritual saat ini memang masih merupakan trend. Namun tidak tertutup kemungkinan, ketika wisatawan mengalami kejenuhan terhadap objek wisata yang sudah berkembang, maka objek wisata spiritual menjadi pilihan alternatif. Perlu diingat, objek wisata seperti ini sangat sensitif terhadap hal-hal yang berbau mistik dan klenik. Sehingga perlu dibuat promosi objek yang proporsional dan rasional agar tidak menimbulkan polemik di masyarakat.

Sudah saatnya pemerintah dan komponen pariwisata Banyumas melakukan penataan terhadap objek wisata spiritual untuk menjadi bagian dari aset dan sumber pendapatan daerah. Penataan juga sekaligus sebagai upaya pelestarian nilai-nilai sosial budaya yang ada di masyarakat.

Tulisan ini pernah dimuat dengan judul: Pesona Wisata Spiritual Banyumas, Suara Merdeka, Senin 16 Maret 2009