Memaknai Kembali Lebaran

 

16807363_750739158410529_3724429673708713941_n

Lebaran bagi masyarakat Indonesia sarat dengan  tradisi dan budaya. Seremoni dalam perayaan lebaran  terasa begitu kental. Meski ramadhan baru dimulai, namun nuansa lebaran sudah mulai tampak. Harga kebutuhan pokok melonjak. Tiket bus dan kereta api lebaran pun ludes terjual jauh sebelum hari H lebaran..

Lebaran dalam perspektif komunikasi selalu kontekstual dengan lingkup sosial budaya masyarakat Indonesia.  Teknologi komunikasi dan informasi telah menjadi bagian dari peradaban masyarakat. Telepon seluler, teknologi 3G, bbm, dan SMS ( short message service )  sudah akrab bagi masyarakat. SMS  telah menggeser peran kartu lebaran yang dahulu dikirim lewat jasa pos.

Meski demikian,  komunikasi sosial dan interpersonal dalam momentum lebaran ternyata tidak mudah tergantikan oleh komunikasi bermedia. Kehadiran personal secara fisik di tengah lingkungan keluarga dan masyarakat saat lebaran masih dianggap penting. Mudik, pulang kampung, dan tradisi bersalam – salaman tetap saja menjadi bagian dari ritual lebaran. Lebaran lebih  menjadi momentum komunikasi sosial dan interpersonal ketimbang mometum intrapersonal- transendental berupa kontemplasi dan introspeksi untuk kembali ke fitrah.

Konteks fisik dan sosial dalam lebaran tidak lepas dari karakteristik masyarakat Indonesia yang atributif. Masyarakat atributif sangat menghargai simbol, lambang, atau atribut  sebagai penanda status dan posisi sosial seseorang. Tidak heran, menjelang lebaran tiba segala hal yang berkaitan dengan atribut itu harus disiapkan. Pagar rumah dicat, baju baru disiapkan, jajanan, opor ayam, ketupat, dan segala atribut lebaran menandai “kesiapan” sosial seseorang  menyambut lebaran. Tanpa atribut tersebut orang akan merasa dianggap tidak siap berlebaran.

Visualisasi atribut dipandang penting dalam konteks komunikasi lebaran. Mudik dijadikan momentum kebanggaan bagi seseorang untuk menunjukkan perkembangan atribut yang telah berhasil dicapainya di tempat lain. Orang akan dianggap berhasil secara sosial, jika saat lebaran pulang kampung dengan  mobil baru atau bercerita tentang  jabatan baru. Puncak kenikmatan  berpuasa bukan pada perasaan haru saat sholat ied, tapi justru pada keriangan di tengah kemacetan arus mudik. Tanpa atribut seremoni lebaran dan atribut kebaruan, seseorang masih dipandang belum berhasil.

Memaknai Lebaran

Memang tidak serta merta salah dari tradisi dan seremoni lebaran yang sudah berlangsung sejak dahulu itu. Mudik lebaran bisa menjadi upaya continuum sosial kultural ketika seseorang merantau ke lain daerah. Sehingga orang tidak tercerabut dari akar budayanya. Tradisi mudik lebaran juga dapat berfungsi  membangun soliditas, kohesitas, dan solidaritas sosial seseorang dengan daerah asalnya.

Tradisi lebaran akan menjadi bermasalah ketika seremoni atributif lebih dihargai ketimbang substansi religiusitas iedul fitri. Lebaran akan hanya menjadi tradisi tanpa makna saat ekses yang ditimbulkan dari mudik dan atribut kebaruan itu tidak dibarengi dengan peningkatan kadar religiusitas seseorang.

Nilai sosial kultural lebaran dipandang lebih penting dibanding nilai-nilai moral yang terkandung di dalamnya.  Sungguh ironis, jika hanya demi lebaran, misalnya, seseorang harus melakukan tindak kriminal karena tidak punya “modal” untuk mudik. Alih-alih berkumpul bersama sanak saudara di kampung, malah mendekam di balik jeruji besi. Lebaran menjadi tidak afdol bagi seorang pegawai jika tanpa parcel atau bingkisan  untuk pejabat di atasnya. Meski untuk itu, dia harus melakukan korupsi kecil-kecilan.

Mengubah tradisi lebaran yang sudah mengakar di masyarakat tidaklah mudah. Bukan saja kita akan dianggap “tidak sosial”, tetapi juga dianggap tidak menghargai orang tua, keluarga, dan tidak paham makna lebaran. Pemaknaan lebaran lantas diukur dari kacamata sosial, bukan perspektif komunikasi intrapersonal –  transendental seseorang dengan Sang Khalik.

Diperlukan  pemaknaan kembali lebaran, baik dalam perspektif komunikasi maupun sosial budaya. Substansi iedul fitri mesti lebih menjadi acuan ketimbang seremoni tradisi lebaran. Peningkatan keimanan dan ketakwaan, keikhlasan bersedekah, dan solidaritas sosial mesti terbangun secara berkesinambungan setiap lebaran usai.

Kualitas komunikasi intrapersonal – transendental harus dijadikan indikator keberhasilan seseorang sejak ramadhan hingga lebaran. Bukan kebaruan yang atributif semata.

Artikel ini pernah dimuat dengan judul: Cara Memaknai Kembali Lebaran, Suara Merdeka, 21 Juli 2014.

Iklan

Diterbitkan oleh

mbahchus

Drs. Chusmeru, M.Si (Jakarta, 29 Desember 1959). Akademisi yang senantiasa peduli pada situasi kekinian; tansah sumarah lembah manah dan aktif menulis di berbagai media massa, menjadi pembicara dan sumber berita aktual khususnya seputar isu sosial, politik, kebudayaan, dan pariwisata.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s