Mengurai Benang Kusut Kerusuhan

KANTOR EDIT6
Kekerasan saat ini bukan hanya terjadi di jalanan, tetapi juga bisa terjadi di tempat hiburan malam,  tempat ibadah dan gedung pemerintahan. Sampai kapan kekerasan di tanah air ini berakhir?
            Tidak mudah untuk menjawab pertanyaan tersebut. Kekerasan dimana pun tidak pernah berdiri sendiri. Kekerasan senantiasa berada dalam ruang dan waktu. Bahkan agama yang dipandang sebagai ruang bagi moralitas juga tak luput menjadi ladang kekerasan. Dengan mengatasnamakan agama dan moralitas orang saling baku pukul dan merusak.
Pertandingan sepakbola yang menjunjung tinggi sportifitas kerap diwarnai kerusuhan antarsuporter. Kampus dan sekolah yang menjadi simbol kearifan dan kecerdasan juga bisa menjadi  lahan tawuran.
            Keresahan dan Kerusuhan
            Kerusuhan  biasanya berawal dari keresahan dalam kehidupan masyarakat. Berbeda dengan kerusuhan yang bersifat manifes dan aktual, keresahan lebih bersifat laten dan potensial. Keresahan ibarat dahan kering di musim kemarau. Mudah terbakar oleh percikan api. Sumber keresahan bisa bermacam-macam yang bermuara pada konflik informal serta belum mendapat kanalisasi.
            Melonjaknya harga kebutuhan pokok akibat kenaikan harga bahan bakar minyak  ( BBM ) bisa menjadi sumber keresahan. Kebijakan pemerintah daerah yang antirakyat, seperti penggusuran pedagang kaki lima juga dapat menjadi sumber keresahan. Begitu pun perbedaan cara pandang masyarakat tentang masalah sosial, politik, ekonomi, dan agama dapat menjadi sumber keresahan.
            Begitu banyak sumber keresahan di masyarakat, begitu banyak pula saluran atau kanal yang diperlukan untuk mengalirkan keresahan tersebut. Sayangnya, tidak semua sumber keresahan dapat dikanalisasi dengan baik, sehingga menimbulkan tindakan kontraproduktif. Kerusuhan dan tindak anarkhis yang terjadi di masyarakat adalah akibat keresahan yang menumpuk dan terlalu lama dibiarkan. Dengan sentuhan sedikit isu, keresahan itu dalam sekejap berubah menjadi kerusuhan.
            Acapkali sebuah kerusuhan dituding ditunggangi oleh pihak ketiga. Biasanya yang disebut pihak ketiga adalah orang atau kelompok yang dianggap mempunyai kepentingan tertentu di balik kerusuhan. Tentu bisa dimaklumi, kerusuhan senantiasa terjadi setelah, pada saat, atau menjelang momen tertentu, seperti pemilukada atau kenaikan harga BBM.
            Keresahan yang menjelma kerusuhan selalu mengakibatkan kerusakan. Memperbaiki kerusakan akibat kerusuhan amat mudah dilakukan. Bangunan yang rusak dapat segera dibangun kembali. Korban luka-luka juga bisa segera diobati. Menemukan dan menangkap pelaku kerusuhan tidaklah sulit. Persoalan paling rumit justru mencari dan menemukan sumber keresahan yang dapat memicu kerusuhan.
            Upaya yang biasa dilakukan pemerintah ketika terjadi kerusuhan masih sebatas memperbaiki kerusakan dan menindak pelaku kerusuhan. Andai pun sulit menemukan pelaku, maka elit politik dan aktor intelektual sering diposisikan sebagai kambing hitam. Hal itu bisa dimaklumi, setiap kerusuhan senantiasa melibatkan mobilisasi massa. Hanya orang-orang atau kelompok tertentu saja yang memiliki kognisi, informasi, dan logistik memadai yang akan mampu memobilisasi massa dalam jumlah besar.
            Benang Kusut  
            Mengurai kerusuhan di tanah air sejatinya bagai mengurai benang kusut. Tampaknya mudah, namun rumit bila tidak ditemukan simpul keruwetan. Kerusuhan dan konflik di Indonesia tidak jauh dari dimensi sosial politik dan ekonomi. Ada kekuasaan yang hendak diperebutkan dan dipertahankan. Ada sumber-sumber ekonomi yang perlu dibagi untuk banyak orang, tetapi dimonopoli segelintir orang.
            Aspek sosial politik masih dipandang sebagai ruang bagi elit saja. Sedang rakyat tetap menjadi hamba sahaya para elit. Kekuasaan yang dipegang elit bukan untuk membuat kehidupan rakyat menjadi lebih baik, namun untuk membangun imperium birokrasi yang sarat korupsi, kolusi, dan nepotisme ( KKN ). Rakyat yang tidak sabar menghadapi penguasa tiranik seperti itu akan melakukan perlawanan dalam bentuk kerusuhan.
            Sumber-sumber ekonomi yang semestinya bisa dinikmati rakyat banyak hanya menjadi kapling sedikit orang. Rakyat yang terhimpit oleh kesulitan ekonomi dihibur oleh proyek belas kasihan pemerintah lewat bantuan langsung tunai ( BLT ). Proyek semacam itu pun tidak mudah untuk lolos dari perdebatan di DPR. Rakyat menjadi bingung dan sulit membedakan antara bantuan, niat baik, belas kasihan, tebar pesona, dan konflik elit. Jika rakyat menumpahkan keresahan dalam kerusuhan, maka elit politik ingin tampak lebih santun. Keresahan di tingkat elit diaktualisasikan dalam bentuk interpelasi atau impeachment.
            Dalam kondisi resah diperlukan pesan-pesan komunikasi yang menyejukan ( stroking message ) bagi rakyat. Pesan itu bisa diperoleh dari para ulama, tokoh agama, atau cendekiawan. Mereka dipandang sebagai elemen pejaga roh kehidupan rakyat, dan bebas dari kepentingan politik dan ekonomi.
            Sayangnya elemen tersebut saat ini banyak yang tidak lagi setia menjaga roh kehidupan. Mereka bertebaran di DPR, di departemen, di perusahaan, dan di partai politik. Sehingga pesan-pesan komunikasi yang disampaikan tidak lagi menyejukan. Ucapan dan tindakan mereka kadang justru meresahkan dan sarat kepentingan pribadi dan kelompoknya.
            Rakyat yang senantiasa resah menanggung beban hidup akan mudah menjadi massa periferal. Massa seperti ini selalu gundah dan bingung, mudah dimobilisasi untuk kepentingan elit. Ketika para tokoh, ulama, cendekiawan tidak lagi mampu memberi kesejukan, dan para elit asyik dengan perebutan kekuasaan, kepada siapa dan dengan cara apa lagi rakyat berharap atasi keresahan?
isi tulisan ini pernah dimuat dengan judul: Mengurai Simpul Kerusuhan, Suara Merdeka, Senin 07 Mei 2012
Iklan

Diterbitkan oleh

mbahchus

Drs. Chusmeru, M.Si (Jakarta, 29 Desember 1959). Akademisi yang senantiasa peduli pada situasi kekinian; tansah sumarah lembah manah dan aktif menulis di berbagai media massa, menjadi pembicara dan sumber berita aktual khususnya seputar isu sosial, politik, kebudayaan, dan pariwisata.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s