Filosofi Lir-Ilir dalam Kepemimpinan Pancasila

NDALANG2

Lir – ilir lir – ilir tandure wus sumilir

Tak ijo royo – royo tak sengguk temanten anyar

Bocah angon bocah angon penekna blimbing kuwi

Lunyu – lunyu penekna kanggo mbasuh dodotira

Dodotira dodotira kumitir bedhahing pinggir

Domdomana jlumutana kanggo seba mengko sore

Mumpung jembar kalangane

Mumpung padhang rembulane

Ya suraka surak iyo.

 

Tembang lir – ilir tersebut di atas merupakan karya fenomenal pujangga Jawa masa lalu yang hingga kini masih tetap aktual. Jika dicermati, syair atau tembang yang ditulis pujangga tersebut sarat dengan nilai – nilai seni, spiritual – religius. Sebuah gambaran kehidupan masyarakat tanah Jawa dan Nusantara dahulu yang gemah ripah loh jinawi.

Pemaknaan terhadap tembang itu sampai saat ini masih sering sebatas pada ruang religius atau spiritual keagamaan (Islam ). Padahal bila disimak lebih dalam, secara semiotik tembang itu bisa dimaknai dalam konteks sosial politik. Bahkan, disadari atau tidak, syair lagu tersebut mengandung konsep kepemimpinan ( Wawan Susetya, 2007 : 104 ).

Ikon dalam lagu tersebut adalah bocah angon ( penggembala ), yang dalam konteks kekinian bisa diartikan sebagai tokoh, pemimpin, kyai, ulama, cendekiawan, politisi, dan sebagainya. Bocah angon memiliki kesadaran religius dan spiritual yang tinggi, sehingga apa yang ia lakukan bukan semata untuk kepentingan pribadi, namun untuk kemaslahatan seluruh umat manusia.

Konsepsi bocah angon dalam tembang itu juga bisa dimaknai, bahwa seorang pemimpin haruslah berada di belakang rakyat yang dipimpinnya, sebagaimana seorang gembala berada di belakang barisan ternaknya. Berada di belakang bagi seorang pemimpin bukan lantas meninggalkan atau menelantarkan rakyatnya, namun selalu memberi arah yang jelas bagi masa depan rakyatnya. Bocah angon haruslah mampu menjadi pemimpin yang tut wuri handayani, yaitu pemimpin yang dapat ngemong ( mengayomi ) rakyatnya.

Pemimpin yang seperti itu dipandang mampu menyelami kehidupan rakyatnya secara mendalam ( nyegara, nyamodra ), mampu berempati atas permasalahan yang dihadapi rakyatnya. Pijakan yang dipegang teguh pemimpin adalah Kemanusiaan yang Adil dan Beradab serta Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia, tanpa membedakan suku, agama, ras, maupun etnis. Seluruh komponen rakyat akan dirangkulnya.

Kepemimpinan Pancasila

Berada di belakang bagi seorang pemimpin bukan berarti tinggal glanggang, colong playu; lari dari tanggung jawab ketika negara dalam bahaya dan rakyatnya sedang ditimpa masalah atau bencana. Pada saat seperti itu, dia justru harus berada di barisan paling depan, memberi komando dan tauladan bagi rakyatnya untuk mengatasi masalah. Apalagi terkandung amanat dalam tembang Lir – Ilir, yaitu penekna blimbing kuwi ( panjatlah pohon belimbing itu ). Sebuah amanat untuk menyelesaikan masalah dengan mendapatkan buah belimbing yang memiliki lima gigir, yang dalam konteks agama ( Islam ) berarti Lima Rukun Islam. Sedangkan dalam konteks politik saat ini bisa dimaknai sebagai Lima Dasar Negara, Pancasila.

Begitu penting buah belimbing dalam mengatasi masalah, sehingga syair berikut meminta para pemimpin untuk lunyu – lunyu penekna kanggo mbasuh dodotira ( meskipun licin, panjatlah untuk membasuh pakaian kita ). Seorang pemimpin haruslah bekerja keras dan optimistik untuk mengatasi masalah besar negara dan bangsa ini dengan landasan Pancasila. Tidak bersikap loyo, pesimis, dan banyak mengeluh.

Mengapa Pancasila begitu penting bagi seorang pemimpin? Sesuai pesan tembang Lir – Ilir, Pancasila sebagai pedoman hidup dan falsafah bangsa sangat diperlukan saat ini, karena dodotira kumitir bedhahing pinggir ( pakaian kita telah koyak ). Pancasila telah terkoyak oleh perilaku anak bangsa yang ingkar dan menodai nilai – nilai yang dikandungnya.

Kehidupan beragama yang mestinya selaras dengan sila Ketuhanan Yang Maha Esa telah dinodai dengan konflik antar dan interagama serta tindakan teror dengan mengatasnamakan agama. Persatuan Indonesia terkoyak oleh konflik yang bernuansa SARA maupun politik, serta tindakan anarkhis yang mengatasnamakan kelompok. Demokrasi yang dijiwai Kerakayatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan telah melenceng dari hakikatnya, karena kehidupan berpolitik penuh dengan intrik, politik uang, dan orientasi kekuasaan yang berlebihan. Sedangkan Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia masih belum tercapai secara merata, karena secara kualitatif dan kuantitatif masih terdapat kesenjangan kemakmuran di masyarakat. Jumlah masyarakat miskin masih banyak, pengangguran setiap tahun bertambah,  pemerataan pembangunan di daerah juga masih belum dirasakan. Korupsi yang merajalela, penyalahgunaan narkotika yang terus meningkat, serta ancaman terorisme masih menjadi masalah potensial yang mengoyak Pancasila.

Oleh karena itulah, perlu segera dondomana jlumutana kanggo seba mengko sore ( dijahit dan dirajut untuk mengahadap sore hari ). Para pemimpin mendapat amanah untuk segera merajut kembali Pancasila yang telah terkoyak itu. Pancasila perlu kembali diaktualisasi dan direalisasikan dalam seluruh aspek kehidupan berbangsa dan bernegara. Masa depan rakyat Indonesia akan ditentukan oleh sejauh mana nilai – nilai yang terkandung dalam Pancasila menjadi dasar dalam setiap pengambilan kebijakan pemimpin.

Bukan Pemadam Kebakaran

Tembang Lir – Ilir memang sarat dengan nilai – nilai filosofis Kejawen dan Keindonesiaan. Tampak bahwa para pujangga kita masa lalu sangat futuristik dan visioner. Tembang itu bukan hanya aktual di jamannya, namun juga realistik di masa kini dan akan datang. Sama seperti ajaran Ki Hajar Dewantara yang selalu kontekstual di segala jaman.

Dalam khasanah Kejawen, Ki Hajar Dewantara secara simbolik mengungkap tentang kepemimpinan, yaitu ing ngarsa sung tuladha; di depan memberikan teladan, dan ing madya mangun karsa; di tengah memberikan idea tau gagasan agar keadaan menjadi lebih maju. ( Wawan Susetya, 2007: 93 ) Konteks ing ngarsa sung tuladha mengarah pada peranan pemimpin yang diharapkan mampu memberikan tauladan kepada rakyatnya. Dalam kondisi negara sedang krisis ekonomi seperti saat ini, misalnya, para pemimpin seyogyanya tidak menghambur – hamburkan uang negara. Para pemimpin seperti presiden, menteri, atau pun anggota DPR hendaknya dapat memberi contoh hidup sederhana, bukan justru menuntut kenaikan gaji atau fasilitas mewah lainnya.

Ing madya mangun karsa menggambarkan para pejabat, ilmuwan, pengusaha, tokoh masyarakat, atau kelas menengah lain untuk senantiasa menyumbangkan gagasan inovatif bagi kemajuan bangsa. Bagaimana pun kepentingan rakyat haruslah di atas segalanya. Sehingga akan sangat menyakitkan bagi rakyat bila di tengah keadaan sosial, politik, dan ekonomi yang karut – marut mereka justru memanfaatkannya untuk kepentingan pribadi atau kelompoknya.

Menyelesaikan masalah bangsa dan negara memang tidak boleh grasa – grusu, namun juga jangan terlalu lamban. Syair tembang Lir – ilir mengatakan mumpung jembar kalangane mumpung padhang rembulane. Selagi kondisi sosial politik masih stabil dan kondusif, ketika keadaan masih terkendali; maka tidak ada alasan bagi para pemimpin untuk secepatnya mengatasi masalah. Para pemimpin bukanlah pemadam kebakaran, yang baru akan bertindak saat api sudah menyala. Setiap pemimpin diharapkan mencermati berbagai persoalan yang muncul, memberi kesejukan kepada rakyatnya, menjadi tauladan dalam kehidupan, dan secara sigap mencari jalan keluar pemecahan masalah. Bukan saling menyalahkan saat terjadi krisis; atau bahkan saling menjatuhkan.

Tembang Lir – ilir jika dibaca dan dilantunkan sepintas memang hanyalah sebuah lagu yang enak didengar telinga. Namun jika diresapi, dihayati, dan diejawantahkan, maka tembang itu dapat menjadi pedoman dan etika bagi pemimpin dalam kehidupan berpolitik, berbangsa, dan bernegara. Para pemimpin yang mampu memahami filosofi Lir – ilir niscaya dapat memberikan rakyatnya kehidupan yang lebih baik, keadaan dimana rakyat dapat secara bersama ya suraka surak iyo. Mereka bersuka cita karena pemimpin mampu membangun masyarakat yang tata titi tentrem kerta raharja, gemah ripah loh jinawi, mampu memberikan keadilan sosial bagi seluruh rakyatnya.

Tulisan ini pernah dimuat di: Majalah Craddha Bali, 67 / XV, 2015

Iklan

Diterbitkan oleh

mbahchus

Drs. Chusmeru, M.Si (Jakarta, 29 Desember 1959). Akademisi yang senantiasa peduli pada situasi kekinian; tansah sumarah lembah manah dan aktif menulis di berbagai media massa, menjadi pembicara dan sumber berita aktual khususnya seputar isu sosial, politik, kebudayaan, dan pariwisata.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s